
Waktu terus berlalu, hari yang ditunggu Keanu telah tiba, hari ini adalah hari ulang tahun Indira. Ia sudah menyiapkan kado yang spesial untuk gadis itu.
"Sudah tampan, Kak," celetuk Bian melewati tubuh tegap tinggi sang calon adik ipar.
Keanu menatap Bian dari pantulan cermin. Bisa-bisanya pria itu masih memanggilnya dengan sebutan kak. Meskipun umurnya lebih tua, tetap saja sekarang ia adalah calon adik ipar dan sepantasnya memanggil nama.
"Ini apa isinya?" Bian membolak-balikkan kotak kado yang ada di ranjang Keanu.
Keanu segera berebutnya lalu meletakkan di nakas, menatap Bian dengan tatapan sinis.
"Jangan kepo," jemput Hilya sana, apa kamu tidak ingin berdua-duaan dengannya?"
"Pingin sih, tapi aku belum berani nikah, jadi untuk sementara aku nggak mau mendekati dia," ucap Bian malas. Hatinya kacau jika mengingat tentang hubungannya yang seharusnya sudah mulai serius.
Keanu duduk di samping Bian. Menepuk bahu pria itu dengan lembut. Ia tahu Apa yang dipikirkan saat ini. Beberapa kali Keanu mendengar penjelasan dari Yudha. Namun, ia harus mencari cara untuk membuat pria itu percaya diri.
"Apa kamu mau bantuanku?"
Bian menghempaskan tubuhnya di ranjang. Menggunakan kedua tangan sebagai bantal. Matanya menatap ke arah langit-langit kamar Keanu yang penuh dengan gambar naga.
"Apa?" tanya Bian lirih. Ragu untuk menerima bantuan orang lain. Sebab, ia ingin mandiri tanpa bantuan dari siapapun, termasuk dari Yudha. Hidup tanpa ayah kandung membuat Bian lebih mandiri.
"Aku punya cabang perusahaan, kalau kamu mau ambil saja."
"Nggak!" tolak Bian tanpa pikir panjang. Sebagai seorang laki-laki ia tak ingin berteduh di bawah orang lain. Apalagi hubungan Keanu dan Indira baru sebatas kekasih, dan ia tak mau dianggap matre.
"Aku nggak butuh bantuanmu."
Bian meninggalkan Keanu.
Dor
Baru saja menyentuh gagang pintu, Suara tembakan menggema dari arah belakang. Bian terpaku. Kedua tangannya diangkat dengan tubuh yang menempel di pintu yang tertutup rapat.
Aku masih hidup, kan?
Tangan Bian turun. Meraba dadanya yang masih terasa berdetak lalu mencubit pipinya.
"Kamu mau membunuh kakak iparmu?" ucap Bian tanpa menoleh, ia membayangkan jika saat ini Keanu masih memegang pistol dan menodongkan ke arahnya.
"Nggak!" jawab keanu. Suara dentuman sepatu dan lantai semakin mendekat. Hingga hembusan napas terasa menerpa daun telinga Bian.
"Aku cuma memperingatkan, kalau aku mantan mafia. Dan kamu tidak boleh membantah apapun ucapan ku." Suara itu sangat pelan namun terdengar mengerikan sehingga membuat Bian mengangguk seketika.
Keanu menyodorkan map yang berwarna hijau di depan Bian.
"Apa ini?" tanya Bian membalikkan tubuhnya, hingga ia dan Keanu saling tatap.
"Baca dan tanda tangani, atau hari ini kamu mati di tanganku."
Keanu mencium ujung pistol lalu tertawa penuh kemenangan. Meletakkan benda itu lagi ke dalam laci.
Gila, kalau kayak gini terus menerus aku bakalan mati sebelum kawin. Apes banget, punya calon adik ipar mantan mafia.
Bian langsung tanda tangan seperti permintaan Keanu. Lantas, ia menyerahkan dokumen itu pada Keanu.
"Mulai besok kamu bisa bekerja. Nanti biar aku yang bilang pada Yudha."
"Berarti, mulai besok kamu juga harus membuang semua senjata mu," pinta Bian menunjuk beberapa tombak yang menempel di dinding kamar Keanu.
"Cuma bercanda," cicit Bian tersenyum. Ia tak ingin mati sia-sia di tangan Keanu.
Setelah melewati berbagai drama, keduanya keluar dari kamar Keanu. Bian sengaja datang ke rumah pria itu karena perintah dari Indira. Hingga ia terperangkap dengan mantan mafia yang membuatnya jantungan.
Suasana gedung sudah semakin ramai. Tamu undangan berdatangan memenuhi area pesta, termasuk pak Juli. Meskipun sudah bercerai dengan Sovia, tetap saja ia datang untuk menemani putri tercinta.
Wajah Indira tampak cemas. Gadis yang memakai gaun berwarna merah muda itu mondar-mandir di depan pintu. Matanya tak teralihkan dari gerbang.
"Kamu nungguin siapa, Ra?" tanya Asya, salah satu teman dekat Indira.
Nggak mungkin aku bilang pada Asya, pasti nanti dia bilang ke yang lain.
"Nungguin kak Bian," jawab Indira singkat.
Sovia menghampiri Indira. Menatap jam yang melingkar di tangannya. "Acaranya sudah mau mulai, Ra. Mendingan kamu masuk dulu."
Kak keanu ke mana sih, masa iya dia harus terlambat.
Indira semakin jengkel. Ia menghentak-hentakkan kakinya menunjukkan kekesalan yang menggebu. Menatap layar ponsel di tangannya lalu mengikuti langkah mamanya ke dalam.
Di antara sekian tamu, nyatanya tak ada satupun yang membuat Indira semangat, bahkan wajahnya semakin lesu saat berada di depan kue.
"Ra, ini untuk kamu." Ferry memberikan sebuah kotak berukuran besar itu pada Indira.
"Makasih," jawab Indira singkat. Matanya terus mengabsen setiap tamu yang berhamburan mencari tempat. Berharap seseorang yang ia cari itu datang dan berdiri di sisinya.
Dasar pembohong, katanya mau berangkat lebih awal, tapi apa? Bahkan acara sudah dimulai pun dia belum datang.
Indira menggerutu dalam hati, tangannya bertepuk mengikuti alunan lagu ulang tahun yang terdengar riuh.
"Kamu lihatin apa, Ra?" tanya pak Juli mengikuti mata Indira memandang.
Indira menggeleng, meskipun ia sudah mempunyai perasaan pada Keanu, tetap saja masih malu mengakuinya di depan orang banyak, untuk saat ini hanya dirinya yang tahu.
"Tapi kamu seperti memikirkan sesuatu. Apa masih ada tamu yang belum datang?" tanya pak Juli lagi memastikan.
"Nggak ada, Yah. Aku cuma nungguin paket," jawab Indira asal. Akhirnya ia meniup lilin tanpa kehadiran orang yang dari tadi ditunggu.
Rasa kecewa memenuhi dada Indira saat ia memotong kue untuk kedua orang tuanya. Keanu benar-benar membuatnya sedih di hari yang seharusnya bahagia.
Ucapan selamat bertubi-tubi Indira terima dari mereka yang kini menikmati pesta. Ia juga berpose dengan teman sekolahnya. Meskipun hatinya gundah, bibirnya tetap tersenyum demi menyambut kehadiran mereka.
"Indira," panggil Bian dari arah depan. Seketika itu Indira menoleh ke arah sang kakak yang melambaikan tangan ke arahnya.
Kedua tangan Indira mengangkat gaun nya lalu berlari menghampiri Bian.
Pelukan hangat Indira terima sebagai bentuk persaudaraan. Meskipun tak seayah, Bian sangat menyayangi Indira dan tak pernah mempermasalahkan status mereka.
"Selamat ulang tahun adikku tercinta. Tahun ini kakak punya hadiah yang spesial untuk kamu," ucap Bian menunjuk ke arah pintu depan.
"Apa?" tanya Indira penasaran.
Bian menutup mata Indira. Menggiring sang adik menuju sebuah ruangan yang ada di sisi tempat pesta.
"Satu, dua, tiga." Bian membuka mata Indira kembali.
Mata Indira langsung terpana melihat piano yang ada di depannya. Itu adalah piano yang pernah ia impikan, dan kali ini terwujud.