
Hanya butuh sekian menit, akhirnya Andreas dan Gita resmi menikah. Mereka sudah sah menjadi suami istri, baik menurut agama dan negara. Tak ada lagi kata aku dan kamu, sekarang mereka menjadi kita. Mengikat satu sama lain dalam sebuah hubungan sakral. Mengikuti sunnah rasul untuk membina rumah tangga yang lebih harmonis.
Menjadi Raja dan ratu sehari adalah impian Andreas dan Gita sejak lama. Namun, karena musibah yang selalu menimpa keluarga Yudha membuat mereka harus bersabar. Kini mereka tiba di puncak bahagia setelah menjalani ijab qabul.
Gita terlihat cantik dan anggun. Begitu juga dengan Andreas yang nampak tampan bak pangeran dari negeri sakura. Layaknya pengantin pada umumnya, senyum terus merekah menghiasi bibir sang pengantin saat bersalaman dengan tamu.
"Andre, pokoknya kamu harus cepat-cepat bikinin ibu cucu," bisik Bu Mila di telinga Andreas. Pria itu hanya mengangguk tanpa suara. Melirik Gita yang sibuk berbicara dengan rekan kerjanya.
Ia pun sama seperti ibu mertuanya. Ingin cepat memiliki momongan yang lebih mengeratkan hubungannya.
Ponsel yang ada di saku celana Andreas berbunyi. Di hari pernikahan pun ia tak akan meninggalkan benda pipih itu, takut Yudha menghubungi nya dan membicarakan hal yang penting.
"Sayang, aku ke sana sebentar, pak Yudha nelpon." Andreas menunjuk ke arah pintu.
Gita mengangguk mengizinkan. Bagaimanapun juga suaminya itu tak akan bisa lepas dari pekerjaan.
Andreas sedikit menjauh dari pelaminan, ia mencari tempat yang sedikit sepi untuk bisa leluasa berbicara dengan bosnya itu.
"Ada apa, Pak?" tanya Andreas.
"Nggak ada apa-apa, aku cuma mau memastikan kalau acaranya lancar."
"Iya, Pak. Semua lancar dan sebentar lagi pesta selesai, apa bapak membutuhkan saya?"
Kalau kamu bertanya seperti itu nggak akan ada habisnya. Sekarang saja aku butuh kamu.
"Nggak, nikmati saja masa pengantin barumu, jangan kerja dulu, Kasihan Gita."
Jika Andreas sedikit gugup karena terus mendapatkan panggilan dari orang-orang yang ingin mengucapkan selamat, Yudha malah sebaliknya, ia santai dan memeluk Lintang. Seperti tanpa dosa sudah mengganggu pengantin itu.
"Ya sudah lanjutkan saja, aku mau tidur."
Andreas memasukkan ponselnya lagi ke dalam saku.
"Nggak mungkin kan nanti malam pak Yudha juga akan mengganggu ku." Andreas berbicara sendiri. Takut jika itu terjadi disaat dirinya memulai ritual penting.
Di antara tamu yang sedang berbahagia menikmati pesta pernikahan Andreas dan Gita, ada yang lebih berbunga-bunga. Mereka adalah Keanu dan Indira. Duduk saling bersebelahan menatap dua pengantin yang kembali bersanding membuat mantan mafia itu iri. Namun, mengingat Indira yang belum cukup umur membuatnya harus dilapangkan kesabarannya.
"Kamu mau makan?" tanya Keanu pada Indira.
Indira menggeleng. Sudah hampir seminggu ia menjalani perawatan pada tubuhnya, dan tidak ingin makan sembarangan. Hadirnya Keanu membuat gadis itu lebih sensitif pada dirinya sendiri, bahkan ia mengganti semua produk make up nya untuk tampil lebih cantik saat di depan sang pacar. Maklum, usianya yang masih sangat muda membuat Indira sering tak percaya diri. Takut Keanu berpaling darinya dan memilih wanita yang lebih dewasa.
"Kenapa, kata tante Sovia tadi kamu belum makan, kan? Nanti perut kamu sakit," bujuk Keanu menyodorkan sate daging di depan Indira.
"Kakak, aku nggak makan makanan yang berlemak, takut gendut."
Keanu tersedak daging yang hampir masuk ke kerongkongan. Selama ini ia tak pernah peduli dengan seorang wanita dan apapun yang menyangkutnya hingga rasanya ingin tertawa keras mendengar penuturan Indira.
Indira menyambar segelas air putih lalu membantu Keanu minum.
"Kakak nggak papa?" tanya Indira mengusap punggung Keanu.
Keduanya saling tatap. Mata Keanu menelusuri setiap jengkal wajah Indira yang sangat imut. Tidak ada yang salah dari semuanya. Gadis itu sangat cantik dan sempurna hingga tak perlu berlebihan.
"Kamu itu terlalu kecil, Ra. Jangan diet, nanti kurus," ucap Keanu memberi saran.
"Apa kakak suka gadis yang berisi?" tanya Indira polos. Ia benar-benar ingin tahu wanita kriteria Keanu.
"Jadi kakak menerima aku apa adanya?" Indira memastikan.
Keanu mengangguk. Menarik kursi yang diduduki Indira hingga mereka tak ada jarak.
Setelah hampir lima jam, akhirnya pesta usai. Semua tamu berhamburan keluar meninggalkan tempat acara. Hanya tinggal beberapa tamu yang masih ada di tempat. Mereka keluarga jauh Bu Mila dan juga rekan bisnis Andreas.
"Andre, kamu istirahat saja, biar om yang menemani mereka," tawar pak Radit melihat wajah lelah sang asisten.
"Baik, Om."
Andreas mendekati Gita yang mematung di samping pintu lift. Meraih tangan wanita itu dan saling melempar senyum manis. Satu tangan Andreas menekan tombol lift.
Candu-candu asmara mulai terlihat saat keduanya saling mencurahkan isi hati lewat bahasa kalbu. Penantian panjang mereka berbuah manis. Kesabaran nya kini mendapatkan imbalan yang jauh lebih indah daripada impiannya.
Sedikitpun Andreas tak melepaskan jemari Gita. Seolah mengutarakan jika ia tak akan melepaskan wanita itu sedetik pun.
''Apa hari ini kamu bahagia?'' tanya Andreas menatap ke samping.
Aaawww
Tiba-tiba Andreas meringis bersamaan dengan benda jatuh, menggenggam bagian bawahnya yang terasa panas.
"Kamu nggak apa-apa, Mas?" Gita ikut panik dan membungkuk melihat sesuatu yang berada di genggaman sang suami.
Ternyata perjalanan sang pengantin tak semulus yang diinginkan. Baru beberapa langkah setelah keluar dari lift, Andreas menabrak pelayan yang membawa kopi panas.
"Ma… maaf, Pak."
Tangan pelayan itu gemetar hingga cangkir yang di atasnya ikut bergeser.
Ingin memaki, namun Andreas tak mungkin melakukan hal yang konyol. Pasti harga dirinya akan terjatuh dengan sikapnya.
"Pergi saja, Mbak. Suami saya yang kurang hati-hati."
Pelayan itu mengangguk lalu berlari kecil menuju belakang.
Andreas dan Gita kembali melanjutkan langkahnya.
"Lain kali kalau jalan pakai kaki dan juga mata, Mas. Lihat saja, burungmu tersiram air panas" Gita menyungutkan kepalanya ke area sensitif milik suaminya.
"Nggak papa, yang penting dia akan tetap beroperasi."
Andreas menaik turunkan alisnya. Menggoda Gita yang nampak bersemu.
Setibanya di kamar, Andreas langsung membuka jas yang membalut tubuhnya hampir seharian penuh. Ia berlari ke kamar mandi demi menerima senjatanya yang masih terasa panas.
"Kamu nggak boleh lemah, nanti malam harus siap beraksi."
Setelah nampak baik-baik saja, Andreas kembali keluar. Pemandangan yang menyilaukan mata tersaji. Gita melepas gaunnya di depan lemari.
Andreas menelan ludahnya dengan susah payah. Seperti ucapannya, burung beo mulai masuk perangkap saat melihat umpan di depannya.
Tanpa aba-aba, Andreas langsung mendekap tubuh Gita dari belakang hingga membuat wanita itu terlonjak kaget. Namun, tetap menyambut suaminya dengan kedua tangan.