
Febby mengambilkan makanan untuk semuanya, terkecuali Marcel dan Dea. Febby sengaja tidak mengambilkan untuk mereka.
" Loh kok aku enggak sekalian di ambilin sih? " ucap Marcel dengan nada yang dibuat buat.
" Kau minta saja sama sebelahmu, kan nganggur tuh, " jawab Tuan Angga nyeletuk sambil melirik kearah Dea dengan gelak tawanya. Semua yang mendengar ucapan Tuan Angga langsung tertawa.
Wajah mereka berdua langsung memerah karena malu. " Kan punya tangan,ambil sendiri napa? manja banget. Makanya nikah kalau mau ada yang ngladenin, " ucap Dea ketus sambil tetap mengambilkan nasi untuk Marcel.
" Aku kan lagi nungguin kamu lulus sekolah dulu. Aku nunggu siapnya kamu aja, " jawab Marcel sambil menggoda Dea.
" Idih ... aku mah ogah nikah sama orang kaya kamu, bukan tipeku banget, " ucap Dea sinis berusaha menguasai dirinya.
" Kalau kita berjodoh bagaimana? kelak kamu pasti akan menyukaiku kan? " Marcel terus menggoda Dea, membuat Dea semakin malu karena ucapan Marcel.
Semua yang ada di meja makan hanya tertawa melihat mereka ribut, sampe akhirnya Tuan Angga yang menengahi.
" Sudah sudah jangan ribut disini, aku mau makan. Jangan merusak moodku yang lagi bagus ini. "
Dea dan Marcel langsung diam tanpa menjawab. Mereka lalu makan malam bersama sambil terus bercanda. Hanya ada kebahagiaan saat mereka makan malam, layaknya sebuah keluarga besar yang utuh dan bahagia.
Setelah selesai makan, Mama dan Papa kembali keruang keluarga, disusul dengan Febby dan Tuan Angga. Dea lebih memilih kembali ke kamarnya begitupun dengan Marcel.
Namun saat Dea sudah kembali ke dalam kamar tiba tiba lampunya padam. Dea langsung menjerit ketakutan. Marcel yang belum sampai ke kamarnya langsung berbalik mencari asal suara itu. Begitupun dengan Febby dia spontan langsung memeluk Tuan Angga karena Febby takut gelap. Papanya langsung menyalakan senter hp dan pergi mengambil lilin.
" Ini Tuan lilinnya, maaf menunggu lama, " ucap pelayan yang datang sambil membawa lilin saat Tuan Wijaya hendak berdiri mengambil lilin. Febby langsung melepaskan pelukannya saat cahaya lilin sudah mulai menerangi ruangan.
Tapi raut wajah Tuan Angga seperti tidak suka, dia lebih suka gelap karena Febby akan terus memeluknya.
Disisi lain Marcel yang mencari asal suara jeritan itu di kamar Dea langsung masuk ke dalam kamar Dea tanpa permisi.
" Ada apa sih listrik padam aja heboh banget, " ucap Marcel seraya masuk sambil menerangi ruangan dengan senter yang ada di hpnya.
Dea langsung memeluk Marcel karena ketakutan. " Aku takut gelap, aku paling takut sama gelap, " ucap Dea menangis sambil tetap memeluk Marcel.
" Hey kau nangis ya? " tanya Marcel kaget karena Dea begitu takut gelap sampai nangis terisak. Dea tidak menjawab, dia masih tetap menangis. Tubuhnya bergemetar karena terlalu takut.
" Jangan jangan kau ngompol lagi karena terlalu takut, ha ha ha, " ucap Marcel menggoda Dea berusaha mencairkan suasana.
Dea langsung melepaskan pelukannya dan langsung mencubit perut Marcel. Perasaan takutnya seketika hilang saat mendengar ucapan Marcel.
" Aku memang takut gelap tapi aku mana mungkin ngompol, " jawab Dea ketus sambil terus mencubit perut Marcel. Marcel langsung tertawa menahan geli dan sakit.
" Udah udah, geli tau. Cubitanmu bukannya sakit malah buat aku menjadi geli, " Marcel terkekeh sambil berusaha menghindari cubitan Dea. Namun Dea tidak memperdulikannya dan masih saja terus mencubit Marcel, mereka tertawa bersama.
Dea semakin malu, wajahnya memerah karena berhadapan dengan Marcel sangat dekat. Jantungnya berdegup kencang.
" Kau ngapain, lepasin! " ucap Dea ketus namun tetap membiarkan Marcel memeluknya.
Marcel melepaskan pelukannya, Dea spontan langsung berdiri. Wajahnya semakin memerah seperti udang rebus. Melihat Dea yang salah tingkah, Marcel langsung tertawa keras.
" Ha ha ha ... hey kenapa dengan wajahmu? mengapa wajahmu merah gitu? " ucap Marcel terus menggoda Dea.
" Aa ... apa, mana enggak kok. Lagian kamu suka banget cari cari kesempatan, sana ambilin lilin, " ucap Dea ketus sambil memalingkan wajahnya.
" Memangnya kau berani aku tinggal disini sendiri? gelap banget loh, " Marcel mencoba menakuti Dea.
Tiba tiba Tuan Angga dan Febby datang sambil membawa senter. " Hayo ketahuan! kalian lagi ngapain berduaan dalam kamar, cari kesempatan ya?" suara Tuan Angga mengagetkan mereka berdua.
Mereka berdua langsung salah tingkah seperti maling yang ketangkap basah.
" Aku tadi kesini karena dengar teriakan dia, " Marcel menjawab dengan gelagapan, disertai dengan anggukan dari Dea.
" Hahaha mana ada maling ngaku, penjara penuh, " ejek Tuan Angga sembari melingkarkan lengannya diperut Febby.
" Ih apaan sih, lagian siapa juga yang mau sama dia, aku mah ogah. Lagian ya kakak ipar aku kasih tau, aku tuh udah punya pacar tau, " celetuk Febby tak mau kalah.
Seketika wajah Marcel yang awalnya gembira berubah menjadi dingin. Ekspresinya tidak bisa ditebak, namun dia tetap berusaha bersikap biasa di depan Dea.
" Oh ya? kalau sudah punya pacar ngapain gak dikenalin sama kita. Pasti pacar kamu jelek ya makanya gak dikenalin sama kita, " ucap Marcel dingin lalu pergi keluar kamar meninggalkan mereka bertiga di kamar Dea.
Tuan Angga dan Febby hanya tertawa melihat tingkah Marcel yang cemburu, " dia cemburu tuh, gara gara kamu sih. Memangnya benar kamu udah punya pacar? " ucap Tuan Angga penuh selidik sambil tertawa terbahak bahak.
" Masa sih dia cemburu. Kakak ipar ada ada saja, enggak kok mana ada aku punya pacar tadi kan cuma bercanda. Lagian sih Kakak ipar tadi godain aku mulu, " jawab Febby kesal sambil manyunin bibirnya.
" Kalau nggak percaya coba aja kamu kenalin teman kamu suruh pura pura jadi pacar kamu di depan dia, pasti dia kebakaran jenggot. Coba deh kalau enggak percaya, " jawab Tuan Angga sambil terkekeh.
Saat lampu sudah menyala Tuan Angga dan Febby meninggalkan Dea. Dea tiba tiba memikirkan ucapan kakak iparnya.
" Masa sih dia cemburu sama aku, bukannya dia nggk suka ya sama aku, " Dea ngomong sendiri sambil rebahan meluk guling. Lama lama dia ketiduran setelah gulang guling mikirin ucapan kakak iparnya.
Sedangkan disisi lain, nampak Marcel yang sedang berdiri di balkon. Membiarkan wajahnya diterpa dinginnya angin malam. Dia menatapa langit, namun pandangannya kosong. Marcel teringat dengan ucapan Dea bahwa dia sudah punya pacar. Dadanya merasa sesak, seperti ditusuk tusuk jarum.
" Kenapa denganku, kenapa hatiku sakit saat tau dia sudah punya orang lain dihatinya. Arghhhh aku tidak mungkin suka dengannya, aku tidak mungkin menyukai gadis abg kaya dia .... " ucap Marcel pada dirinya sendiri sambil mengacak acak rambutnya.