Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Pantai Sanur


Mereka berjalan menuju sebuah restoran kecil yang ada di dekat pantai. Mereka memesan makanan yang berbeda beda. Sambil menunggu pesanan datang, mereka hanya terus bercanda.


" Permisi Tuan, Nyonya, ini pesanannya," ucap pelayan itu dengan sopan.


" Oh iya terima kasih," ucap mereka bersamaan, mereka saling memandang lalu kembali tertawa bersama.


Setelah mereka selesai makan, mereka kembali ke parkiran.


" Habis ini kita mau kemana? aku masih pingin jalan jalan lagi," ucap Febby dengan manja.


" Terserah kamu sayang, kemanapun kamu minta aku turutin. Asal, nanti malam nurut ya sama aku," jawab Tuan Angga dengan senyum licik.


" Ah dasar mesum! Aku masih pingin ke pantai, gimana kalau tujuan kita selanjutnya pantai lagi," ucap Febby semangat dengan idenya.


" Siap Nyonya," jawab Tuan Angga spontan dan langsung membukakan pintu mobil untuk Febby.


Febby hanya tersenyum kaku, lalu masuk kedalam mobil.


" Katakan, pantai mana lagi yang ingin kau kunjungi, hem?" ucap Tuan Angga dengan lembut.


" Aku mau ke pantai Sanur. Kita buat kenangan ya disana," jawab Febby antusias.


Tuan Angga hanya tersenyum mendengar jawaban dari Febby.


" Kenangan apa yang akan kita buat disana? Apa kau ingin kita buat kenangan pada anak kita nanti kalau kita buat mereka disana?" Tuan Angga mencoba meledek Febby.


" Dasar mesum!"


" Ha ha ha ... bukankah itu yang kau inginkan?" Tuan Angga kembali meledek Febby.


" Ok, kita buat kenangan itu. Tapi ... ada satu syarat. Aku mau melanjutkan bisnis ayahku yang sudah bangkrut. Aku mau memulainya lagi dari awal, apa kau mengijinkannya?" ucap Febby serius menyatakan niatnya.


" Tergantung performamu nanti malam," jawab Tuan Angga singkat.


" Ok siapa takut."


Tuan Angga menatap wajah Febby lekat, memandangnya cukup lama. Lalu mereka kembali tertawa lepas.


" Kenapa menatapku seperti itu. Kau meragukan kemampuanku?"


"Oh tidak tidak, aku hanya sedang berpikir setan apa yang merasuki otakmu sehingga kau menjadi pintar sekarang."


" Kau ini! hah menyebalkan!" Febby memasang wajah cemberut, namun kembali tertawa.


Disepanjang perjalanan mereka hanya terus bercanda. Tampak jelas terlihat kebahagiaan diwajah mereka.


" Kita sudah sampai, ayo turun," ucap Tuan Angga mengajak Febby turun. Namun tak ada jawaban dari Febby, rupanya dia tertidur.


" Hah dasar payah, giliran sudah sampai malah tidur. Tapi kau terlihat sangat cantik kalau sedang tidur," Tuan Angga mendekatkan dirinya tepat didepan wajah Febby, berniat ingin menciumnya. Namun belum sempat dia menciumnya Febby sudah tersadar lebih dulu.


" Aww maling ...." teriak Febby spontan sambil menutup wajahnya. Sontak saja Tuan Angga juga ikut kaget karena teriakan Febby.


" Hey dasar payah! Kenapa kau menyebutku maling?!" ucap Tuan Angga kesal.


" Habisnya apa kalau bukan maling. Kau diam diam ingin menciumku saat aku sedang tidur kan?"


" Salah siapa bibirmu terlalu menggoda, ha ha ha ...." jawab Tuan Angga dengan gelak tawanya.


" Hey mesum dengan istri sendiri tidak apa apa kan?" jawab Tuan Angga dengan senyum menggoda. Febby semakin dibuat kesal olehnya.


Tetapi diluar dugaan Febby justru mencium suaminya lebih dulu. Tentu saja Tuan Angga tidak menyia nyiakan kesempatan itu. Dia membalas ciuman Febby, mereka melakukannya cukup lama.


"Apa sudah cukup?" tanya Febby dengan senyum genit menggoda suaminya.


" Masih belum," jawab Tuan Angga singkat lalu kembali mencium bibir tipis Febby.


Kali ini ciumannya lebih agresif, Febby sampai kewalahan dibuatnya.


" Emh sudah hentikan, ini ditempat umum. Apa kau ingin melihat istrimu yang cantik ini menjadi tontonan banyak orang?" ucap Febby disela sela nafasnya. Tuan Angga langsung menghentikan ciumannya.


" Kau yang memulainya bukan? Lalu kenapa sekarang kau menyerah?" jawab Tuan Angga dengan senyum liciknya.


" Ok aku menyerah, ya sudah ayo kita kepantai aku sudah tidak sabar," ucap Febby mengalihkan pembicaraan.


Dengan sangat terpaksa Tuan Angga mengiyakan ajakan Febby. Lalu mereka berjalan bersama menuju pantai. Layaknya pasangan lainnya, mereka menunjukkan kemesraan mereka di tempat umum.


Mereka berhenti di tepi pantai, lalu duduk dipasir putih yang cantik. Membiarkan ombak laut menyapunya.


" Apa kau suka dengan pemandangan disini?" ucap Febby kepada Tuan Angga, suaminya.


" Ya, sangat indah. Apalagi bisa menikmatinya bersamamu," jawab Tuan Angga sembari merebahkan dirinya di pangkuan Febby.


" Ya tempat ini sangat indah, tidak berubah dari dulu. Dulu waktu aku masih kecil, ayah dan ibu masih hidup, aku pernah datang kemari dengan mereka. Kita bermain air, bermain pasir, aku sangat bahagia waktu itu. Kita menciptakan kenangan yang indah disini," ucap Febby lirih menceritakan kisah masa kecilnya di pantai itu.


" Apa kau sedih dengan semua kenangan yang ada disini?" jawab Tuan Angga khawatir dengan perubahan raut wajah Febby. Dia takut tempat ini hanya akan membuatnya sedih.


" Tidak, justru aku senang aku bisa kembali ke tempat ini. Aku bisa mengenang masa masa indah itu. Suamiku, apa kau bersedia untuk mengukir kisah indah disini denganku?" ucap Febby lirih dengan tatapan memohon.


" Apa yang kau tanyakan, tentu saja aku mau. Aku ingin tempat ini jadi saksi dari cinta kita. Setelah dengan penantian yang cukup lama akhirnya kau bisa membuka hatimu untukku. Jadi, aku ingin kita membuat kenangan indah juga disini bersama dengan Ayah dan Ibumu," ucap Tuan Angga lembut sambil mengecup tangan Febby.


" Ha ha ha dasar kau ini. Aku sendiri juga tidak tahu kapan aku jatuh cinta padamu, padahal kau itu orang paling menyebalkan yang pernah kutemui," jawab Febby sinis sambil membuang muka.


" Bagaimana bisa kau tahan untuk tidak jatuh cinta denganku. Bayangkan saja kita setiap hari selalu bersama, tidur bersama, sekuat apapun pertahananmu akhirnya runtuh juga. Ha ha ha ...." jawab Tuan Angga menggoda Febby.


" Ah menyebalkan," balas Febby sambil menggelitiki perut suaminya.


Mereka menghabiskan waktu untuk bercanda ria dan bermain air, sampai tidak terasa waktu sudah sore. Matahari yang hampir tenggelam ditelan oleh gelapnya malam terlihat sangat cantik.


Mereka duduk menyaksikan pemandangan indah itu bersama, membiarkan hembusan angin pantai sore hari menerpa wajah mereka.


Pemandangan indah yang menjadi saksi bisu dari cinta mereka.


" Sudah selesai, mataharinya sudah bobok. Ayo kita pulang," ajak Tuan Angga membuyarkan lamunan Febby.


" Eh tapi aku masih betah disini. Pemandangan disini sangat indah. Hembusan angin dan juga suara ombak laut membuat aku merasa tenang dan nyaman disini.


" Ehm baiklah, kita akan menginap disini. Kita cari Villa di dekat sini, jadi kau bisa menikmati pemandangan indah ini tanpa harus kedinginan. Lagipula apa kau tidak lapar? badanku terasa lengket juga," ucap Tuan Angga membujuk Febby.


Febby tersenyum kearah suaminya. Terlihat jelas kebahagiaan dari sorot matanya.


" Ehm baiklah suamiku tersayang, seperti cacing di perutmu sudah sangat kelaparan ya, hehe," jawab Febby sambil tertawa meledek suaminya.


Mereka saling tertawa, lalu beranjak pergi meninggalkan pantai.