Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 107. Melarikan diri


Beberapa orang suruhan sudah berhasil melacak mobil yang digunakan pelaku. Andreas dan Yudha langsung menuju tempat lokasi. Mereka tidak membawa polisi. Memastikan lebih dulu orang itu benar-benar membawa Lion. 


"Kamu yakin ini tempatnya?" tanya Yudha sambil menatap ponsel yang ada di tangannya. 


"Yakin, Pak." Mobil Andreas melaju pelan di area perumahan mewah yang ada di pinggir kota. Sangat jauh dari lokasi rumahnya. 


Yudha kembali menghubungi seseorang. 


"Aku sudah ada di tempat, kalian langsung ke sini sesuai rencana, jangan muncul jika tidak mendapat kode dariku."


Andreas menghentikan mobilnya di depan rumah mewah. Membuka kaca tanpa ingin turun. Kembali membaca alamat yang dikirimkan pak Radit. 


"Ini rumahnya, Pak." 


Yudha langsung turun lalu menghampiri gerbang yang terkunci. 


"Permisi, apa ada orang di sini?" 


Yudha mengucap dengan suara lantang. Seakan kesabarannya sudah habis, amarahnya mulai menghinggapi dadanya dan terasa meletup. 


Ponsel Yudha berdering. Nama my wife berkelip di layar. 


Aku harus bilang apa padanya?


Meskipun berat, Yudha tetap menggeser lencana ahijau tanda menerima. 


"Mas, di mana Lion?" tanya Lintang dengan diiringi isakan. 


"Kamu istirahat saja dulu. Aku janji akan pulang membawa Lion." Meyakinkan Lintang untuk tidak sedih memikirkan putranya. 


"Janji ya, Mas. Aku tunggu!" 


Setelah sambungan terputus, sebuah mobil mewah datang dari arah kiri lalu berhenti di belakang mobil Andreas. Tak asing lagi, itu adalah mobil Bian. 


"Apa kakak yakin orang itu membawa Lion ke sini?" 


"Tidak yakin, cuma mobilnya ada di sini." 


Andreas menyungutkan kepalanya ke arah mobil yang terparkir di garasi. 


Setelah sekian menit tak ada respon dari sang pemilik rumah, terpaksa Bian naik gerbang lalu masuk. Disusul Andreas dari belakang. 


Rumah berlantai dua dengan desain Eropa itu terasa sangat sepi, bahkan tak ada satu orang pun yang menyambut kedatangan mereka bertiga. 


"Permisi…" Layaknya orang yang bertamu, Bian mengetuk pintu dengan ramah. 


"Yang keras dong, Bi. Itu tangan laki apa banci," ejek Andreas menarik tangan Bian ke belakang, hingga kini dirinya yang mengetuk pintu. 


Masih sama, tidak ada sahutan, seolah-olah rumah itu kosong tanpa penghuni. 


Saking tak sabarnya, Bian mendorong pintu rumah itu. 


"Tidak di kunci." 


Yudha ikut menyusul Bian dan Andreas setelah melihat rumah itu terbuka. Ia menerobos masuk. 


"Lion, kamu di mana, Nak?" teriak Yudha, kakinya terus melangkah menyisir setiap sudut ruangan. Tidak ada yang aneh atau mencurigakan, hanya saja tidak ada satu orang pun di dalamnya. 


"Lion sayang, ini om Bian." 


Bian berjalan pelan menuju dapur dan beberapa ruangan yang ada di belakang. Ia mendekati pintu yang terbuka. Ternyata itu adalah pintu yang menghubungkan langsung dengan jalan raya. 


"Jangan-jangan orang itu melarikan diri lewat sini." 


Bian berlari membuka gerbang belakang yang tidak terkunci, lalu berlari masuk lagi menghampiri Andreas yang ada di lantai dua. 


Yudha memanggil Andreas yang masih sibuk mencari sesuatu. 


"Ada apa, Pak?" tanya Andreas berdiri di belakang sang bos. 


"Bukankah ini foto Hilya?" Menunjukkan sebuah foto yang terpajang di atas nakas. 


"Benar, Pak. Ini foto Hilya, mantan sekretaris, bapak. Jangan-jangan __" 


Andreas memotong ucapannya saat Yudha melempar gambar itu lalu berlari keluar. Andreas dan Bian mengikutinya dari belakang. 


Kedua tangan Yudha terkepal sempurna. Andreas langsung memberi kabar pada semua orang tentang tanda-tanda yang mereka lihat dari rumah itu. 


"Tutup semua jalur keluar kota, jangan sampai Kalian lengah. Ingat, jika ada yang mencurigakan langsung hubungi aku.''


Setelah mengucapkan itu, Andreas kembali melajukan mobilnya membelah jalanan yang padat. 


"Sial, Anak ini sangat menyebalkan." Seorang wanita cantik mengibas-ngibaskan tangannya saat merasakan nyeri akibat gigitan anak kecil yang ada di sampingnya. 


"Lepaskan aku!" teriak bocah itu dengan keras. Mengumpulkan seluruh tenaganya untuk bisa melarikan diri. 


"Diam!" bentak salah satu dari mereka hingga membuat anak itu tersentak. Cairan bening lolos membasahi pipi bocah itu. Wajahnya pucat seketika saat mendapat tatapan tajam dari orang-orang yang ada di sekelilingnya. 


"Sepertinya di depan ada pemeriksaan, Bu," ucap sopir yang mulai memelankan laju mobilnya. 


"Sialan, ini pasti ulah papanya Lion, cepat putar balik!" titahnya lagi. 


Mendengar kata 'papa' Lion kembali memutar otaknya. Ia mencari cara untuk bisa terlepas dari jeratan mereka. 


"Om, aku mau pipis," rengek Lion menarik jaket bodyguard yang masih setia mendekapnya."


"Ada-ada saja," cetus wanita itu lagi. 


"Beneran tante, aku nggak bohong," timpal Lion meyakinkan. 


Supir itu tak menghentikan mobilnya karena tak mendapat jawaban dari sang bos. 


Lion menggenggam burung kecilnya.  Bibirnya meringis memamerkan gigi putihnya yang berjejer rapi. Menahan sesuatu yang hampir keluar. 


Selang beberapa menit kemudian, pria yang memangku Lion itu merasakan hangat di bagian paha. Matanya terbelalak mengingat ucapan Lion tadi. Ia meraba celananya yang terasa basah. 


Lion tersenyum sambil mendongak menatap kekesalan di wajah pria itu. 


"Kamu pipis?" tanya nya pada Lion. 


Bocah itu mengangguk tanpa merasa bersalah. 


"Dia beneran pipis, Bu," ucapnya merasa jijik. 


"Berhenti di mall depan. Parkirkan mobilnya sedikit jauh."


Setelah mobil berhenti, salah satu dari mereka memasuki mall, sedangkan yng lainnya masih berada di dalam mobil. 


"Om, aku pingin es krim," pinta Lion mengiba. Menunjuk penjual es krim  keliling yang ada di tepi jalan. 


"Kalau nggak di belikan aku pup di sini." Lion kembali mengancam. 


Wanita itu menjerit mendengar ucapan Lion. ''Dasar anak nakal, awas saja kamu ya, akan aku buang ke hutan." 


Lion cekikikan, ia tak boleh panik seperti ucapan Lintang yang terus memintanya tenang dalam keadaan apapun. 


"Cepat! Kamu belikan!"


"Tapi, Bu. celana saya basah," bantah bodiguard itu. 


"Kalau aku nggak mungkin, nanti kalau ada yang mengenalku gimana?"


Terpaksa pria itu turun sambil menahan malu karena basah dan bau. 


"Tante jahat, awas saja nanti aku bilang papa biar dihukum."


"Aku nggak takut," jawabnya ketus. Merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena jambakan Lion. 


Lion menggeser duduknya hingga ke pinggir. Tangannya merambat menyentuh pintu. Tubuh mungilnya bersandar pelan sambil mendorong hingga pintu itu terbuka. Merasa aman, Lion langsung turun. 


Mendengar suara pintu mobil tertutup membuat wanita itu sadar jika Lion sudah keluar dari mobilnya.


Wanita itu menghubungi kedua bodyguard nya saat melihat Lion semakin menjauh. Tidak mungkin ia turun sendiri disaat semua orang sudah mencarinya. 


Lion berlari sekencang-kencangnya. Menyusuri ruas jalanan. Otaknya saat ini tak bisa memikirkan apapun selain pergi dari orang-orang jahat itu. 


Saking lelahnya tubuh mungil Lion lemas. Matanya meredup, bersamaan dirinya yang hampir terjatuh, sebuah tangan kekar menyambar tubuhnya dari arah belakang.