Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 75. Peringatan


Tidak ada anugerah yang terindah selain bisa melihat sang istri kembali tersenyum. Ketakutan yang sempat mencekam kini lenyap saat Lintang melambaikan tangannya ke arah Yudha. 


Meskipun masih terbaring lemah, setidaknya Yudha bisa melihat istrinya itu membuka mata dan baik-baik saja. Lebih lagi, bayi yang diidam-idamkan itu selamat. 


Yudha tak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya, pasti dia akan menyalahkan diri sendiri yang tak bisa siaga di samping nya. 


"Aku nggak papa, tadi hanya terlalu ceroboh saja," jawab Lintang sebelum pertanyaan diluncurkan. Ia yakin, suaminya pasti akan marah jika tahu penyebab ia pendarahan. 


"Jangan menutupi apapun dariku," sergah Yudha dengan tatapan intimidasi. Ia paling tidak suka jika ada yang menyembunyikan sesuatu darinya. Apalagi menutupi masalah yang sangat serius. 


"Pipi kamu kenapa?" tanya Yudha sembari mengelus pipi Lintang dengan lembut. 


Meskipun sudah tahu, Yudha ingin mendengar sendiri dari bibir Lintang. 


Apa aku harus berbohong, tapi ini tidak adil bagi Mas Yudha, dia harus tahu apa yang terjadi padaku. Bu Natalie sudah keterlaluan. 


"Tadi bu Natalie menamparku karena aku bilang dia seperti perempuan murahan." Mengucapkan dengan penuh penyesalan. Sebab, tadi Lintang terbawa emosi. 


Yudha menahan tawa, membenamkan wajahnya di ceruk leher Lintang. Mencium aroma khas yang membuatnya tenang. Ia membayangkan ekspresi Natalie tadi, pasti sangat marah.


"Maafkan aku," kata Yudha menaikkan kedua kakinya, memiringkan tubuhnya dan memeluk tubuh Lintang. 


Bu Fatimah dan Pak Juli yang hampir masuk terpaksa keluar lagi dan menutup pintunya, tak mau mengganggu Lintang dan Yudha yang terlihat mesra. 


"Di mana kak Lintang?" tanya Bian yang baru saja tiba, nafasnya nampak memburu dengan wajah yang dipenuhi keringat. 


Andreas yang mendekat mencengkram kerah kemeja Bian. 


"Seharusnya ini tugas kamu, kenapa bisa pak Didin yang mengantar bu Lintang?" ucap Andreas penuh amarah. 


Bian menghela nafas panjang.


"Kak Lintang sendiri yang nggak mau diantar, Pak. Dia menyuruhku pulang," bantah Bian tak mau disalahkan. 


"Jangan diulangi, kalau sampai terjadi sesuatu lagi, kamu yang harus bertanggung jawab." 


Andreas ikut marah. Ia tak ingin membuat Yudha harus kehilangan orang yang dicintai untuk yang kedua kali. Baginya saat ini kehidupan Yudha jauh lebih penting dari apapun. 


"Sayang, kamu istirahat dulu, aku mau keluar," pamit Yudha mengendurkan pelukannya. Namun, dengan sigap Lintang mencegahnya. 


"Mau ke mana? Aku nggak mau ditinggal sendiri?" ucap Lintang menarik tubuh kekar Yudha hingga kembali berbaring di sampingnya. 


Aku tidak mungkin jujur, pasti Lintang akan melarangku menemui Natalie. 


"Ada urusan sedikit, aku janji akan balik cepat, kamu pengen di beliin apa?" tawar Yudha sembari merapikan rambut Lintang yang menutupi jidat. 


"Aku nggak pengen apa-apa, pokoknya cepat pulang." Mengucapkan dengan penuh penekanan. 


Yudha mencium bibir Lintang dengan lembut, kali ini hanya itu yang bisa ia lakukan, mengingat kondisi sang istri yang baru saja pendarahan, pasti dokter akan melarangnya untuk berbuat lebih. 


Yudha melambaikan tangannya ke arah Lintang lalu keluar. Menghampiri Andreas yang masih marah pada Bian. 


"Maaf, Kak." Bian membungkuk hormat, meskipun itu adalah kakak ipar tirinya, tetap Yudha adalah calon bos nya. 


"Dari mana saja kamu?" tanya Yudha sinis, saat suasana genting justru dirinya tidak ada, menyebalkan. 


Bian menceritakan semuanya tentang apa saja yang ia lakukan. Bahkan Bian pun mengatakan jika semua itu permintaan Lintang, berharap mendapat keringanan hukuman dari Yudha. 


"Andreas, kamu jaga Lintang." Yudha menatap adik tirinya yang masih menunduk. 


"Kamu ikut aku sekarang!" Berjalan meninggalkan ruangan setelah pamit pada bu Fatimah dan pak Juli. 


"Suamimu mau ke mana?" tanya Bu Fatimah duduk di sisi ranjang, menyapa wajah Lintang yang masih sedikit layu. 


"Nggak tahu, Bu. Katanya ada urusan penting."


"Urusan penting, tapi kok sama Bian. 


Andreas disuruh jagain kamu di depan." 


Lintang hanya tersenyum tipis. 


Pasti mas Yudha mau bertemu dengan bu Natalie. 


"Ini rumah siapa, Kak?" tanya Bian membuka kaca mobil, matanya menyusuri bagian depan rumah yang sangat mewah. 


"Tidak perlu banyak tanya, sekarang turun!" titah Yudha ketus sambil membuka seat belt. 


Sebagai ajudan, Bian langsung turun mengikuti langkah Yudha menuju pintu depan. 


Sekali ketuk, pintu terbuka lebar. Sebuah kebetulan, orang yang Yudha cari sudah mematung di depannya. 


Wanita yang pernah dicintai dan mengisi harinya. Mewarnai hidupnya dan memberikan semangat. Namun kini, statusnya hanya mantan dan tidak ada lagi tempat di hati Yudha.


"Aku ingin bicara dengan kamu," ucap Yudha dengan nada datar. 


Ini pasti tentang kejadian tadi, apa Lintang mengadu pada Mas Yudha. 


Yudha masuk tanpa disuruh, ia duduk di ruang tamu. Kini kehadirannya di rumah itu seperti orang asing yang bertamu. 


Natalie ikut duduk di seberang meja. Wajahnya sedikit pucat memendam ketakutan. Menundukkan kepalanya, menghindari mata Yudha yang menatap nya tajam. 


"Ma… mau bicara apa, Mas?" tanya Natalie gugup. Melirik ke arah Bian sekilas. 


"Jangan pura-pura tidak tahu, kamu hampir saja membunuh anak dan istriku. Tapi masih bilang bicara apa, hah?" bentak Yudha. 


Nada bicara yang sangat tinggi tak hanya membuat Natalie terkejut, namun juga membuat jantung Bian seakan berhenti berdetak. Tak menyangka, di balik kelembutan Yudha pada Lintang ada sifatnya yang arogan. Bahkan wajahnya merah padam bak monster yang siap menelan mangsanya. 


Yudha menyandarkan punggungnya. Jika melihat Natalie, tak hanya masalah Lintang yang melintas, namun juga kejadian masa lalu yang membuat darahnya semakin mendidih.


"Aku harap ini yang pertama dan terakhir kamu menampar Lintang, karena jika itu sampai terjadi lagi, aku pastikan kamu tidak hanya menjadi gembel, tapi hidup kamu akan hancur seperti abu," ancam Yudha lalu beranjak. 


"Aku  pernah main-main dengan ucapanku, jika kamu masih berulah, itu artinya kamu menantangku."


Yudha pergi, begitu juga dengan Bian yang mengikutinya dari belakang. 


Setibanya di mobil, Bian menatap Yudha yang duduk di samping nya. 


"Tadi itu siapa, Kak?" tanya Bian berani. Meskipun Yudha masih selalu ketus padanya, Bian tak peduli, baginya saat ini harus bisa merebut hati Yudha. 


"Mantan istriku," jawab Yudha singkat. 


Bian membulatkan matanya menatap manik mata Yudha dalam-dalam. Antara percaya dan tidak. Bagaimana bisa kakak nya itu menceraikan wanita yang sangat cantik bak bidadari dan memilih Lintang yang terbilang di bawahnya. 


"Kenapa kakak bercerai dengan dia?" tanya Bian lagi sambil menyalakan mesinnya. 


"Karena dia selingkuh, dan aku tidak bisa hidup dengan orang yang sudah menghianatiku," jelas Yudha tanpa aling-aling. 


Bian hanya manggut-manggut mengerti, begitulah yang mungkin terjadi pada pak Juli dan Bu Fatimah.