Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 80. Galau


Ema duduk di samping Andreas, sedangkan Gita di depan pria itu, berseberangan meja. Meskipun mereka lumayan dekat, Gita merasa sangat jauh. Kehadiran Ema membuatnya harus  menjaga jarak dengan Andreas yang berstatus bosnya. 


Gita hanya menjadi pendengar setia percakapan antara Ema dan Andreas sambil menikmati hidangannya. Tidak ada kesempatan bagi dirinya untuk ikut campur pembahasan yang tidak dimengerti dan memilih diam.


"Kamu sering makan di sini?" tanya Ema pada Andreas. 


"Iya," jawab Andreas singkat, matanya tak teralihkan dari wajah Gita yang terus menunduk menatap makanannya. 


"Kamu kapan pulang ke Indo?" Andreas meletakkan sendok dan garpu nya. 


Ia tak selera makan, bukan suasana ini yang ia inginkan. Meskipun Ema terus mencairkan suasana, tetap saja terasa canggung. Apa lagi Gita terus membisu hingga Andreas merasa tak nyaman.


"Seminggu yang lalu. Aku mau membantu papa di sini. Itu artinya aku akan menjadi klien kamu."


"Bukan aku, tapi pak Yudha," jelas Andreas dengan nada rendah. 


Kenapa harus bertemu Ema sih, kenapa Gita juga diam, apa dia sakit gigi. 


"Git," sapa Andreas. 


Gita mendongak, menatap Andreas lalu memelankan kunyahannya. 


Andreas meraih tisu, mengusap bibir Gita yang terkena saus makanan. Ia tersenyum melihat Gita yang nampak bengong dan terkejut. 


Deg deg deg 


Jantung Gita berirama lebih cepat dan berdisko ria, lagi-lagi sikap Andreas membuatnya terbang melayang. Tak hanya wajahnya yang mempesona, tapi kelakuannya juga menghanyutkan. 


Sentuhan itu, seolah-olah tanda bahwa dirinya sangat spesial di hati Andreas.


"Kebiasaan, kalau makan ceroboh," ucap Andreas lirih. 


Gita menyambar segelas air putih lalu meneguknya. Jantungnya masih berdetak tak karuan dan masih belum bisa dikondisikan. 


Aku tidak boleh gugup, ini hanya perhatian sebatas bos dan karyawan, tidak mungkin pak Andreas menyukaiku, aku tidak mau sakit hati. 


Gita meyakinkan dirinya. Meletakkan gelasnya yang sudah kosong, mengusap wajahnya yang dipenuhi peluh. 


Andreas bisa menangkap kepanikan di wajah Gita, ia tak peduli lagi dengan ucapan Ema, baginya saat ini adalah Gita. Ya, Gita yang membuatnya tak bisa tidur nyenyak.


"Aku ke sini mau membayar hutangnya Bu Lintang." 


Andreas mulai ke pokok pembicaraan. 


Gita tersenyum renyah. Tak hanya Lintang, dirinya pun lupa dengan uang yang pernah dipinjamkan untuk sahabatnya itu. 


"Sebenarnya saya sudah mengikhlaskannya, Pak. Tidak usah dibayar, lagipula saya sudah menganggap Lintang seperti saudara sendiri. Saya juga sering meminta bantuannya." 


"Dia ini siapa sih, sok-sokan banget nggak mau dibayar, kayak orang kaya saja?" tanya Ema sinis. 


Gita menampilkan senyum termanisnya. 


"Saya memang bukan orang kaya, tapi saya tahu arti sebuah persahabatan, karena itu lebih penting dari apapun."


Hati Andreas sejuk mendengar ucapan Gita, tak menyangka di kantornya ada satu lagi wanita yang membuatnya tersentuh selain Lintang.


Cih, karyawan saja belagu.


Andreas menggaruk lehernya. Otaknya berkelana mencari perbincangan yang lainnya, ingin berlama-lama dekat dengan Gita, kalau tidak sekarang, kapan lagi. Hari-harinya hanya dipenuhi dengan pekerjaan yang tak ada batasnya, hingga ia tak ada waktu untuk bersantai. 


"Kalian sudah berteman lama?" 


Kenapa pak Andreas menanyakan itu, memangnya penting banget buat dia. 


Gita mengangguk. "Dari Smp, Pak," jawab Gita kemudian. 


"Kalau bapak, sudah lama bekerja dengan Pak Yudha?" 


Gita memberanikan diri untuk membuka obrolan yang lain, meskipun masih sedikit ragu karena status yang berbeda, apa salahnya jika di luar kantor mereka sama saja. 


"Sudah hampir enam tahun. Awalnya aku magang di kantor pak Yudha, karena kinerjaku bagus, dia langsung mengangkat ku menjadi asistennya."


Gita kagum dengan pria itu, meskipun sangat angkuh, kepribadiannya pun luar biasa, bisa menaklukan Yudha yang tak kalah angkuh nya. 


Ia menatap Andreas dan Ema bergantian. 


"Pak, sepertinya saya harus pulang dulu, sudah sore," ucap Gita beranjak dari duduknya. 


Kenapa dia harus pergi dulu si, kenapa bukan Ema? 


Gerutu Andreas dalam hati, kesal melihat Gita saat membuka dompet. 


"Mau apa?" tanya Andreas saat wanita itu mengeluarkan uang ratusan ribu. 


"Mau bayar," jawab Gita polos. 


"Biar aku saja," sergah Andreas segera masukkan dompet Gita ke dalam tas sang empu. 


"Terima kasih, kalau begitu saya duluan," pamit Gita. 


Andreas mengangguk, menatap punggung Gita yang semakin menjauh. 


Seharusnya kita makan berdua seperti kemarin. Tapi sudahlah, aku harap besok kita bisa berdua tanpa ada yang mengganggu. 


Terpaksa Andreas menemani Ema menghabiskan makanannya, setelah itu ia langsung pulang tanpa ingin mampir ke tempat lain. 


Setibanya di rumah, maya Andreas mengelilingi ruangan depan yang nampak sepi, tidak ada siapapun di sana kecuali dirinya. Ia sengaja tak menyewa pembantu dan memilih membersihkan rumah itu sendiri saat libur. 


Pekerjaan yang mapan, kekayaan yang berlimpah, namun hatinya masih kosong, dunianya seakan kelabu. 


Andreas melepas sepatunya. Berjalan pelan menuju sofa lalu menghempaskan tubuh lelahnya di sana. Menatap layar ponsel yang ada di tangannya. 


"Apa Gita sudah sampai rumah?" tanya nya pada diri sendiri. 


Menatap gambar Gita yang ia ambil diam-diam. Mengelus di bagian wajah. Tersenyum manis, mengingat awal bertemu di depan ruangan Lintang. Lucu, bahkan kenangan pertama itu terpahat membuat Andreas terkesan. 


Ting tung 


Bunyi notif membuat Andreas mengernyit. Ia langsung membukanya, ternyata itu pesan dari Ema. 


"Hai Ndre, apa kamu sudah sampai di rumah?"


Itulah pesan yang dikirim Ema. 


Andreas membacanya dengan malas. 


Kenapa harus Ema yang mengirim pesan, seharusnya Gita.


Menggerutu kesal. Namun, ia tetap membalasnya. Masih belum menerima dengan kejadian di restoran yang tak sesuai ekspektasinya.


"Sudah," jawab Andreas dengan tulisan teks singkat. 


"Mahal amat jawabannya," canda Ema melanjutkan percakapannya. 


"Aku capek, malas ngetik," jawab Andreas meletakkan ponselnya di meja. 


Membaringkan tubuhnya lagi dan memejamkan matanya. 


Bunyi notif kembali terdengar, namun Andreas tak mengambilnya lagi. Padahal, itu pesan dari Gita yang bertuliskan, 


Selamat istirahat, semoga hari besok lebih semangat lagi. 


Sebenarnya itu bukan kata dari Gita, namun ia hanya mengedit tulisan Andreas yang sering di sampaikan padanya dan mengirimkan pada Tuannya kembali. 


Hampir satu jam menunggu, Gita tak kunjung mendapat jawaban dari Andreas. Matanya berkaca, hatinya mulai runtuh kembali. Harapan yang pernah terselip ia singkirkan jauh-jauh. 


Seharusnya aku tahu diri, Ema jauh diatas segala-galanya, dan aku tidak boleh berharap lebih dari seorang karyawan.


Merutuki kebodohannya yang selalu berpikir akan memiliki nasib yang sama seperti Lintang.


Gita menghapus kembali pesan yang sudah dikirim. Ia menonaktifkan ponselnya. Belum siap untuk menerima pesan ataupun panggilan karena hatinya yang lagi galau.


Menarik selimutnya dan bersiap untuk beralih ke dunia mimpi yang mungkin akan lebih indah.