
Indira berjalan pelan menghampiri Lintang yang sibuk dengan beberapa pembantu. Saking sibuknya sampai tak menyadari kedatangan kedua adiknya.
"Selamat pagi, Kak." Bian yang menyapa.
Lintang dan kedua pembantunya menoleh menatap Bian dan Indira bergantian. Tersenyum manis lalu berdiri dengan bantuan mbak Mimah. Perutnya yang semakin besar menghambat pergerakannya hingga terkadang harus meminta bantuan pada orang lain.
"Bi, kamu sudah datang. Ra, apa kabar?"
Lintang mengulurkan tangannya ke arah Indira.
Bian menyenggol tangan Indira dengan sikunya. Memberi kode pada gadis itu untuk menerima uluran tangan sang kakak.
"Ba… baik, Kak," jawab Indira gugup, ia belum terbiasa dekat dengan Lintang. Apalagi selama ini hubungannya tidak terlalu baik dan harus beradaptasi kembali.
Lintang memeluk Indira.
"Kita bukan orang lain, tapi saudara kandung. Seandainya kamu menikah nanti, wali nya juga sama, yaitu ayah. Jangan pernah berpikir untuk bermusuhan."
Indira hanya mengangguk tanpa suara. Memahami maksud dari perkataan Lintang.
"Itu kado untuk siapa, Kak?" tanya Indira menatap beberapa kotak hadiah yang berjejer rapi di meja.
"O, ini untuk sahabat kakak, sebentar lagi dia menikah. Calon suaminya itu asisten mas Yudha, selain kami punya hadiah istimewa untuk mereka, kakak dan kak Yudha juga menyiapkan beberapa hadiah kecil."
Indira manggut-manggut mengerti.
"Ayah ke mana, Kak?"
Indira mengedarkan pandangannya ke arah setiap sudut ruangan yang sangat mewah dan luas.
"Ayah keluar, tapi tadi aku sudah bilang kalau kamu mau ke sini, sebentar lagi pasti dia pulang."
Indira menatap perut Lintang yang nampak bergerak-gerak.
"Wah, dedek lihat tante, ya?" Lintang mengelusnya, seakan bayinya itu berinteraksi dengan Indira.
"Nanti tante gendong, ya. Sekarang mama yang gendong kamu."
Indira ikut meraba perut sang kakak.
"O, iya, kamu belum ketemu kak Yudha, kan?" menyungutkan kepalanya ke arah sang suami yang sedang berbincang dengan Keanu. Tak lupa ada Lion di antara mereka. Sebab, bocah itulah yang meminta sang mantan mafia untuk datang.
Seharusnya Lintang menyuruh Indira dan Bian sarapan, tapi berhubung waktunya tidak tepat, ia meminta kedua adiknya itu menemui suaminya terlebih dulu.
Bian dan Indira menghampiri Yudha dan Keanu, sedangkan Lintang menatap mereka dari jauh.
Indira langsung bersalaman dengan Yudha, kebetulan sekali, ia ingin mulai membahas tentang rencananya semalam.
"Silahkan duduk, Ra. Bi, tolong kamu periksa dokumen yang ada di ruangan kerja, biar Indira di sini denganku."
Bahkan Indira pun tak bisa menolak permintaan kakak iparnya.
Bian berdiri lagi setelah beberapa detik duduk. Ada-ada saja kakak iparnya itu, menyuruhnya dan selalu membuatnya tak tenang.
Mbak Mimah membawakan dua cangkir kopi dan secangkir teh untuk Indira.
Indira bingung mau apa, di sana tampak seperti orang asing, meskipun Lintang baik tetap saja Bian yang tak ada disampingnya membuat nya takut.
"Ini adiknya Lintang?" Keanu menunjuk Indira yang duduk dengan kepala menunduk.
"Iya, memangnya kenapa, mirip?" Yudha mencoba untuk menerka isi hati Keanu.
Keanu mengelus tengkuk lehernya, seakan momen tiga tahun yang lalu kembali hadir. Pertama kali ia bertemu dengan Lintang, gadis itu juga nampak pemalu, dan kali ini Indira pun mempunyai sifat yang sama.
"Nama kamu siapa?" tanya Keanu tanpa ragu.
"Indira, Kak." Indira menjawab dengan singkat, bingung mau bicara apa lagi, yang pastinya saat ini ia merasa canggung berada di antara dua pria dewasa yang nampak angkuh.
Jika bisa, Indira ingin pergi bersama Lintang yang masih berada di tempat yang tadi. Sayangnya, ia terperangkap di ruang itu, tidak ada keberanian meminta izin pada Yudha untuk pergi dari sana.
Indira meremas ujung bajunya. Dalam hati terus berdoa kedatangan seseorang yang bisa menolongnya dari keadaan itu.
Pintu depan terbuka. Sayup-sayup terdengar suara yang sangat familiar di telinga Indira hingga ia menoleh seketika.
Ayah
Indira mengucap dalam hati melihat seseorang yang baru saja masuk. Dalam keadaan begitu saja lidahnya masih terasa kelu dan tak mampu untuk memanggil pak Juli. Berdekatan dengan Yudha dan Keanu terasa sangat mengerikan daripada dengan polisi yang sering menilangnya.
Setelah menyerahkan beberapa barang bawaannya pada bi Siti, Pak Juli tersenyum renyah menghampiri Indira.
Indira pun langsung beranjak dari duduknya, berhamburan memeluk ayahnya dengan erat.
Keduanya melepas rindu karena sudah lama terpisah. Sebagai seorang ayah, pak Juli pun ingin selalu berada di dekat kedua putrinya, namun keadaannya tidak memungkinkan hingga ia memilih tinggal di rumah lama. Ia dan Bu Fatimah akan kembali pindah setelah hari bahagia Andreas dan lahirnya sang cucu.
"Maafkan Ayah karena tidak bisa menemui kamu," ucap pak Juli merasa bersalah. Buliran bening lolos membasahi pipi keriput nya.
"Nggak papa, Yah. Asalkan kita masih bisa bertemu, aku yang akan sering datang ke rumah ayah."
Terdengar mengharukan. Lintang yang melihat pelukan itu pun ikut mendekat.
"Jangan khawatir, Ra. Kamu bebas main ke sini ataupun ke rumah ayah." Lintang mengelus punggung Indira yang bergetar. Sebagai kakak, Lintang pun bisa merasakan yang Indira rasakan saat ini. Ditinggalkan orang tercinta memang sangat menyakitkan. Namun, ia tetap berdiri dengan keyakinan hatinya, bahwa kebahagiaan akan menghampiri siapa saja yang mau bersabar dan berjuang.
"Sekarang kita makan, yuk! Biarkan ayah ngobrol dengan kak Yudha dan kak Keanu."
Lintang menggiring Indira menuju meja makan. Menoleh ke belakang. Mengedipkan satu matanya memberi kode pada sang suami. Namun, semua itu di salah artikan oleh Yudha yang menganggap itu adalah peringatan nanti malam untuk memanjakannya di atas ranjang.
Pak Juli duduk di samping Yudha, berhadapan dengan Keanu.
"Yah, ada yang ingin dikatakan Keanu. Ini tentang Indira," ceplos Yudha yang membuat dahi sang mantan mafia berkerut.
Dalam hati terus menggerutu dengan ucapan Yudha yang benar-benar tak dimengerti.
"Benarkah?"
Merasa terpojok, Keanu memilih mengangguk. Umurnya yang sangat matang bisa menangkap apa yang dimaksud Yudha.
"Umur Indira berapa, Yah?" tanya Keanu asal. Terdengar sangat konyol. Namun, ia sudah terjebak dengan permainan Yudha.
"Bulan depan delapan belas tahun, memangnya kenapa?" tanya pak Juli lagi.
Hening
Keanu masih memikirkan tentang alasan yang akan diucapkan lagi. Menatap Yudha dengan tatapan sinis. Jika selama ini ia tidak mengenal kata gugup, kali ini wajahnya tampak pucat pasi.
Seandainya saat ini statusnya adalah mafia, mungkin akan membuat sahabatnya itu babak belur, sayangnya Keanu sudah tak berniat menyakiti orang lagi dan memilih berdamai.
"Apa aku boleh daftar jadi calon menantu, Ayah?"
"Ayah tidak bisa menjawab, tapi ayah akan tetap mendukung jika kamu memang serius."
Yudha tersenyum, akhirnya rencananya langsung berhasil hanya dalam satu langkah.