Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 51. Petak umpet


Suara gemuruh dari depan ruangan menembus gendang telinga Lintang. Ia sibuk bekerja tanpa ingin keluar. Meyakini itu adalah karyawan yang kembali setelah berkumpul atas undangan Yudha. 


"Mungkin saja perusahaan ini mendapatkan untung yang besar, maka nya pak Yudha memberi kita bonus."


Sayup-sayup suara Gita pun terdengar jelas membuat Lintang sedikit panik. 


Aku tidak boleh gugup, jangan sampai Gita mencurigaiku. 


Lintang membuka laptop dan mulai memainkan jarinya di sana. Menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk karena kemarin terhalang tragedi yang menguras air mata juga emosi. 


Tanpa disadari, Gita mematung di ambang pintu, menatap Lintang dengan tatapan selidik. 


Kok tiba-tiba dia ada di sini. 


''Lintang," seru Gita mulai melangkah kan kakinya masuk. 


"Pagi Gita," jawab Lintang tanpa menoleh, menghindari tatapan sang sahabat yang pasti penuh dengan pertanyaan karena tak melihat dirinya datang. 


Gita duduk di kursi yang tersedia, terus menatap setiap jengkal wajah Lintang yang berbeda, beralih ke baju Lintang yang sedikit aneh, lalu turun mengamati sepatu Lintang yang nampak baru dan bermerek. 


"Kamu dari mana?" tanya Gita dengan suara pelan, namun penuh dengan penekanan. 


Ha ha ha ha


Lintang tertawa, menutupi rasa gugup yang melanda. Ia belum siap mendapatkan pertanyaan yang akhirnya akan menjurus dengan jawaban berbohong. Namun apa daya, Gita terlanjur masuk sebelum dia mengumpulkan jawaban yang tepat. 


"Dari tadi aku di sini, memangnya kenapa?" Mengikuti mata Gita mengarah.


Ya Allah, semoga Gita tidak mencurigaiku.


Itulah yang ada di hati Lintang, meskipun dirinya sudah jelas akan berbohong, setidaknya meminta perlindungan dari yang kuasa. 


"Yakin?" tanya Gita lagi. 


Lintang mengangguk cepat. "Memangnya kenapa?" Lintang balik tanya. 


"Kok tadi aku nggak lihat kamu di bawah?" 


Aku nggak ikut, Gita. Tapi bagaimana caranya aku menjelaskan. 


Suara itu tertahan di dalam hati. Menghadapi Gita lebih rumit daripada berhadapan dengan Yudha, nyatanya ia tak berani mengusir gadis itu. 


"Aku di belakang, karena tadi aku sedikit terlambat."


Gita manggut-manggut, meskipun masih terasa menjanggal melihat sikap Lintang yang sangat aneh. 


"Oh, iya, kalau bonus sudah masuk, kamu mau beli apa?"


"Bonus?"Lintang bertanya lagi, memastikan jika ia tak salah dengar. 


"Iya, bukannya tadi kita dikumpulkan karena mau mendapat bonus, kan?" 


Gawat, kenapa Mas Yudha nggak bilang kalau mau bagi-bagi bonus sih, kalau gini kan Gita semakin curiga padaku. 


Lintang menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tersenyum kecut lalu mengangguk. 


"Aku tadi nggak dengar, soalnya di belakang berisik banget."


Gita mencondongkan kepalanya, menatap lekat ke arah jari Lintang yang sibuk memainkan pulpen. 


Menarik tangan Lintang lalu menatap sesuatu yang melingkar di jari manis itu dengan intens. 


"Kapan kamu membeli cincin berlian?" tanya Gita semakin menyelidik. 


Meskipun tak pernah memiliki nya, Gita tak mungkin salah lihat jika cincin yang tersemat di jari sang sahabat itu adalah cincin mahal, bahkan hanya ada beberapa orang yang mampu membelinya.


"Ini hanya imitasi." Lintang menarik tangannya dengan cepat, lalu menyembunyikannya di bawah meja. 


Hawa panas mulai menampar, Lintang ingin Gita secepatnya pergi dari ruangannya dengan sesuka hati.


Gita beranjak dari duduknya, belum saatnya untuk membahas semua itu mengingat pekerjaannya yang sudah melambai-lambai menantikannya. 


"Aku keluar dulu ya," pamit Gita, lagi-lagi melirik tangan Lintang yang masih ada di pangkuan. 


Lintang mengangguk dan tersenyum. 


"Ini salah, seharusnya aku jujur pada Gita, dia sahabat aku dan tidak mungkin aku menutupi ini terus-menerus."


Lintang mengambil ponselnya lalu menghubungi Yudha. 


"Ada apa, Sayang?" tanya Yudha dengan mesra. 


"Tadi mas bagi-bagi bonus?" tanya Lintang seperti yang diucapkan Gita. 


"Iya, memangnya kenapa?" 


Yudha yang ada di ruangannya berjalan menuju jendela. Menatap ke arah luar, cuaca yang cerah menggambarkan hatinya yang kini bahagia. 


"Nggak, tadi Gita ke ruanganku, dia cerita katanya mau dapat bonus." 


"Tapi kalau untuk kamu bonusnya ambil di sini, sekarang," pinta Yudha menggoda. 


"Kenapa begitu? Bukankah bonus semua karyawan masuk ke rekening masing-masing?"


Terdengar suara tawa renyah. Sepertinya Yudha memang sengaja membuatnya marah, itulah menurut Lintang yang nampak kesal dengan ucapan suaminya. 


"Itu kan karyawan saja, kalau bonus kamu kan double, karyawan plus istriku, jadi sekarang cepetan kesini, ini perintah dari atasan dan juga suami."


Yudha mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari Lintang. 


Percuma menggerutu, ia tetap kalah dari Yudha yang lebih berkuasa. 


Lintang keluar dari ruangannya. Menatap Gita yang baru saja keluar dari ruangan pak Setiawan. 


"Git, aku ke atas sebentar."


Gita mengangguk, mengawasi Lintang yang berjalan menuju lift. 


Akhir-akhir ini Lintang semakin aneh, dia sering nggak masuk kerja, penampilannya juga beda, aku yakin cincin tadi itu asli, sepatunya juga bermerek, sebenarnya apa yang dia sembunyikan dariku?


Gita meletakkan map yang sudah ditanda tangani pak Setiawan. Buru-buru berlari ke arah tangga darurat, ia penasaran dengan tujuan Lintang saat ini. 


Sesampainya di lantai sebelas, Gita mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Banyak karyawan yang berlalu lalang, namun tidak ada Lintang yang melintas. 


"Mungkin saja ke lantai dua belas." Bergumam sendiri sebelum melanjutkan langkahnya. 


Gita mengusap keringat yang bercucuran sebesar biji kacang, mengatur napas yang ngos-ngosan, bagian lututnya terasa linu hingga tak sanggup lagi melangkah. Sudah lima lantai ia naiki, namun tak ada tanda-tanda menemukan sang sahabat. 


"Lintang, kamu ke mana sih?" gerutu Gita berjongkok sambil berpegangan railing tangga. 


Lintang berjalan santai. Menyapa beberapa pegawai dengan senyuman tipis. 


"Lintang…" 


Tiba-tiba suara berat dari belakang menghentikan langkah gadis itu. 


Mata Lintang membulat sempurna. Ia sangat mengenal suara yang menyapanya beberapa detik lalu. 


Itu kan suara Samsul. 


Suara dentuman sepatu dan lantai semakin dekat membuat Lintang semakin panik. 


"Kamu mau ke mana?" tanya Samsul berdiri di depan Lintang. 


"Aku… aku mau ke ruangan pak Andreas," jawab Lintang cepat, mengusir kepanikan yang mulai menyelimutinya. 


Samsul menatap tangan kosong Lintang, "Mau ngapain? Kok nggak bawa apa-apa?" tanya Samsul lagi. 


"Mau ngambil laporan yang aku serahkan  beberapa hari lalu," jawab Lintang meyakinkan, entah dipercaya atau tidak, itulah yang ada dalam otaknya saat ini. Sebab, kehadiran Samsul membuat jalan pikirannya buntu. 


"Ya sudah, aku turun dulu."


Untuk yang kedua kalinya, Lintang merasa jantungan. Setelah tadi harus berusaha menutupinya dari Gita, kini giliran petak umpet dengan Samsul yang juga sahabatnya. 


"Aku harus secepatnya cerita pada mereka, tidak mungkin aku seperti ini, kayak maling saja." 


Lintang menoleh ke arah Lift, memastikan jika Samsul sudah benar-benar pergi. Setelah pria itu tak nampak, Lintang melanjutkan langkahnya. 


Setibanya di depan ruangan Yudha, Lintang mengabsen sekelilingnya, memastikan sekali lagi jika tidak ada yang curiga padanya. Namun, kali ini Lintang kecolongan. Ternyata Gita yang ada di ujung tangga melihatnya saat masuk tanpa mengetuk pintu.