
"Kenapa mundur Ayo serang dong" kata Zilan yang santai meminta untuk diserang namun kumpulan orang-orang itu bukannya maju malah berjalan mundur dengan tangan yang bergetar menahan takut.
"Hahaha kenapa kalian bergetar? Takut ya?" Ajak Zilan dengan senyum yang mematikan.
"Jadi tidak ada yang mau maju? Baiklah kalau begitu biarkan aku saja yang maju. Bagaimana aku baik kan?"
Setelah berkata seperti itu Zilan langsung berlari menerjang mereka dengan membabi buta.
Bugh
Brak
Sret
Beberapa saat kemudian Zilan telah menyelesaikan semua lawannya lalu berbalik menatap Johan dan Edward.
"Bagaimana aku keren bukan?" Tanya Zilan yang menatap Johan dan Edward meminta pendapat mereka.
Sedangkan Johan dan Edward sontak memundurkan langkah mereka saat Zilan berjalan mendekat ke arah mereka.
"Ada apa dengan kalian? Tenang saja aku tidak akan menggigit kalian kok" ucap Zilan santai seperti tidak terjadi apa-apa..
"Pria sinting..... Ini si gondrong mau diapain?" Teriak Arkana yang sedang duduk santai di atas punggung si gondrong.
"Terserah aku mau pulang dulu bye" ucap Zilan yang langsung melenggang pergi begitu saja.
"Princess...! sedang apa kamu di depan pintu kamarku?" Tanya Zilan yang kaget saat membuka pintu pagi-pagi buta Aruna sudah ada di depan pintu kamarnya.
"Aku bosan di mansion ini terus. Tidak bisakah kamu menemaniku keluar walau sebentar?" Ucap Aruna yang menatap dilan dengan mata kucing andalannya.
"Kau ingin ke mana?" Tanya Zilan lembut mengelus kepala sang adik dengan sayang.
"Terserah ke mana saja yang penting keluar dari kandang emas ini" Balas Aruna.
"Baiklah. bersiaplah setelah selesai sarapan kita akan keluar ".
"Oke! "
Aruna segera berbalik lalu berjalan cepat menuju kamarnya kembali.
"Kau ingin keluar?" Tanya Arkana yang muncul tiba-tiba.
"Ya Aruna tidak beta berada dalam mension terus" jawab Zilan.
"Pakailah mobil yang ada di garasi jangan gunakan motormu takutnya Aruna masuk angin dia baru saja sehat" ucap Arkana yang di balas anggukan kepala oleh Zilan.
"Sebenarnya aku berencana untuk memintanya namun syukurlah kamu sudah memberikannya tanpa aku minta" balas Zilan santai.
"Hm".
Arkana hanya berdehem sebagai jawaban lalu berlalu menuju kamarnya lagi meninggalkan Zilan sendiri.
Zilan menatap punggung Arkana dengan pandangan rumit dan dalam sebelum dia berbalik masuk ke dalam kamarnya lagi.
Tak
Tak
Tak
Suara langkah kaki yang berjalan menuruni tangga mendekat pada meja makan.
Deg
Mata Arkana terpaku pada wajah cantik dan manis milik Aruna jantungnya berdetak dengan kencang membuatnya gugup seketika.
"Selamat pagi!" Sapa Aruna dengan riang duduk di samping sang kakak yaitu Zilan.
"Selamat pagi" balas Zilan yang mengacak rambut Aruna sehingga menjadi berantakan dan itu tentunya membuat Aruna kesal.
"Zilan ish. Lihat rambutku rusak gara-gara kamu acak-acak" kata Aruna dengan kesal wajah yang tadi ceria langsung berubah cemberut.
Pak
"Jangan mengganggunya lagi" kata Arkana yang menipis tangan Zilan dari kepala Aruna.
Grep
Eh
"Diamlah" ucap Arkana dengan wajah datar menggendong Aruna lalu mendudukannya di samping nya yang jaraknya jauh dengan Zilan.
Zilan yang tak terima Aruna di bawah dan di jauhkan langsung melayangkan protes kepada Arkana.
"Hei dia itu adikku kembalikan! " Teriak Zilan yang hendak berdiri namun langsung kaku saat Arkana menyodongkan pisau garpu ke eranya dengan di iringi tatapan tajam yang menusuk.
"Duduk dan makan jangan mengganggunya" kata Arkana yang penuh akan penekanan di setiap katanya.
"Cih"
Zilan hanya dapat berdecih lalu kembali duduk tenang sedangkan Aruna langsung meledeknya dengan menjulurkan lidahnya.
"Kakak galak" Aruna menarik-narik ujung jas yang dikenakan oleh Arkana.
" Kakak galak?" Beo Arkana yang menoleh ke arah Aruna karena sejujurnya dia tidak menyukai panggilan itu namun dia juga tidak dapat marah karena yang memanggilnya adalah Aruna gadis pujaannya.
"Iya kata Zilan aku harus memanggil kamu dengan sebutan kakak galak" balas Aruna polos.
Uhukk Uhukk
Zilan yang sedang asyik makan langsung tersedak dengan mata yang membulat sempurna karena apa yang dikatakan oleh karena dia tidak pernah melakukannya namun Adik tercintanya itu malah menyebut namanya.
Glek
"Aruna.... Anak naga, babi, angsa..." Umpat Zilan dalam hati.
Sedangkan Arkana Jangan di tanya bahkan sudah muncul dua tanduk di kepalanya dengan asap di hidung dan telinga yang sudah keluar. Wajahnya bahkan memerah yang sangat Zilan yakin itu karena sedang menahan emosi dalam dirinya yang bahkan bisa kapan saja meledak.
"Ternyata kamu adalah biang keroknya pria sinting. Tunggu pembalasan dariku!" kata Arkana dalam hati yang menatap tajam Zilan seperti buruan.
"Hai pria kaku Jangan dengarkan dia, dia itu bohong aku tak pernah bilang seperti itu, suer deh" kata Zilanda yang gelanggapan sendiri saat melihat tatapan tajam Arkana.
"Habis lempar batu malah sembunyi tangan. Zilan mah pengecut" kata Aruna yang memakan santai nasi goreng di piringnya tanpa peduli jika kedua orang di dekatnya itu bagaikan pemburu dan mangsa yang saling mengintai.
"Aruna sialan kenapa dia harus kembali pada sifat jahilnya itu?" Kata Zilan dalam hati yang menetap kesal ke arah sang adik yang tak pernah melirik sedikit pun kepadanya.
Setelah menyelesaikan sarapan mereka, mereka bertiga segera berdiri lalu berjalan keluar mension Arkana yang akan ke perusahaan sedangkan Aruna dan Zilan akan berjalan-jalan. Sampai di depan mansion ternyata Johan asisten Arkana sudah menunggu di samping mobil.
"Eh kakak galak tunggu! "Cegah Aruna terhadap Arkana yang ingin masuk dalam mobil.
"Ada apa Aru?" Tanya Arkana lembut.
Aruna hanya diam berjalan mendekat ke arah Arkana.
Cup
Deg
"Terima kasih sudah perbolehin Aru untuk tinggal di rumah Kakak galak walau menurut Zilan kamu itu galak namun menurut aku kamu orang baik" Ungkap Aruna dengan tersenyum manis.
Sedangkan Zilan yang berada dalam mobil segera menepuk kepalanya sendiri saat melihat kelakuan Sang adik yang sudah kembali ke habitatnya.
"Dulu kamu masih bersikap anggun namun sekarang kamu benar-benar mengeluarkan sifat asli kamu. tidak tahu bagaimana reaksi dari mafia teknik itu" Guman lan yang menatap Arkana dengan geli karena pria kaku itu masih terus berdiri mematung dengan tatapan kosong.
"Princess! Ayo mau jalan-jalan atau tidak?" Teriak Zilan dari kejauhan.
" Kakak galak" pamit Aruna yang masih sempat-sempatnya mengedipkan matanya menggoda Arkana.
Arkana hanya diam mematung dengan debaran jantung yang semakin berdebar dengan gila. bahkan benda kenyal itu masih terasa di pipinya, Arkana terlalu terpaku hingga tak menyadari jika Aruna telah pergi dari hadapannya
TING......