
"Berikan Nomor ponsel Tuan Arkana!" Pinta Calista yang menyodorkan tangannya di depan Johan.
"Untuk apa?"
"Mau aku ajak selingkuh kan lumayan jadi simpanannya."
Deg
Entah kenapa dada Johan bergemuruh tidak rela saat Calista mengatakan jika ingin menjadi selingkuhan dari Arkana yang merupakan bosnya. Johan menatap tajam Calista yang sedang mengadakan tangannya kepadanya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Calista dengan santa i seperti tidak terjadi apapun dan memang tidak ada masalah dengan Johan.
"Aku bertanya untuk apa nomor Tuan Arkana?"Johan bertanya dengan mengeraskan wajahnya. Dada pria itu bahkan kampas kempis entah karna apa.
"Sudah aku katakan aku mungkin bisa menjadi selingkuhan Tuan Arkana." Ulang Calista yang mengucapkan kata itu tanpa beban sama sekali.
Brakkk
"Sialan.... Kmu lupa jika Tuan Arkana sudah menikah dan memiliki istri yang tak lain adalah sahabat kamu sendiri? Apa kamu ingin menjadi seperti wanita murahan di luaran sana?" Bentak Johan yang menatap tajam Calista.
Calista yang mendengar bentakan dari Johan tidak merasa sakit atau kecewa sedikitpun. Melainkan gadis itu hanya mengerutkan dahinya.
Kenapa bisa Johan semarah ini atau pria itu menganggap apa yang di katakan dengan serius. Memikirkan itu Calista langsung membulatkan mata sebelum di detik berikutnya langsung tertawa terbahak-bahak.
HAHAHAHAHA
Calista tidak mungkin melakukan hal aneh dan menjijikan itu. Lagi pula untuk apa menjadi selingkuhan Arkana yang jelas-jelas sudah nyata jika tidak ada cela bagi wanita lain untuk masuk ke dalam hidupnya selain Aruna.
Apa yang dia dapatkan dengan menjadi selingkuhan Arkana. Kekayaan? Sudah dia dapatkan. Kemewahan? Ketenaran? Semua sudah dia dapatkan dengan menjadi dirinya sendiri saat ini.
"Dengar Tuan Johan... Aku tidak mungkin melakukan hal yang sangat memalukan dan menjijikan itu. Semua sudah aku dapatkan dengan menjadi diriku sendiri tanpa aku harus merendahkan harga diriku untuk menjadi seorang selingkuhan pria beristri. Saya memang nakal atau mungkin juga murahan tapi saya tidak mungkin merebut kebahagiaan wanita lain demi kebahagiaan saya." Terang Calista yang begitu serius.
Setelah berkata seperti itu Calista langsung menarik tasnya dan berlalu pergi dari ruangan Johan meninggalkan Johan yang masih terpaku di tempat.
Johan yang mendengar ucapan Calista yang begitu yakin pada ucapannya entah mengapa di buat bungkam oleh kata-kata yang terdengar biasa saja. Namun, tidak di telinga Johan yang entah kenapa kata-kata itu menyentuh dirinya.
"Sial dia malah pergi." Umpat Johan saat sadar jika Calista telah pergi.
"Ada apa dengan ku? Ada apa dengan kata-katanya bukankah itu biasa saja? Tapi.... Kenapa kamu terpesona dengan kata-katanya Johan sialan.." Johan mengumpat kesal karna tadi dia sempat terpesona dengan Calista saat wanita itu mengatakan hal barusan.
Sedangkan di tempat lain, Calista memberangus kesal akibat Johan yang menurutnya menganggap dia sama seperti wanita lainnya yang menghayalkan segala cara untuk mencapai apa yang mereka inginkan termasuk dengan menjadi selingkuhan atau simpanan pria beristri.
"Dasar asisten bodoh.....Dia pikir aku akan menjadi wanita seperti itu? Aku rela gitu jadi simpanan yang hanya bisa di nikmati namun tidak ada status? Mana mau aku.. Cih... Daddy saja memberikan apapun yang aku mau untuk apa aku menjadi selingkuhan orang. Aku memang pernah menjadi wanita nakal tapi aku tidak sampai menjadi peliharaan ria-pria seperti itu." Gerutu Calista yang merasa kesal dengan penilaian Johan terhadap dirinya.
Calista memang bukan wanita suci seperti Aruna.Calista memang memiliki sisi masa lalu yang begitu bisa di katakan buruk untuk sesuai Aruna. Keluar masuk klub, One night stand pun Calista pernah rasakan. Walau begitu Calista selalu memastikan kekasihnya atau hanya teman tidur merupakan pria lajang bukan pria beristri.
"Haaaaah... Tapi tidak salah... Aku memang wanita murahan yang sudah berapa pria menyentuh tubuhku. Di dunia ini mana ada pria yang sudi menerima aku yang kotor ini." Guman Calista yang menatap sendu jalanan di depannya.