Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Sosok bertudung


"Pergilah ***.... kekuatan kamu sekarang sudah cukup untuk melindungi sang putri pilihan. jangan pikirkan Kakek karna Kakek sebentar lagi akan berpulang." kata Kakek tua itu menatap dalam sosok bertudung.


"Apa maksud kakek?" tanya sosok bertudung itu kaget akan ucapan sang Kakek tua.


"Setiap manusia dan seluruh mahluk hidup akan berpulang pada yang menciptakan mereka *** itu adalah jalan takdir yang di atur oleh Tuhan." jawab Kakek tua itu bijak.


Mendengar itu sosok bertudung hanya bisa menganggukan kepala karna itu memang sudah jalan ketentuan dari yang kuasa.


"Lalu apa yang harus aku lakukan Kek jika aku pergi lalu siapa yang akan me...me..Kam..kan Kakek" kata sosok bertudung itu dengan suara yang tercekat.


"Jangan takut masih ada pelayan Molly yang akan mengurus Kakek disini." jawab Kakek tua itu masih dengan senyuman.


"*** tolong berikan ini kepada sang putri"


Kakek tua itu menyerahkan sebuah kotak usang penuh dengan corak aneh di atas kotak itu.


"Ini apa kek?" tanya sosok bertudung memperhatikan kotak itu lalu mencoba membukanya namun tidak bisa.


"Kok nggak bisa di buka Kek?" tanya Sosok itu lagi masih berusaha membuka kotak itu.


Mendengar itu Kakek tua tersenyum tipis menatap dalam penuh kerinduan pada kotak usang itu.


"Sekeras apapun kamu berusaha untuk membuka kotak itu, itu tidak akan bisa bahkan di katakan mustahil. kotak itu akan terbuka apabila pemilik asli atau keturunan asli dari sang pemimpin membukanya. jikapun orang lain yang membukanya maka di perlukan darah dari sang putri pilihan untuk membuka kotak itu" terang Kakek tua.


"Kek apa aku boleh bertanya?" ucap sosok tudung.


"Katakanlah"


"Bukankah biasanya yang akan jadi pemimpin adalah seorang pria lantas kenapa harus my princess yang menjadi penerus kali ini?"


"Takdir...! semua yang bermain adalah takdir. mereka bertiga memang keturunan asli dari sang pemimpin tapi yang memiliki darah murni sang pemimpin dan yang mewarisi semua kekuatan dari sang pemimpin. Pangeran mahkota Zelan dan pangeran Zilan memang bisa menghidupkan api biru di tangan mereka sebagai ciri khas kekuatan dari sang pemimpin tapi Pangeran mahkota Zelan dan Pangeran Zilan tidak bisa mengangkat pedang pusaka sang pemimpin bahkan Yang Mulia Arthur pun tidak bisa mengayunkan pedang pusaka itu." terang sang Kakek membuat sosok bertudung terkagum-kagum.


"Jika begitu kira-kira tahta Kerajaan akan jatuh pada tangan siapa?"


"Sudah jelas bukan dari penjelasan Kakek jika tahta kerajaan akan jatuh ke tangan Putri mahkota Ases."


"Tapi bukahkan itu bahaya untuk My princess itu bisa mengakibatkan adanya pemberontakan dan Para pangeran bisa menerima itu terlebih rakyat kerajaan Negara M Kek?"


"Lagipula Sang putri lebih dari apa yang kamu ketahui ***" lanjut Kakek tua tersenyum misterius.


"Apa maksud kakek?"


"Kamu memang sudah hebat tapi kekuatan kamu yang sekarang hanya setengah dari sang putri"


"APA......?" teriak sosok bertudung menolak untuk percaya.


"Kamu memang mengawasinya tapi jangan lupa sang putri mempunyai otak yang bahkan 2 kali lipat lebih pintar dari kamu"


"Bagaimana bisa selama ini aku...."


"Di saat kamu bertemu dengannya kamu akan secara pelan-pelan mengetahui seberapa kuatnya sang putri namun walau begitu kamu harus extra untuk melindunginya karna musuh yang sesungguhnya juga tak kalah hebatnya"


"Jadi kapan aku berangkat Kek?"


"Besok pagi sebelum matahari terbit kamu harus meninggalkan gubuk ini dan jangan pernah kembali lagi sebelum musuh sang putri musnah"


"Baik Kek"


"Bersiaplah dan segera istirahat" ucap Kakek tua itu mengelus pucuk kepala sosok bertudung sebelum keluar dari kamar sang cucu.


"Tunggu aku My Princess" kata Sosok bertudung memeluk erat kotak usang yang di berikan oleh kakek tua barusan.


Sedangkan di tempat lain Aruna bergerak gelisah dengan keringat yang membanjiri dahi dan seluruh tubuhnya.


"Sial aku lupa malam ini bulan purnama" kata Aruna yang segera menyambar tasnya lalu berlari keluar.


Sampai di lobby Aruna langsung berlari menaiki motornya dan menjalankannya dengan kecepatan tinggi.


Tanpa Aruna sadari tingkahnya barusan di saksikan oleh 2 pasang mata dari dalam mobil.


"Kamu benar-benar tidak punya perasaan terhadapnya" tanya Johan memastikan.


"Tidak bahkan jika itu rasa kasihan" jawab Arkana acuh.