
Arkana yang mengingat semua yang di lakukan Johan terhadap Aruna beberapa tahun lalu langsung mengerti tapi kenapa dia baru mengerti setelah Johan mengungkapkannya sendiri.
"Hahaha ternyata selama ini aku menyembunyikannya dengan sangat rapat ya...? hingga aku tak menyadari hal itu padahal aku sering melihat mu memperhatikannya secara diam-diam ternyata ini arti dari tatapan kamu beberapa tahun lalu." kata Arkana dengan terkekeh kecil entah karna merasa sakit atau kecewa hanya Arkana yang tau.
"Lalu kenapa bukan kamu yang mendaftar menjadi selir Aruna?" tanya Arkana kepada Johan.
"Karna cinta ku tak sebesar cinta mu lagipula aku bisa mencari wanita lain tapi kamu apa kamu mampu menghapus nama Aruna dari dalam hati kamu sana?" kata Johan malah bertanya balik kepada Arkana.
Arkana yang mendengar yang mendengar pertanyaan Johan hanya bisa terdiam karna Arkana sudah sangat mencintai Aruna sampai di setiap hembusan napasnya.
Johan yang melihat keterdiaman Arkana langsung tersenyum tipis karna Johan tau jika Arkana bisa gila jika harus kehilangan Aruna.
"Mungkin mantan kamu yang abal-abal bisa kamu lupakan tapi jika Aruna aku yakin kamu akan benar-benar gila akan itu" kata Johan dengan senyum meledek di bibirnya.
"Tak apa menjadi yang kedua setidaknya kamu bisa memilikinya tugas kamu sekarang adalah bersaing dengan para pria-pria lain yang ingin menjadi selir dari Aruna. kamu harus berusaha membuat Aruna kembali mencintai mu dengan begitu walau kamu menjadi yang kedua tapi kamu akan mendapatkan cinta yang sama dengan suami pertamanya" kata Johan menepuk pundak Arkana.
"Lalu perusahaan bagaimana?" kata Arkana sinis.
"Dasar bodoh...! kamu mau mengejar cinta mu atau tidak ha....? kamu tenang saja mengenai perusahaan akan aku urus kamu fokus singkirkan para penghalang kamu itu" kata Johan yang langsung merangkul Arkana.
Mereka bahkan seakan lupa apa yang terjadi beberapa menit yang lalu bahkan mereka saling membentak dan saling menatap tajam satu sama lain.
Dan sekarang lihat kini mereka akur layaknya adik dan kakak yang terlihat saling menyayangi satu sam lain.
Setelah pembicaraan mereka yang penuh akan menguras emosi Arkana kembali ke kamar tempat dia tidur.
Sampai disana Arkana lagi lagi duduk termenung dengan pikiran yang entah kemana.
Apa Arkana akan sanggup melihat orang yang dia cintai harus ia bagi, melihat orang yang dia cintai bermesraan dengan pria lain dan tidur bersama pria lain apa Arkana sanggup akan hal itu tapi jika juga harus kehilangan Aruna apa Arkana sanggup? maka jawabannya tentu tidak.
Arkana yang kalut akan perasaannya memilih keluar dari kamar berjalan-jalan ke taman istana hingga tak menyadari jika di taman itu juga ada Jendral Naren.
"Tuan Arkana" sapa Jendral Naren.
Arkana yang mendengar namanya di panggil langsung menoleh untuk sesaat Arkana kaget karna ada pria yang menjadi Tunangan dari wanita yang di cintainya.
"Kamu mengenal ku?" Arkana bertanya dengan nada datar dan dingin
"aku tidak mengenal mu namun aku tau dirimu salah satu pria yang mendaftar untuk menjadi selir dari Sang Putri." kata Naren tak kalah datar dan dingin.
"Lalu kamu mau apa? menyingkirkan ku begitu" kata Arkana Tersenyum sinis.
"Untuk apa aku melakukan hal itu? aku bukan pria licik" kata Naren dengan suara rendah.
"Lalu kamu lebih memilih membagi milik mu dengan yang lain daripada menyingkirkan saingan mu" kata Arkana dengan tajam.
"Jika Tuan Arkana menjadi saya apa Tuan akan menyingkirkan saya sebagai saingan anda?" tanya Naren balik dengan senyum tipis menatap bunga-bunga di taman.
Mendengar pertanyaan Naren tidak langsung di jawab oleh Arkana malah Arkana terdiam.
"Semua orang tidak ada yang mau miliknya di bagi dengan orang lain apalagi jika itu adalah wanita mereka, istri mereka namun daripada aku kehilangannya aku akan memilih membaginya karna aku tau ini juga bukan kehendaknya tapi memang sudah jalan takdir kami seperti ini." ungkap Jendral Naren dengan sungguh-sungguh.
"Saya tak keberatan yang menjadi saingan cinta saya nanti namun saya hanya berharap siapa pun yang menjadi selir Sang Putri tak membuat adanya pertumpahan darah nantinya"