Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Cemburukah?


"Akhirnya aku menemukan mu Arkana. Aku sangat merindukan kamu, aku sudah kembali aku tidak akan meninggalkan kamu lagi. Jadi, mari kita wujudkan keinginan kita 7 tahun lalu." Ucap wanita seksi itu yang langsung memeluk Arkana. Arkana yang masih kaget tidak sempat menahan atau mengelak dari pelukan wanita itu jadi hanya bisa pasrah.


Srettt


Prang......


Mangkuk bakso yang baru saja di simpan di atas meja langsung melayang menghantam kepala seorang wanita seksi yang baru saja memeluk Arkana.


"Ahh......!"


"ARUNA.....!"


Aruna yang mendengar bentakan Arkana langsung menoleh ke arah pria itu.


"Apa.....? Mau belain dia? Silahkan!" Kata Aruna datar melipat tangannya di dada.


Arkana yang baru ingin membuka mulut langsung menutup kembali mulutnya rapat-rapat.


" Apa yang kamu lakukan sialan?" Teriak wanita seksi itu yang menatap nyalang Aruna.


Plak


"Kau...."


"Aku harusnya yang bertanya pada anda Nona, siapa anda hingga dengan lancang memeluknya?" Tanya Aruna yang menatap datar sosok wanita seksi di depannya itu.


"Aku...? Kamu bertanya siapa aku? Apa matamu buta atau tidak punya tv di rumah hingga tidak mengenaliku? Aku Amanda model internasional sekaligus kekasih Arkana. Kamu siapa berani memukul seorang Amanda dan calon nyonya Albarack?" Teriak Amanda yang menatap bengis Aruna.


Aruna yang mendengar penyataan Amanda langsung melototkan mata. Matanya melirik Arkana yang kini sudah berwajah pucat semakin membuat Aruna yakin jika apa yang dikatakan wanita itu benar. Jika Arkana dan wanita di depannya itu adalah sepasang kekasih.


Glek.....


Arkana yang melihat tatapan tajam Aruna langsung menelan ludah. Selama ini gadisnya itu tidak pernah sampai menatapnya tajam seperti itu.


"Benar! Kami sepasang kekasih." Bukan Arkana yang menjawab melainkan Amanda. Tak hanya itu wanita itu bahkan dengan berani menggandeng mesra lengan Arkana.


Wusshhhhh


Tatapan mata Aruna langsung menyala berapi-api menatap nyalang ke arah Arkana yang kini terdiam kaku. Namun, walau pun terdiam kaku tapi wajahnya sudah berwajah pucat bahkan mungkin sudah tidak ada darahnya.


"A.R.K.A.N.A!" Tekan Arun ayang sudah keluar tanduk di kepalanya.


"Tidak sayang....! Dia mantanku." Ucap Arkana cepat yang langsung menghempaskan tangan Amanda yang melingkar di lengannya.


"Ah..... Arkana apa yang kamu lakukan sayang kenapa kamu mendorongku ? Dan..... Kenapa kamu memanggil wanita ini dengan kata sayang?" Tanya Amanda dengan menatap kesal Aruna.


"Apa di rumahmu tidak ada Tv? Katanya model kok tidak tahu siapa aku. Perkenalkan Putri Aruna Ases De bora putri negara M. Sekaligus Aruna Ases Albarack, Nyonya Albarack istri dari Tuan Arkana Zeus Albarack." Ucap Aruna dengan senyum manis menarik asi Arkana hingga pria itu mendekat ke arahnya.


"Tidak....! Tidak bisa seperti itu. Arka, kamu telah berjanji padaku jika kamu akan menunggu aku pulang dan kita akan menikah. Bagaimana bisa kamu menikah dengan wanita lain Arka.....!" Teriak Amanda tanpa memperdulikan suasana yang ramai.


"Wanita satu ini...... Kenapa sangat merepotkan. Kenapa tidak mati saja di makan hiu sih." Kata Arkana dalam hati yang menatap kesal ke arah Amanda.


Ingin sekali Arkana menceburkan kepala wanita yang pernah menjadi kekasihnya di masa lalu itu di laut. Dengan harapan wanita itu di makan hiu.


"Sayang dengar..... Aku memang pernah berjanji akan hal itu tapi di masa lalu. Saat itu otakku masih miring, aku masih bodoh, dan mataku masih katarak tidak bisa melihat mana yang cantik hingga aku memacarinya. Tapi sayang semenjak ada kamu aku tidak pernah lagi berpaling apalagi mikirin wewe gombel ini." Terang Arkana yang berbicara cepat seperti roller coaster.


Sedangkan Amanda yang mendengar perkataan dari Arkana langsung melotot. Di masa lalu Amanda memang tidak pernah mendengar Arkana memujinya atau hanya mengatakan jika dia cantik. Namun, Amanda tidak menduga Arkana bisa berkata kasar seperti itu.


"Jika begitu tampar dia!"


"Hahhhhh tampar?"


"Iya tampar, jika tidak aku akn pergi dari mension kamu."


Deg