
"Sampai kapan? sampai kapan kamu kan terus seperti ini nak. kamu tau Ibu mu menangis tiap malam memikirkan mu Nak. kapan kamu akan bangun dari tidur panjang mu ini. kamu tau hubungan Ayah dan Ibu mu sekarang hanya topeng belakang. Ayah tau ini memang semua salah Ayah yang tak bisa menjaga kamu dengan baik, salah keluarga Ayah yang begitu serakah karna itu Ayah minta maaf kepada kamu. kamu bisa menghukum Ayah sesuka mu nak tapi Ayah mohon bangunlah" ucap lirih pria itu.
Pria paruh baya itu terus mengajak berbicara kepada sang Putri walau tidak di tanggapi tapi pria paruh baya itu terus bercerita layaknya anak di depannya bisa mendengar keluh kesahnya.
Setelah mengajak cerita sang Putri pria paruh baya itu beranjak berdiri lalu menatap sang putri.
"Ayah keluar dulu yah kamu cepat bangun" kata Pria paruh baya itu mengelus pucuk kepala sang putri lalu keluar dari kamar itu.
Selepas kepergian pria paruh baya itu muncullah gadis mudah yang berjalan mendekati ranjang gadis yang terbujur kaku itu. tangan gadis itu terulur mengelus pucuk kepa dari sosok gadis tak berdaya di depannya dengan tatapan sendu.
"Dulu aku iri dan cemburu sama kamu karna Ayah sama Ibu lebih sayang dan perhatian sama kamu di banding aku tapi sekarang...? sekarang aku ngerti kenapa Ayah dan seperti itu karna kamu adalah peri kecil yang harus kami jaga. kamu tau Ayah dan ibu sekarang tidak baik-baik saja ku mohon cepatlah bangun perang besar mungkin akan segera terjadi." kata sosok itu menjatuhkan air matanya menatap sosok di depannya yang begitu tak berdaya.
"apapun yang terjadi kamu harus bangun jika kamu bangun nanti aku berjanji akan memenuhi semua keinginan kamu" lanjut sosok gadis mudah itu.
Di tempat lain seorang pengawal berlari lintang lantung di lorong istana dengan darah yang terus membasahi pakaiannya.
BRAK
"Ada apa kenapa menendang pintu?" Zilan yang tak suka di ganggu langsung bertanya dengan datar dan menatapnya tajam
"Maaf Pangeran tapi terjadi kerusuhan di depan istana kami tiba-tiba di serang orang yang berpakaian serba merah menyalah. orang-orang itu mulai menyerang orang di sekitar yang Mulia" lapor pengawal itu.
Mendengar laporan itu membuat semua orang kaget terutama Raja Arthur yang hanya bisa berdiri mematung karna dia sudah menduga hal ini akan terjadi tapi Raja Arthur tidak menyangka jika akan terjadi secepat ini.
"Ayahanda apa yang perlu kita lakukan haruskah kita keluar?" tanya Zelan dengan wajah panik.
"Jika kalian ragu biar aku yang keluar menghadapi mereka aku tidak akan membiarkan orang-orang itu menyakiti rakyat dari wanita ku" ucap Arkana yang langsung menarik pedang yang ada di atas meja lalu berlari keluar.
Melihat kesiagaan Arkana sudut bibir Zilan terangkat membuat senyum tipis saking tipisnya tidak ada yang menyadarinya.
"Aku akan ikut keluar walau dia bukan tandingan ku tapi aku yakin bisa menyelamatkan beberapa orang yang tidak bersalah" timpal Zilan yang langsung ikut keluar dari ruangan itu yang merupakan ruang rapat.
"Arjun ayo kita pergi kali ini kamu tidak akan bertarung dengan Arkana tapi kalian akan di tentukan dengan penyerangan di luar" kata Raja Arthur yang berdiri lalu berjalan keluar di ikuti Zelan dan Arjun.