Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Sampai


Di bandara internasional Negara M terlihat dua orang gadis cantik baru saja turun dari pesawat. kedua gadis Cantika itu tak lain adalah Aruna Dan Delyana yang baru saja mendarat di Negara M.


"Apa kita akan langsung ke istana?" tanya Delyana mengambil ali koper Aruna lalu mendorongnya hingga kini Aruna tidak memegang apapun yang berat-berat.


"Kita cari makan dulu Kak untuk mengganjal perut sedikit" kata Aruna.


Delyana. yang mendengar keinginan Aruna langsung memberhentikan taksi untuk mereka tumpangi namun tiba-tiba datang pria yang berpakaian serba hitam membungkuk di depan Aruna.


"Salam Nona" kata pria itu yang menundukan kepala di depan Aruna.


Delyana yang melihat itu segera menarik Aruna ke belakang tubuhnya lalu menatap tajam pria di depannya.


"Siapa kamu" tanya Delyana datar dan dingin membuat pria itu menjauh beberapa langkah ke belakang.


"Saya utusan Yang Mulia Raja Arthur untuk datang menjemput Yang Mulia Putri Ases" jawab pria itu tegas namun nada bicaranya sedikit gugup karna tatapan Delyana begitu tajam.


"Apa buktinya?" Delyana bertanya dengan menatap penuh curiga pada sosok pria di depannya itu.


Pria itu diam lalu melihat kiri dan kanan memastikan keadaan setelah yakin aman pria itu merogoh sesuatu Yang ada di balik Jasnya lalu memperlihatkan sebuah batu Delima biru yang di lilit ular sehingga terlihat jika Delima itu di lindungi oleh ular.


"Princess ini palsu atau asli?" tanya Delyana yang beralih melirik Aruna.


Aruna tanpa ragu maju di depan Delyana lalu mulai mengambil dan mengamati benda itu sebelum menganggukan kepala.


"Ini asli. ini lencana pertanda kerajaan Blue" jawab Aruna yakin.


Walau Aruna sangat malas mengelilingi atau membaca di perpustakaan istana tapi Aruna tetap mengetahui mana lencana palsu dan mana lencana asli.


"Baiklah tunjukan dimana mobilnya?" kata Delyana yang menyerahkan dua koper yaitu koper miliknya dan milik Aruna ke pria itu.


"Silahkan Tuan Putri mengikuti saya" kata pria itu sopan.


Delyana dengan sigap langsung memegang tangan Aruna lalu menariknya pelan mengikuti langkah pria di depannya.


Sampai di mobil pria itu langsung membukakan jok belakang lalu mempersilahkan Aruna untuk masuk yang langsung di ikuti oleh Delyana.


"Tidak perlu kak, aku yakin di istana sudah di siapkan hidangan enak untuk aku makan nanti" kata Aruna dengan senyum manis di bibirnya.


"Baiklah jika itu mau mu" ucap Delyana mengelus pelan kepala Aruna.


"Mohon maaf Nona, tolong jauhkan tangan anda dari kepala Yang Mulia Putri mahkota" kata pria di samping kemudi.


"Diam....! apa aku menyuruhmu untuk bicara." kata Aruna ketus karna acara manjanya terhalang karna pria itu.


"Maafkan hamba Yang Mulia Putri" kata Pria itu penuh sesal.


Aruna yang sudah lapar tambah bad mood karna pria di depannya itu hingga ia melayangkan tatapan sinis ke arah pria itu.


Setelah berkendara hampir 1 jam kini mobil yang membawa Aruna berhenti di sebuah istana megah yang dari luar telah di dekor begitu cantik dan indah.


"Yang Mulia ini tudung anda" kata pria yang menjemput mereka dengan sopan menyodorkan sebuah tudung kepala kepada Aruna.


"Tidak perlu aku akan memperlihatkan langsung bagaimana wajahku" tolak Aruna membuat ketiga orang yang ada di dalam mobil itu terkejut.


"Princess pakailah akan ada saatnya kamu muncul di publik tapi tidak sekarang. aku tau kamu sudah kuat tapi kekuatan kamu sekarang tidak ada apa-apanya di bandingkan musuh kita di masa depan. jadi, tetaplah bersembunyi untuk melatih kekuatanmu hingga kamu setara atau bahkan bisa melampauinya setelah itu kita akan sama-sama muncul di depan publik dan seluruh dunia" kata Delyana dengan nada serius matanya menatap dalam bola mata Aruna.


Aruna yang mendengar penjelasan Delyana langsung tertegun Aruna memang tau jika ada beban yang begitu berat harus dia pikul itu pula yang membuat tekadnya kembali sangat besar. ia memang mencintai Arkana tapi keluarga dan negaranya adalah yang utama lagipula Arkana tak mencintainya lalu untuk apa bertahan hanya menggenggam tangannya sendiri tanpa balasan dari Arkana.


Aruna juga tidak menyangka bahwa Delyana bisa berkata seperti itu padahal Aruna sudah yakin jika dia sudah kuat dan bisa mengalahkan orang itu tapi mendengar penuturan Delyana membuat Aruna ragu akan kekuatannya sendiri.


"Jangan ragu, kekuatan kamu belum dari setengah dari kekuatan asli kamu tapi kamu harus mengasahnya nanti. tenang saja aku akan menjadi guru dan pelindungmu melindungi mu dari segala marah bahaya yang ada." kata Delyana lembut seperti sedang berbicara kepada adiknya sendiri.


"Baiklah" pasrah Aruna yang mengambil tudung itu lalu memakainya hingga wajahnya langsung tertutup dengan kain hitam.


Melihat sang putri telah memakai tudung kepala pria di depan mereka segera keluar lalu membukakan pintu untuk Sang Putri mahkota.


"SELAMAT DATANG KEMBALI PUTRI ASES"