Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Ungkapan tajam


Waktu berlalu dengan begitu cepat. Malam yang harusnya menjadi malam pernikahan Pangeran Zelan dan Delyana beserta Putri Mahkota Aruna dan Jendral Naren mini di tambah satu pasangan lagi yang tak lain dan tak bukan adalah Putri Arina dan Arkana.


Akad telah di lakukan kini ketiga mempelai wanita dan laki-laki segera di bawa di ruangan lain untuk mengganti pakaian mereka karna sekarang akan langsung di adakan resepsi pernikahan.


Aruna Dan Arina beserta Delyana ditempatkan di ruangan sama yaitu guna mempermudah dan mempersingkat waktu yang di gunakan untuk mengganti gaun yang di kenakan. Oleh ketiga wanita yang baru saja menjadi seorang istri itu.


"Aruna...."


Aruna yang sedang melamun itunlangsung tersadar saat mendengar seseorang memanggilnya. Aruna menoleh ke arah asal suara ternyata yang memanggilnya adalah Arina saudara kembarnya.


"Ada apa?" Tanya Aruna yang menatap datar Arina.


"Mungkin ini sudah terlambat, tapi aku ingin meminta maaf kepada kamu." Ucap Aruna yang menatap lurus Aruna yang hanya berekspresi datar.


"Minta maaf untuk yang mana? Untuk yang darahku terus kau peras? Untuk orang yang ku cinta dulunya kau rebut? Atau untuk yang mana lagi? Kesalahanmu terlalu banyak tanpa kau sadari Arina." Sarkas Aruna yang menatap sinis saudari kembarnya itu.


Arina yang mendekati penuturan dari Aruna hanya diam dengan kepala yang menunduk. Entah menyesal atau tidak hanya Arina yang mengetahui akan hal itu.


"Apa sekarang kamu belum juga bisa melupakan dan merelakan Naren untukku?" Tanya Arina yang entah kenapa terdengar sinis.


"Merelakan? Cih untuk apa aku memungut barang yang tak lagi bisa aku pakai. Di banding memilih Naren yang tak memiliki pendirian tinggi akan lebih menguntungkan aku memilih Arkana. Tampan? Jelas lebih tampan di banding suami kamu. Kaya? Tentu. Di bisa memberi apa yang aku mau dan lebih utama aku akan jauh dari kehidupan yang monoton dan penuh kepura-puraan ini. Dan terakhir dia mencintaiku lebih dari apapun." Balas Aruna yang tersenyum penuh kemenangan.


Sedangkan Arina hanya bisa bungkam karna semua yang di ucapkan Aruna adalah kebenarannya. Apa yang di katakan Aruna sepenuhnya benar. Di lihat dari segi apapun Arkana memang lebih unggul di banding Naren baik wajah maupun harta dan kekuasaan.


"Kamu tidak takut dia berpaling padamu dan melihat ke arahku? Di banding kamu aku lebih unggul. Aku mempunyai tahta dan kekuasaan."


"Kekuasaan?" Beo Aruna yang menatap remeh Arina sebelum tertawa terbahak-bahak.


Hahahaha


Deg


Arina yang mendengar itu langsung tertegun karna terlalu senang Arina sampai lupa fakta itu. Fakta yang sebenarnya benar-benar kenyataan yang harus dia terimah.


"Ah satu lagi harusnya kamu jaga baik-baik suami kamu. Aku tidak menjamin jika rasanya balik padaku." Ucap Aruna dengan senyum tipis.


"Kau......"


"Terakhir! Pastikan keturunanmu nanti tidak seperti dirimu yang merebut milik putraku atau putriku karna jika itu terjadi aku sendiri yang akan menghadapi mu. Bahkan mungkin juga menggulingkan kamu secara paksa dari kursi ratu." Kata Aruna yang menunjuk wajah Arina menggunakan telunjuknya.


"Putri Aruna tolong jaga sikap anda. Bagaimana Arina merupakan Putri Mahkota sedangkan kamu hanyalah putri biasa."


Suara datar itu membuat kedu wanita yang sedang berdebat itu membalik badan. Hingga bisa menatap wajah tampan Naren walau tidak setampan Arkana.


"Turunkan tatapan jelekmu pada Ratuku Jendral Narendra!"


Aruna yang baru membuka mulut langsung tertutup kembali saat mendengar suara berat dan seksi itu menyapa pendengarannya.


"Jika kalian dan kerajaan ini tidak bisa mengratukan dirinya biarkan aku yang mengratukannya. Orang luar tidak perlu urusan pribadi kami." Kata Arkana yang memeluk pinggang ramping Aruna dengan mesra.


"Ayo kita keluar." Arkana dengan lembut menuntun pengantinnya itu untuk keluar dari ruangan itu karna mereka semua sudah siap.


Namun saat mencapai pintu Arkana berhenti dan otomatis Aruna juga berhenti. Arkana hanya tersenyum tipis pada sang istri yang terlihat begitu cantik lalu membalik badan menghadap Putri Mahkota Arina dan Jendral Naren.


"Apa yang di katakan oleh Ratuku maka itu adalah kebenaran. Mau salah atau pun benar apa yang di katakannya walau salah namun, jika dia berkata benar maka jawabannya benar. Tidak ada kesalahan dalam Ratuku. Dan anda Putri Mahkota Arina, Tenang saja aku akan membawa pengantin ku keluar malam ini juga. Tapi aku ingatkan pastikan jika nanti keturun dari kalian berdua tidak mengusik atau merebut apa yang menjadi milik putra putriku jika itu terjadi akan aku luluh lantakkan kerajaan kebanggaan mu ini, Camkan itu.!"


Selepas berkata seperti itu Arkana langsung membalik kembali badannya menuntun Aruna untuk keluar. Sedangkan di dalam Putri Mahkota Arina dan Jendral Naren hanya bisa terdiam kaku dengan pikiran masing-masing.