
"Aku tidak akan jatuh pada lubang yang sama lagi, tidak akan. semua wanita sama saja mereka hanya haus akan Tahta, Harta, dan kekuasaan tidak ada yang tulus mencintaiku seperti ibu."
Arkana tiba-tiba mengepalkan tangannya saat mengingat dia di khianati dua orang yang sangat amat dia sayangi dan percayai namun Arkana menelan pahit akan Penghianatan keduanya di belakangnya.
"Bahkan orang yang sudah menemaninya selama berpuluh-puluh tahun, membangun semuanya dari nol, berjanji untuk tidak menduakan tapi semua itu di ingkari."
"Pria hanya membual mengatakan cinta namun semua itu hanya nafsu semata sedangkan wanita cih mereka hanya mengejar harta semata"
Mata Arkana memerah karna menahan amarah namun Arkana semakin kesal saat hatinya begitu gelisah akan keadaan Aruna. hatinya merasakan perasaan tidak rela dan itu membuat Arkana tidak menyukai perasaan seperti itu. lamunan Arkana langsung buyar saat pintu kamar hotel melayang di udara dan jatuh di dekatnya dengan Keras.
BRAKK
"S****n siapa yang berani mengganggu ketenangan ku ha....?" amuk Arkana.
"Aku?" sahut sosok cantik yang memasuki kamar Arkana di ikuti dua orang di belakangnya.
"Aruna? Johan ada apa ini?" tanya Arkana menatap tajam pria di belakang Aruna yang merupakan sang Asisten.
Aruna berjalan mendekat ke arah Arkana dengan tatapan mata yang aneh. sampai di depan Arkana tanpa aba-aba Aruna langsung mengayunkan tangannya hingga terdengar bunyi tamparan yang sangat keras.
PLAK.....
"Berani kamu menamparku ha....?" bentak Arkana menatap tajam Aruna.
"KENAPA NGGAK? APA SALAHKU HINGGA KAU DENGAN BEGITU TEGA MENYERAHKAN AKU KE ASISTEN KAMU UNTUK DI NIKMATI HA....? APA SALAH CINTAKU HINGGA KAU BEGITU MENATAPNYA RENDAH...? APA SALAHKU YANG HARUS MENCINTAIMU...? KATAKAN APA SALAHKU...?" teriak Aruna di depan wajah Arkana.
Mendengar pertanyaan Aruna yang berurutan membuat Arkana langsung terdiam mematung. Arkana tidak tahu harus berbicara apa untuk menjawab pertanyaan Aruna.
"KENAPA DIAM? JAWAB PERTANYAAN AKU ARKANA ZEUS ALBARACK...?" bentak Aruna.
Deg
Entah kenapa hati Arkana terasa begitu sakit dan sesak mendengar bentakan Aruna.
"Salahmu karna mencintaiku dan aku tidak mencintaimu" ungkap Arkana setelah sekian lama terdiam.
"Salahku?" beo Aruna menunjuk diri sendiri.
"YA...! SEMUA SALAHKU KARNA JATUH CINTA PADAMU TAPI AKU TIDAK TAU CINTAKU AKAN BERLABUH PADA SIAPA. JIKA AKU TAU AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN HATIKU JATUH PADA ANDA TUAN ARKANA YANG TERHORMAT" ucap Aruna sinis.
Deg
Arkana merasakan dadanya sesak dan sakit melihat tatapan mata Aruna yang begitu sendu dan rapuh. mata biru yang biasanya memancarkan pandangan penuh binar kini mata itu hanya memancarkan kesedihan.
"Aku hidup dan tumbuh di lingkungan yang begitu memperlakukan aku seperti ratu. aku hidup hanya tau di layani tapi demi kamu aku bahkan melepaskan semua itu dan bahkan rela melepaskan tahta ku. aku yang dulu makan selalu di atur dan tak pernah telat karna mu aku harus menahan lapar ku ataupun ngatuk ku hanya untuk belajar cara memasakkan makanan kesukaanmu. Kulitku yang dulunya putih dan mulus seperti porselin harus rela memiliki tanda hanya karna minyak goreng. semua aku lakukan untukmu tapi kenapa hiks... kenapa kamu tidak menghargai ku sedikit saja." kata Aruna dengan tangis yang mulai pecah.
"A....aku.... ak...aku...." Arkana tidak bisa berkata apa-apa suaranya seperti tercekik di tenggorakan.
Dada Arkana semakin sesak melihat air mata mengalir dari pelupuk mata indah Aruna. kenapa begitu sakit dan sesak seperti ini pikir Arkana yang mengepalkan tangan.
"Aku memang mengejar mu tapi tapi aku tidak pernah melemparkan diriku atau memanjat ranjang mu lalu dimana hak mu yang hanya orang asing berani melempar ku di atas ranjang orang lain ha.....?" teriak Aruna seketika yang langsung memancarkan aura intimidasi membuat Arkana dan dan Johan kaget.
Sedangkan si sosok bertudung kini menarik sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyum tipis.
"Ternyata kekuatan sang putri memang sudah maju pesat tanpa bimbingan dari kitab itu." kata sosok bertudung dalam hati menatap penuh kagum dan bangga pada Aruna.
"Aku rela melepas tahta, kekuasaan dan harta ku tapi aku tidak sudi melepas mahkota ku pada pria yang bukan suamiku" teriak Aruna menggebu-gebu.
Deg
Kini Arkana langsung tertegun saat mendengar penuturan Aruna yang begitu tegas dan yakin.
"Apa maksud dari melepas tahta dan kekuasaan kenapa aku merasa gadis ini mempunyai identitas yang tidak biasa bahkan mungkin lebih berkuasa di banding kami para king dunia bawah" batin Johan menatap Aruna dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Daripada bingun lebih baik aku bertanya sama si tudung itu" guman Johan melirik sosok bertudung di sampingnya.
Johan melangkah mendekati sosok bertudung dengan tujuan ingin bertanya tapi sebelum bertanya sosok itu sudah menatap tajam dirinya dengan memainkan api kecil di ujung jarinya.
Sontak Johan langsung mundur seketika saat melihat api di tangan sosok itu. Johan masih ingat dengan jelas bagaimana sakit dan tersiksanya tadi karna api itu di masukan ke dalam mulutnya.
"Gila..... dia benar-benar bukan manusia tapi masa zaman sekarang masih ada penyihir sih" guman Johan bergidik ngeri.
Kembali ke sisi Arkana dan Aruna kini keduanya hanya berdiri dalam diam dengan tatapan mata yang berbeda. Jika Arkana menatap datar ke arah Aruna maka Aruna menatap penuh kekecewaan dan sedikit rasa benci ke arah Arkana.
"Kau tidak mencintai ku bukan? kau tidak ingin aku mendekati kamu lagi bukan? kamu ingin aku pergi 'kan?" Aruna bertanya dengan suara rendah.