Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Terungkap kebenaran


Tak terasa sebentar malam adalah hari pernikahan Putri Mahkota Arina dan Jendral Naren sekaligus pernikahan Pangeran Zelan dan Delyana.


Mengenai keberadaan Aruna sudah di umumkan 3 hari yang lalu saat mereka baru sampai di Istana. Banyak warna negara M yang tidak setuju dengan Arina yang menjadi Ratu karna sesungguhnya yang menjadi pahlawan bagi mereka adalah Aruna.


Semua Rakyat sekitar Istana Blue sudah mengetahui jika yang berkorban banyak dan memenangkan perang adalah Aruna Sosok putri yang mereka juga tidak bisa tebak apakah yang mereka kenal selama ini dia atau Putri Arina.


Tapi Aruna menegaskan bahwa ia tidak menginginkan tahta itu. Aruna hanya mengatakan jika ia mencintai kebebasan.


Semenjak di istana jarak Arkana dan Aruna semakin merenggang terlihat beberapa kali Aruna yang menghindari Arkana.


Di belakang Istana sebuah taman bunga duduklah sepasang dua orang berbeda layaknya kekasih tapi sayangnya mereka saudara kandung.


Kedua sosok itu tak lain adalah Aruna dan Zilan yang tengah duduk di gazebo di tengah-tengah taman itu di bawah pohon rindang yang sengaja di tanam untuk melindungi gazebo itu agar tidak panas terkena matahari.


"Gimana perasaan Kakak?" tanya Aruna yang melirik Zilan.


"Wihhh tumben panggil kakak nih" balas Zilan yang menggoda Aruna.


"Ck, jawab aja Kak?" ucap Aruna menatap sinis Zilan.


"Perasaan yang mana Aru? Aku...."


"Cih Kakak pikir aku tidak tahu kalau kalian selama ini dekat" potong Aruna cepat dengan senyum sinis.


"Huuuh padahal kamu tertidur cukup lama tapi kamu mengetahui segalanya. sebenarnya kamu punya kekuatan apa Princess?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan Kak"


Huhh


Melihat Aruna yang terus mendesaknya membuat Zilan hanya bisa menarik dan membuang napas saja.


"Aku memang mencintainya tapi mungkin kebahagiaan berada pada Zelan lagipula.... Delyana butuh pria yang perhatian dan selalu ada untuknya seperti Zelan tidak seperti ku yang sibuk dan menghilang" Ucap Zilan sendu.


"Apa Zelan tahu kalau kalian pernah menjalin....."


"Aku tidak tahu. mungkin Delyana akan memberi tahunya atau tidak terserah mereka saja. aku tak ingin ikut campur lagi" kata Zilan dengan menunduk menatap sendu kakinya.


Zilan mencintai Delyana akan tetapi Zilan lebih memperhatikan Aruna di banding Delyana oleh karena itu Delyana merasa Zilan tidak memperhatikannya.


"Lalu apa yang akan Kakak Lakukan?" tanya Aruna setelah mereka terdiam cukup lama.


"Mungkin aku kan menjauh untuk sementara waktu untuk mengobati lukaku" balas Zilan.


"Lalu bagaimana dengan mu? sampai kapan kamu akan berpura-pura Amesia seperti ini? berpura-pura melupakannya? padahal kamu tau sekarang dia benar-benar mencintaimu dengan tulus"


"Aku tidak tahu hatiku masih terlalu sakit mengingat semuanya. walau di sisi lain aku ingin memeluknya tapi.... rasa kecewa ini terlalu dalam" ucap Aruna yang menunduk sedih.


Tanpa keduanya ketahui Arkana tengah berada di belakang mereka mendengar semua perkataan Zilan dan Aruna.


Aruna yang mencari Aruna bermaksud untuk berbicara baik-baik pada gadis itu malah di tuntun ke sini.


"Lalu bagaimana dengan mu? sampai kapan kamu akan berpura-pura Amesia seperti ini? berpura-pura melupakannya? padahal kamu tau sekarang dia benar-benar mencintaimu dengan tulus"


Tubuh Arkana menegang di tempat dengan kaki yang lemas terasa tak bertulang. Arkana terhuyung ke belakang jika tak mengenai pohon mungkin sudah terjungkal.


Apa ini? kenapa dia mendengar ini? Arkana tidak memahami semuanya namun satu yang dapat dipahaminya jika Aruna selama ini berpura-pura lupa ingatan dan Zilan mengetahui akan hal itu. Arkana merasa lemah seketika mengetahui fakta yang benar-benar sangat mengejutkannya.


apakah Arkana marah? jawabannya tidak. Arkana hanya merasa sedikit kecewa karena di bohongi sejauh ini. tapi Arkana mengerti karena mungkin kesalahan yang terlalu besar.


Dengan langkah gontai Arcana berjalan mendekati Aruna dan Jilan yang tengah menatap kosong di depan sana.


"Aru"


Zilan dan Aruna tersentak kaget saat mendengar suara itu. -keduanya sangat mendengar suara itu yang pemiliknya tak lain dan tak bukan adalah Arkana.


"Selesaikan masalah kalian berdua dengan tuntas. ingat jangan mengambil keputusan yang dangkal lagi. Aku pikir apa yang didapatkan Arkana sudah lebih dari cukup hukuman yang kamu berikan Aru" pesan Zilan yang meninggalkan keduanya.


"jadi kamu hanya berpura-pura tidak mengingatku?" tanya Arkana dengan suara datar namun terdengar sendu.


"Ya"


"Kenapa?"


"MASIH BERTANYA KENAPA? KAMU LUPA APA YANG KAMU LAKUKAN DI MASA LALU TERHADAPKU? MENOLAKKU BERKALI-KALI DENGAN KALIMAT PEDAS? MELEMPARKU KE ATAS RANJANG SAHABATMU SENDIRI? KAMU PIKIR AKU AKAN MELUPAKAN SEMUA ITU? TIDAK! KAMU JUGA HARUS MERASAKAN APA YANG AKU RASAKAN. DITOLAK BERULANG KALI DENGAN KATA-KATA KASAR DAN JUGA TIDAK DI HARGAI"


Aruna berucap dengan lantang menatap tajam Arkana yang berdiri mematung di depanmya.


"Apa sekarang kamu puas?"


Hening


hanya satu kata itu yang bisa menggambarkan kondisi mereka untuk saat ini.


"Baiklah. kita menikah malam ini"


"APA....!'