Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Kenyataan


"Selamat siang Nona" sapa Brayen dengan tersenyum manis.


Aruna yang mendengar suara merdu nan lembut di depannya langsung mendongak hingga melihat sosok tampan dengan wajah tampan sempurna dan tubuh yang gagah perkasa.


"Wow tampan" kata Aruna menatap binar pria di depannya.


"Ingin makan siang bersamaku?"


"Makan siang? mau mau"


Brayen hanya tersenyum lalu menarik lembut tangan Aruna membawanya masuk ke dalam restoran itu.


Aruna masuk dalam restoran dengan di ikuti Brayen dan Rigel di belakangnya. duduk di kursi ujung memesan makanan dengan beberapa aneka rasa.


Jika Aruna sedang santai menunggu makanannya maka berbeda dengan Arkana yang tengah mengamuk dalam ruangannya karna tak menemukan keberadaan Aruna.


Arkana yang baru keluar dari ruang meeting segera berjalan cepat menuju ruangannya untuk melihat gadis pujaannya yang dia tunggu 1 jam lamanya.


Namun senyum Arkana pudar saat sampai di ruangannya bukannya menemukan keberadaan Aruna malah di suguhkan dengan bungkusan Snack yang berhamburan di lantai. Tapi Arkana acuh akan hal itu lalu memanggil Aruna namun setelah beberapa memanggil nama sang Gadis senyum Arkana luntur saat melihat jika gadis pujaannya itu tidak ada dalam ruangan itu. maka mengamuklah Arkana.


"JOHAN.....!" Teriak Arkana yang menggelegar membuat Johan yang berada di luar langsung menuju kemari.


"Ada apa Bos?" tanya Johan dengan napas yang ngos-ngosan.


"Pergi ke ruangan CCTV cari dimana keberadaan Aruna!" perintah Arkana datar dan dingin.


"Aruna...? memang gadis itu kemana Bos?"


"Jika aku tahu aku tidak menyuruh kamu untuk mencarinya Johan" sentak Arkana yang menatap tajam Johan.


"Baik Bos" balas Johan yang berbalik jalan dengan garuk-garuk kepala.


"Gadis itu benar-benar......... setelah terbangun dari tidur panjangnya malah membuat semua orang pusing di buatnya. nggk ulah di mension di perusahaan pun dia membuat ulah." Gerutu Johan yang sedikit kesal akan sifat dan kelakuan Aruna yang benar-benar bar-bar dan selalu membuat ulah dimana pun gadis itu berada.


"Dulu dia begitu mencintai bahkan tanpa malu mengejar Arkana. Namun sekarang..? Gadis itu bahkan tanpa malu menyukai semua pria tampan. apa dia benar akan membangun Harem?"


Johan terus mengomel sepanjang jalan hingga sampai di ruangan yang tujuh.


Samoai di ruangan CCTV Johan segara mengotak Atik hingga dapat menemukan apa yang di carinya.


"Bos...."


"Bagaimana?"


"Nona Aruna sepertinya ada direstoran depan perusahaan kita." lapor Johan.


Srettt


Tanpa aba-aba Arkana langsung berlari keluar. Johan yang melihat itu segera mengejar Arkana dari belakang.


"Aku penasaran gimana ekspresi nya menyaksikan Aruna sedang makan siang bersama dua pria sekaligus hehehe"


Sampai di lantai bawah Arkana segera berlari keluar setelah pintu lift terbuka. Arkana berlari menyebrang jalan tanpa memikirkan keselamatannya karna sekarang dia benar-benar khawatir terhadap Aruna. Arkana tau jelas gadis itu tidak memegang uang sepersen pun bahkan ponsel saja di tinggalkannya dalam ruangannya.


Sifat Aruna sangat berbeda jauh dengan yang dulu. Aruna sangat malas memegang uang karna selama ini jika dia menginginkan sesuatu dia akan meminta kepada Arkana.


Deg


Arkana berlari dengan cepat memasuki restoran itu. Namun sampai disana Arkana berdiri menegang melihat Aruna yang duduk tenang dengan di temani dua orang pria tampan dan Arkana tebak umurnya pasti lebih muda dari Aruna.


"Ya Tuhan kapan semua ini berakhir" teriak Arkana dalam hati menarik napas Frutasi.


Dengan langkah lebar Arkana berjalan menghampiri Aruna dan kedua pria itu.


"Aruna...."


"Eh Kakak galak"


"Pulang ya?" kata Arkana lembut namun terdengar datar.


"Pergilah. aku akan datang di pernikahan kalian nanti" ucap Brayen dengan senyum tipis sangat tipis.


Eh


"Tuan Arkana saya tidak pernah ingin mengejar atau merebut Nona Aruna dari anda. Tapi...... biarlah waktu yang memberitahukan kepada kalian." lanjut Brayen yang beranjak pergi di ikuti Rigel.


Tak lupa keduanya membungkukkan badan kepada Arkana dan Johan sebagai tanda penghormatan.


BRAK


"Eh Ka...."


"Arkana Aru.... Arkana bukan Kakak galak atau apalah itu. aku ingin kamu memanggil ku dengan nama Arkana!" kata Arkana penuh penekanan yang menyandarkan Aruna ke pintu lalu di kurung dengan kedua tangannya.


"Kamu marah?" tanya Aruna polos.


"Kamu masih bertanya? Jelas aku marah Aru! Aku cemburu! tapi kenapa kamu tidak mengerti...?" ucap Arkana menatap dalam Aruna yang hanya diam.


"Bukankah sudah aku katakan jika aku menyukai mu? aku mencintaimu lalu......"


"Tapi aku tidak menyukai kamu....."


"Itu karna kamu tidak mengingatku Aru..... kamu mencintai ku bahkan mengejarku terlebih dahulu kamu......"


"Tidak mungkin! Aku tidak mungkin mengejarmu apalagi mencintaimu. Selama ini aku hanya mencintai satu orang saja dan itu......"


"Dan itu Aku Aruna....Kamu mencintaiku!"


"NO. Aku hanya mencintai Nare yaitu TUNANGAN KAK ARINA"


Deg