
Suara klakson mobil begitu memekikkan telinga namun pengendara itu tidak peduli Yang ada di pikirannya sekarang adalah bagaimana dia bisa sampai di mansion dengan cepat.
"Si4l4n Kenapa jalan harus macet seperti ini" umpat sosok itu menatap kesal jalan raya yang begitu macet.
Seseorang itu tak lain dan tak bukan adalah Arkana Arkana yang sedang mengadakan pertemuan dengan klien penting dari Paris namun tanpa ragu meninggalkannya setelah ia menerima telepon dari Zilan si pria sinting yang tinggal di mansionnya.
Flashback
Arkana duduk tenang di sebuah ruangan di temani Johan di sampingnya dan di depannya ada pria paruh baya dan seorang wanita muda. Pria paruh baya itu adalah klien penting dari Paris sedangkan wanita muda di sampingnya adalah putrinya.
"Maaf membuat Anda menunggu tuan Leon" ungkap Johan.
Mereka berdua memang datang terlambat 5 menit namun menunggu bosnya untuk meminta maaf adalah hal yang mustahil di lakukan oleh Arkana dan sekarang maka Johan lagi yang harus meminta maaf
"Tidak apa-apa tuan Johan saya paham pasti Tuan Arkana memiliki pekerjaan yang tidak sedikit di kantor mengingat dia adalah raja bisnis bukan begitu Tuan Arkana?" Tuan Leon.
"HM ya" jawab Arkana acuh tak acuh.
"Perkenalkan ini Calista putri saya dia yang akan....." Kalimat Tuan Leon langsung terpotong saat Arkana yang langsung mengangkat telepon.
"Ada apa?"
"Cepat pulang Aruna..."
"Ada apa dengan Aruna si4l4n?" Teriak Arkana yang langsung berdiri dari duduknya.
Wajah Arkana yang tadinya datar langsung berubah berganti dengan wajah panik bahkan sampai memucat.
"Cepat pulang! Aku tidak tahu harus menjelaskan bagaimana hiks" kata Zilan di seberang telepon sana dengan menahan tangis walau tidak bisa menahannya.
"Tunggu Aku! Aku akan segera pulang" kata Arkana yang mematikan sambungan telepon sepihak.
"Maaf saya ada urusan penting. silakan lanjutkan dengan asisten saya Johan jika tidak setuju maka batalkan saja kerjasamanya" kata Arkana yang terdengar buru-buru.
Setelah berkata seperti itu Arkana langsung berlari keluar meninggalkan Johan bersama Tuan leon dan Calista.
"Maaf sepertinya Bos Arkana sedang ada masalah yang tidak dapat di undur mungkin benar-benar urgent" ucap Johan yang berusaha tenang walau dalam hati dia juga sedikit panik, khawatir, dan cemas akan keadaan sosok Aruna.
"Tuan Johan itu..... Kalau boleh tahu siapa Aruna?" Tanya Calista yang ingin tahu tentang Aruna.
" Wanita ini sepertinya tertarik kepada bos Namun sayang aku harus mengecewakannya" kata Johan dalam hati.
"Nona taruna adalah tunangan Bos Arkana Namun sayang 2 minggu yang lalu Nona Aruna mengalami kecelakaan membuatnya koma sampai sekarang" terang Johan.
Wajah Calista yang tadinya cerah seketika pudar menjadi wajah masam. Tuan Leon yang melihat wajah cemberut putrinya hanya bisa menghilang nafas Tuan Leon tahu putrinya itu tertarik dengan Arkana sang Raja bisnis itu. Andaikan Arkana masih belum mempunyai calon pasti Tuan Leon akan mengusahakan putrinya bersanding dengan Arkana namun setelah mendengar jika Arkana sudah mempunyai tunangan di tambah melihat wajah panik nya itu tadi saat menerima telepon Tuan Leon tahu jika pria sang raja bisnis itu begitu mencintai wanita yang menjadi tunangannya.
Flashback end
Sepanjang jalan hanya kata itu yang terus keluar dari mulutnya andaikan jarak mansionnya tinggal 1 km lagi maka Arkana akan memilih meninggalkan kendaraan 4 roda itu tanpa peduli dengan harganya.
Arkana akan memilih untuk berlari namun dia tidak bisa apa-apa karena jarak yang begitu jauh sekali. Arkana hanya bisa terus berdoa agar semua baik-baik saja.
Setelah berperang dengan jalan yang macet akhirnya Arkana bisa sampai di mansion miliknya.
BRAKK
Arkana yang yang sudah gelisah dari tadi memarkirkan asal mobilnya lalu turun berlari masuk dalam mansion yang langsung berlari menaiki tangga menuju lantai 3 bahkan saking paniknya Arkana sampai lupa jika dalam mention itu ada lift.
BRAKK
Arkana yang sampai di depan pintu kamar yang ditempati oleh Aruna tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu segera masuk dan membuka secara kasar pintu itu.
Mata Arkana membulat, jantungnya berdebar kencang, tubuhnya kaku dengan kaki yang lemas membuatnya terhuyung ke belakang dan bersandar pada dinding. Matanya benar-benar terpaku pada pemandangan pemandangan di depannya di mana Zilan telah menangis dengan terisak yang begitu ah... Sangat sulit untuk di jabarkan namun yang membuat kaku karena bukan itu melainkan sosok lain yang ada dalam pelukan Zilan.
Aruna, sosok itu adalah Aruna yang ada dalam pelukan Zilan sosok yang telah tertidur nyenyak selama 2 minggu terakhir tanpa membuka matanya. Sosok itu kini telah membuka matanya bahkan kini tengah terduduk memeluk Zilan.
Bahagia?
Demi Tuhan, Arkana benar-benar bahagia panjat puji tuhan Arkana panjatkan kepada Tuhan. Matanya memerah menahan air mata bukan karena menangis sakit melainkan air mata haru. Air mata kebahagiaan karena sosok itu, sosok yang telah dia tunggu-tunggu telah sadar dari tidur panjangnya.
Arkana ingin mendekat, mendekat lalu memeluk Aruna namun melihat Zilan dan Aruna yang saling memeluk erat mencurahkan perasaan masing-masing membuat Arcana Tak punya nyali untuk mendekat lalu memisahkan pelukan keduanya.
Arkana sadar saat mendengar suara tangisan Zidan yang tidak dapat di tahan yang menandakan bagaimana Zilan yang begitu menyayangi Aruna dengan sangat besar dan Arkana juga sadar yang di butuhkan Aruna sekarang adalah Zilan sebagai saudaranya bukan orang lain termasuk dia.
"Aku sangat senang akhirnya kamu sadar, setelah sekian lama menutup Mata akhirnya kamu membuka matamu. demi Tuhan, aku ingin sekali memeluk dan mendekap mu dalam pelukan ku mengatakan bagaimana aku merindukan dan mencintai mu namun saat melihat keadaan sekarang, aku sadar orang yang kamu butuhkan sekarang adalah dia, Zilanda kakakmu bukan orang seperti aku yang hanya bisa menyakiti hati kamu begitu dalam" ungkap Arkana dalam hati.
Arkana menatap nanar kepada Zilan dan Aruna yang masih saling memeluk tanpa menyadari akan kehadirannya yang ada dalam ruangan yang sama.
Arkana hanya tersenyum masam sebelum membalik badannya lalu mulai melangkah keluar dari kamar itu dengan tanpa suara. Arkana berjalan lunglai menuju kamarnya sendiri. Pikiran Arkana benar-benar kosong sekarang matanya bahkan memancarkan kehampaan
Arkana senang karena akhirnya Gadis pujaannya itu membuka kembali matanya namun di sisi lain Arkana juga merasa kecewa marah cemburu. cemburu karena orang yang menjadi orang pertama yang dinlihat oleh Aruna saat membuka mata bukan dirinya.
Marah karena bukan dirinya yang ada di samping Aruna Bahkan dia orang yang di peluk Aruna.
Kecewa karena bukan dia orang yang menerima tangisan kebahagiaan Aruna.
Egois?
Arkana akui dia memang egois karena cemburu kepada Zilan pria yang jelas-jelas kakak laki-laki dari Aruna namun tetap saja Arkana tidak menyukai akan hal itu dan melihat Zilan yang tadi memeluk erat Aruna jujur itu membuat hatinya ikut terbakar.
"Si4l. harusnya Aku tadi tidak berangkat ke kantor Dan harusnya tadi malam aku tidur di sana agar Aruna terbangun orang pertama yang dia lihat adalah aku bukan pria sinting itu" gerutu Arkana yang menggeram kesal.