Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Sosok berbaju merah


Arkana menatap tajam puluhan orang yang memakai pakaian yang serba merah di depannya. Arkana tak gentar sedikit pun walau sekarang dia hanya sendirian tanpa dari anak buahnya namun bukan berarti membuatnya takut. Arkana yang telah terbiasa bertempur di Medan perang hanya berdiri tenang menggenggam sebilah pedang di tangannya.


"Siapa kau?" tanya pria yang paling di depan yang mungkin ketua dari orang yang berbaju merah.


"Menurut mu" tanya Arkana balik dengan smirk yang terlihat menyeramkan.


"Siapa dia? menurut informasi tidak ada yang bersangkutan dengannya atau jangan-jangan dia......" orang itu tidak jadi memikirkan apa yang ada di benaknya tapi dia juga penasaran.


"Apa kamu adalah calon selir dari Putri sampah itu" kata pemimpin baju merah itu dengan tersenyum sinis.


Arkana yang mendengar hinaan orang itu untuk Aruna menggertakkan gigi menahan amarah.


"Sampah? sampah teriak sampah" balas Arkana dengan senyum meremehkan.


"Sialan.... kamu menganggap aku sampah ha...? kamu memang bosan hidup" teriak pria itu dengan tinggi.


"Aku bosan hidup? tapi sayangnya belum, aku belum bisa memiliki hati wanita ku jadi aku belum mau mati" balas Arkana santai


Mendengar itu pria di depan Arkana semakin meradang menahan emosi. dirinya benar-benar di permainkan oleh Arkana.


"KAMU......"


pria itu baru saja akan berteriak lagi tapi langsung terhenti saat melihat beberapa orang yang muncul di belakang Arkana.


Arkana yang mendengar suara langkah kaki di belakangnya Arkana segera membalik badan. mata Arkana membulat saat melihat Aruna yang berdiri tegak menatap tajam pria di depannya.


"Apa yang kamu lakukan Aruna? kenapa keluar disini berbahaya." teriak Arkana menatap tajam Aruna.


"Seorang pemimpin tidak akan lari dari tanggung jawabnya walau nyawa harus taruhannya" ucap Aruna tegas.


HAHAHAHAHAHAHAHA


"PEMIMPIN? JANGAN HARAP TIDAK ADA SATU ORANG PUN DI ANTARA KALIAN YANG PANTAS MENJADI PEWARIS TAHTA KARNA ITU MILIK TUAN KU HAHAHA" ucap pria itu lantang sambil tertawa terbahak-bahak.


"Lebih baik kamu sampaikan kepada Tuan mu yang pengecut itu jika sampai kapan pun dia tidak akan menang" balas Aruna dengan tegas.


Mendengar ucapan itu membuat pria itu menghentikan tawanya lalu ekor matanya menatap Aruna.


"Tuan ku akan menjadi Raja dan saat itu terjadi kau dan seluruh keluarga br*ngs*k kamu itu akan menjadi budak Tuan ku terutama kamu yang akan menjadi budak nafsu kami hahaha" ucap pria itu tertawa jahat.


Bugh


"S*alan siapa yang melempar ku b*ng*at" teriak pria itu marah.


"Lagi lagi aku terlambat bertindak" kata Arkana dalam hati menggenggam erat pedang di tangannya.


"Apa-apaan ini kamu cemburu? haha 2 orang pria memperebutkan 1 orang wanita hahaha benar-benar j*l*ng" desis pria itu.


"TUTUP MULUT BUSUK MU ITU S*AL*N" bentak Arkana yang sudah menggebu-gebu.


"Tapi..... ngomong-ngomong dimana dia? kenapa dia tidak ada disini. apa dia sudah mati?" ucap pria itu tiba-tiba terdengar sinis.


"Apa maksud mu" tanya Zilan datar dan dingin.


"Maksud ku tubuh dia begitu nikmat aku sampai menjatuhkan air liur ku melihat tubuh mulusnya tapi sayang dia memilih melawan yang terpaksa aku serang" ucap pria itu santai.


Sontak mendengar penuturan pria di depan mereka semua orang langsung membelalakkan mata kecuali Arkana tentunya.


Tangan Zilan mengepal dengan sangat erat begitu pula Zelan, Raja Arthur, Aruna, dan Jendral Naren.


"Jadi kamu kalian......" Raja Arthur tidak bisa melanjutkan lagi ucapannya.


"Tentunya. tapi sayangnya dia lebih memilih kematian daripada menjadi budak na*su ku"


"BR*NGS*K..... BERANINYA KAMU MENYAKITI ADIKKU AKU TIDAK AKAN MENGAMPUNI KEPARAT" teriak Zilan yang langsung menerjang pria itu.


Bugh


Bugh


Bang


BRUKKK


"KAK ZILAN"


"ZILAN"


"PANGERAN"


Teriak Raja Arthur, Zelan, Aruna dan Arjun secara bersamaan saat melihat tubuh Zilan di tendang melayang dan menabrak tembok gerbang istana.


Uhukk uhukk


Zilan terbatuk-batuk hingga darah keluar dari mulutnya. dengan susah payah Zilan tetap memaksakan diri untuk bangun dan berdiri tegak.