
"Ada apa dengan jantungku? kenapa aku merasa kamu berada di sekitar sini baby? Apa kamu benar-benar ada di sini atau kah aku yang terlalu merindukanmu " pria itu yang merupakan Arkana.
"Tuan sebentar lagi kapal akan sadar"lapor pria yang baru saja datang sosok itu tak lain dan tak bukan adalah Johan sang asisten dari seorang Arkana.
Mendengar itu Arkana hanya diam berdiri lalu berjalan turun ke bawah karena posisinya sekarang berada di lantai tertinggi kapal.
"Hah ditinggal mulu"Garut tuh Johan yang berbalik lalu mengikuti langkah Arkana yang menuruni anak tangga satu persatu hingga menit berikutnya mereka berdua sampai di lantai paling bawah.
Arkana berdiri dengan tenang mengawasi keadaan sekitar hingga tiba-tiba matanya menyipit titik Arkana dapat merasakan dan melihat ada banyak orang yang bersembunyi di dalam kegelapan malam membuat Arcana lagi-lagi dia di usik.
"Berapa persediaan senjata yang di bawa?" Suara datar Arkana terdengar menahan amarah membuat Johan tertegun.
"Ada apa Bos?" Tanya Johan menatap serius ke arah Arkana.
"Pelabuhan ini telah dikepung oleh sekelompok orang" kata Arkana dengan nafas yang memburu serta mata yang menajam.
"Masa sih bos?" Ucap Johan yang kurang percaya.
"Coba perhatikan segala sisi pelabuhan ini. Di dalam kegelapan sana dan di atas pepohonan ada orang yang bersembunyi dan mengawasi kita" kata Arkana yang matanya menatap tajam dalam kegelapan sana.
Mendengar itu Johan dengan patung mengedarkan pandangannya ke seluruh area pelabuhan terutama di pepohonan sekitar hingga kedua mata Johan melotot karena apa yang dikatakan oleh Arkana adalah kebenaran.
"Kelompok mana lagi ini? Kenapa aku tidak bisa hidup bersantai dalam satu hari saja. Mereka semua benar-benar menyebalkan" gerutu Johan.
Kapal Arkana adalah di sandarkan Arkana langsung memberi kode kepada Johan untuk siaga. Baru saja Arcana membuka mulutnya untuk bicara hingga tiba-tiba anak panah meleset hampir mengenainya.
Syut
Tak
"Sial. mereka rupanya sudah mulai" tempat Arkana.
"Bos Kenapa mereka tidak menggunakan pistol malah menggunakan anak panah?" Tanya Johan dengan kerutan dahi yang semakin dalam.
"Sudah aku bilang di sini berbeda dengan dunia luar penduduk di sini lebih mengutamakan alat tradisional seperti pedang dan anak panah untuk bertarung sedangkan pistol hanya beberapa orang saja yang bisa seperti anggota kerajaan" terang Arkana.
Johan yang masih penasaran berniat membuka mulut untuk bertanya lagi namun dihentikan saat puluhan anak panah menuju mereka.
Syut syut syut syut
"Cari perlindungan" teriak Johan yang langsung mencari persembunyian.
Arkana yang melihat anggotanya diserang pun menggeram kesal karena mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
"Sial Aku benar-benar ingin membunuh mereka tapi ini bukan wilayah kekuasaan ku " tempat Arkana dengan menahan amarah.
Arkana sangat ingin membunuh mereka semua namun dia sadar ini bukan wilayah kekuasaannya. Arkana sangat malas berurusan dengan aparat negara apalagi jika harus berurusan dengan kerajaan blue walau negara m masih memegang teguh sistem pemerintahan berupa kerajaan namun kekuatan militer mereka tidak bisa dianggap remeh oleh karena itu Arkana tidak ingin menyinggung mereka.
Bukan karena merasa takut tapi lagi-lagi Arkana malas berurusan langsung dengan kerajaan kalau mungkin orang-orang ini adalah pemberontak.
Sudah hampir 10 menit mereka semua hanya bisa bersembunyi di dalam kapal dengan hujaman anak panah yang masih belum berhenti yang membuat Arkana semakin kesal hingga memberi kode kepada Johan untuk melakukan perlawanan.
"SEMUA! ANGKAT SENJATA KALIAN DAN HABIS DI MEREKA" teriak Johan lantang.
Mendengar adanya perintah para anggota Arkana yang mungkin hanya berjumlah 50 orang itu langsung memberi perlawanan dengan menembakkan peluru ke arah asal panah.
Dor
Dor
Dor
SERANG.......
Mendapat serangan dadakan membuat Arcana dan para anggotanya panik mereka bahkan dengan santai menghadapi para perampok itu walau dengan senjata seadanya.
Sedangkan di sisi lain rombongan Aruna telah menyaksikan pertarungan dari awal namun mereka masih diam mengamati hasil pertarungan.
"Kapan kita bergerak Princess?" Tanya Zilan kepada Aruna.
" Sebentar lagi Kak. Kita lihat dulu situasinya" jawab Aruna santai yang melihat dengan teliti pertarungan antara dua kubu di depannya walau begitu arona tidak melihat Arkana karena posisinya terhalang
Beberapa menit kemudian terlihat kubu Arkana yang mulai kewalahan menghadapi mereka ditambah kala jumlah belum lagi kemampuan berpedang karat menyerang itu bisa dikatakan di atas mereka.
"Bergerak sekarang" titah Aruna tegas.
"Siap Yang Mulia Putri Mahkota" jawab mereka serentak langsung berlari menerjang kapal Arkana.
Arkana cukup akui mereka mempunyai seni bela diri yang memumpuni dan berada di tingkat tinggi terbukti dari anggotanya yang kewalahan menghadapi mereka.
"Sial. Bahkan seni berpedang mereka lebih unggul dibanding aku" Johan mengumpat kesal saat menghadapi dua orang yang hanya Johan bisa bertahan tanpa menyerang.
Bruk
Uhukk uhukk
Yohan yang terkenal salah satu tendangan dari lawannya langsung melayang menghantam sebuah pintu di dekat Arcana yang sedang bertarung.
"Kau tidak apa-apa?" Arkana bertanya kepada Johan setelah menendang lawannya hingga tersungkur.
"Apanya yang baik-baik saja Bahkan mereka lebih hebat dari aku" gerutu Johan dengan kesal.
SYUT
TRANG......
Hampir saja anak panah menancap di kepala Johan jika tidak ada sebuah pedang yang menangkis karena itu. Johan yang melihat itu hanya bisa berdiri mematung dengan mata yang melotot dengan mulut yang terbuka.
"Jika sedang berperang ada baiknya anda tetap fokus tuan karena jika tidak nyawa anda yang akan melayang" ucap sosok yang menangkis anak panah itu.
Deg
Arkana berdiri mematung saat mendengar suara halus dan merdu itu menyapa telinganya. Arkana menatap dalam punggung punggung orang yang baru saja menyelamatkan Johan.
"Kamu siapa?" Tanya Johan waspada karena pakaian yang digunakan sosok itu sama dengan para penyerang mereka.
"Masih mengingat ku Tuan?" Tanya sosok itu langsung berbalik menatap Johan dan Arkana dengan sebuah serangaian yang licik di bibirnya.
Deg
Jantung Arkana dan Johan berpacu begitu cepat saat sosok itu membalik wajah ke arah mereka. Baik Arkana atau pun Johan mereka berdua masih mengingat jelas sosok itu yang tak lain dan tak bukan adalah Aruna Ases mantan sekretaris dan mantan kekasih Arkana sekaligus wanita yang dipermainkan sedemikian rupa oleh Arkana.
"Aruna...." ucap Arkana pelan menatap sendu Aruna.
"Yes it's me Aruna" jawab Aruna dengan smirk di bibirnya.
"SIAPA KAMU?" teriak pria yang di duga adalah ketua kelompok para bandit.
"Menurut mu?" tanya balik Aruna yang berbalik menatap tajam pria itu.
Mendengar pertanyaan balik seperti itu ketua bandit langsung menatap Aruna dan kelompoknya dari bawa sampai ke ujung rambut.
"Kalian perampok juga?" Tanya pria itu ragu-ragu.
"Perampok? ya kami perampok"