Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Tes terakhir


BRUKKK


"KAK ZILAN"


"ZILAN"


"PANGERAN"


Teriak Raja Arthur, Zelan, Aruna dan Arjun secara bersamaan saat melihat tubuh Zilan di tendang melayang dan menabrak tembok gerbang istana.


Uhukk uhukk


Zilan terbatuk-batuk hingga darah keluar dari mulutnya. dengan susah payah Zilan tetap memaksakan diri untuk bangun dan berdiri tegak.


Aruna yang melihat keadaan Zilan langsung berlari menuju ke arah Sang Kakak.


"Kak Zilan tidak apa-apa?" tanya Aruna perhatian.


"Tidak apa-apa aku baik-baik saja" balas Zilan.


"Hahahaha pangeran lemah seperti mu bukan tandingan ku." ucap sosok itu tertawa terbahak-bahak penuh ejekan kepada Zilan.


"KALIAN SEMUA JANGAN DIAM SERANG MEREKA SEMUA." perintah sosok itu.


Akhirnya kedua kubu pun saling menyerang terlihat sekali jika sosok yang berpakaian serba merah itu yang lebih unggul.


BRUKK


"ARUNA....." teriak semua orang yang melihat Aruna yang terkena serangan tendangan dari sosok berbaju merah.


Uhukk uhukk


"Putri lemah dan para sampah seperti kalian bukanlah tandingan ku apalagi jika kalian menjadi lawan dari Tuan ku hahahaha" kata Sosok itu tertawa jahat.


Bugh


"Jangan tertawa terus perhatikan lawan mu cih" kata Arkana yang tiba-tiba muncul di depan pria itu lalu memberi lagi satu pukulan.


Uhukk uhukk


Pria itu langsung terbatuk-batuk darah setelah Arkana meninju ulu hatinya dengan kepala tangan Arkana.


"Siapa sebenarnya pria ini? apa dia benar-benar calon selir? tapi kenapa dia bisa melukai ku separah ini padahal dia hanya manusia biasa bukan klan seperti kami. orang ini benar-benar sedikit menghambat jika berada di pihak mereka lebih baik aku mengajaknya untuk bersekutu tapi tidak sekarang" kata pria itu dalam hati.


"Hahahaha ku akui kamu sedikit hebat bisa memukul mu namun aku tidak yakin lain kali kamu punya kesempatan untuk itu" desis Pria itu menunjuk Kenzo.


"Kalian dengan baik-baik kerajaan ini akan segera hancur karna Tuan ku akan menghancurkan kalian semua. PERANG BESAR AKAN TERJADI HAHAHAHAHA...." teriak orang itu tertawa terbahak-bahak.


"Semua orang akan menangis, anak-anak akan menjadi yatim hidup tanpa orang tua, rakyat kalian akan berpecah belah dan tanah ini,tanah yang kau banggakan ini Raja Arthur...... tanah ini akan segera menjadi lautan darah hahaha...." ucap pria berbaju merah itu sebelum terbang dan menghilang di pepohonan sana.


"Kalian urus kekacauan ini dan kalian semua ikut saya" perintah Raja Arthur kepada para pengawal dan menunjuk ke arah Zelan, Zilan, Aruna,Naren, Arjun, dan Arkana untuk mengikutinya.


Raja Arthur berjalan cepat menuju sebuah ruangan di ikuti dengan semua orang sampai di ruangan mereka semua masuk dan ruangan itu telah di kunci otomatis.


"Ujian tadi merupakan salah satu ujian terakhir menjadi selir dari Putri Ases. selanjutnya kalian akan menjalani tes berikutnya" kata Raja Arthur dengan wajah datar dan dingin.


Zilan dan Zelan tertegun melihat raut dari orang yang menjadi Ayah mereka itu begitu pula Aruna baru kali ini pria yang dia panggil Ayah itu memiliki wajah sedatar itu namun ketiga saudara itu saling lirik mereka semua tau jika Ayahanda mereka sekarang sedang menahan gejolak emosi.


"Tes selanjutnya bukan menggunakan otot tapi menggunakan hati dan otak. Pangeran Zelan, Pangeran Zilan, dan Jendral Naren akan memberi pertanyaan kepada kalian berdua dan terakhir saya sendiri yang memberi pertanyaan sedangkan Putri Aruna akan menjadi penentu." terang Raja Arthur dengan jelas.