
"Johan kirim pasukan sebanyak 5.000 orang ke negara M sekarang." titah Arkana pada sambungan telepon.
"Untuk apa Bos? Bos nggak berencana untuk berperang dengan Negara M 'kan karna tidak berhasil mendapatkan cinta Putri Mahkota." tanya Johan di sebrang sana dengan suara kaget.
"Aku tidak segila itu Johan" bentak Arkana terhadap bawahan kepercayaannya itu.
"Lalu untuk apa pasukan sebanyak 5000 orang Bos" tanya Johan yang ikut gregetan.
"Pemberontakan" jawab Arkana singkat padat dan jelas.
"APA......jadi di negara itu akan terjadi pemberontakan lalu kenapa Bos malah Beta disana cepat kembali saja disini. kita bukan rakyat negara itu kita tidak bisa ikut campur." kata Johan.
"Jelas aku ikut campur ini negara calon istri ku apa otak di dalam kepala kamu itu sudah tidak ada hingga kamu menjadi bodoh Johan?" tanya Arkana sinis.
"Bos menang menjadi selir dari Putri Mahkota?" tanya Johan dengan nada senang.
"Jangan mengalihkan pembicaraan. aku tidak mau tau dalam 3 hari pasukan telah tiba di sebelah Utara tempat kita di rampok dulu. aku akan menunggu disana" ujar Arkana datar dan tegas.
"Siap laksanakan Bos aku akan mengirim Edward juga kesana. aku akan menyusul setelah aku selesaikan masalah disini." ucap Johan.
Mendengar itu Arkana tidak bersuara lagi langsung mematikan sambungan telfonnya.
Sedangkan di tempat lain Johan dan Edward langsung saling pandang satu sama lain.
"Edward rekrut semua pasukan A aku akan ke pasukan S." Titah Johan.
"Siap Tuan" jawab Edward.
Di saat seperti ini tidak ada yang namanya persahabatan yang ada hanya atasan dan bawahan. Johan dan Edward segera keluar dari ruangan rapat lalu menuju ke arah masing-masing mereka berjalan berlawanan arah.
Beberapa menit kemudian Johan Dan Edward bertemu kembali di lapangan luas yang biasa di jadikan untuk latihan anggota baru kini mereka gunakan untuk berbaris di tubuh mereka lengkap dengan peralatan senjata masing-masing.
"Apa perlengkapan senjata telah lengkap?" Johan bertanya dengan suara lantang dengan aura intimidasi yang kuat.
"Sudah Tuan" jawab 5.000 orang itu serentak.
"Persediaan senjata?" tanya Johan lagi.
"Lengkap Tuan" jawab serempak barisan paling kiri.
"Bagus. misi kali ini adalah membantu Negara M khususnya Kerajaan Negara M untuk melawan pemberontak usahakan kalian harus menang karna Bos Arkana sudah berada disana" ucap Johan Lantang.
"Siap. kami pasti akan menang" sorakan dari 5000 orang itu dengan suara lantang dan yakin.
"Hari ini kalian akan langsung berangkat ke negara M lewat jalur laut. perjalanan kalian akan alngsung di pimpin oleh wakil ketua yaitu Edward."
"Siap..!"
"Edward ini petanya kalian akan sandar di titik yang telah aku lingkari. kalian harus sampai dalam waktu 3 hari karna pemberontakan akan terjadi dalam waktu dekat" terang Johan yang menyerahkan peta ke Edward.
"Akan kami usahakan tepat waktu" balas Edward yang langsung menerima peta itu dari tangan Johan.
"Kamu berangkat Tuan" pamit Edward yang menundukan kepala sedikit sebagai tanda Hormat.
"Pergilah" balas Johan.
Mendengar itu Edward segera berbalik lalu menatap anggotanya yang berjejer rapi di depannya.
"BERANGKAT...!" ucap Edward lantang.
Sedangkan di tempat lain Arkana lagi lagi berdiri mematung melihat rembulan malam di atas langit sana. dia begitu senang karna dia yang jadi terpilih untuk menjadi Selir dari Putri Mahkota namun entah kenapa hatinya merasakan perasaan yang gelisah takut dan keputusasaan.
Arkana fikir itu mungkin karna ancaman yang di berikan orang yang dia lawan tadi pagi makanya sekarang dia khawatir tapi setelah menelfon Bawahannya tetap perasaan itu masih ada dan entah kenapa tiba-tiba hatinya begitu sakit, dadanya sesak dan air matanya jatuh tanpa dia sadar.
"Ada apa sebenarnya kenapa aku menangis dan kenapa aku merasakan perasaan ini? kenapa dada ku terasa sesak?" ucap Arkana pelan menatap rembulan malam dengan tangan yang menekan dadanya.
"Harusnya aku senang bisa memenangkan persaingan ini aku bisa menjadi suami Aruna walau yang kedua tapi kenapa sekarang a ku merasakan perasaan yang lain. kenapa aku tidak bahagia? kenapa jantungku tidak berdebar saat menatap matanya?" guman Arkana bertanya pada rembulan malam.
"Kenapa aku merasa jika orang yang selalu aku lihat selama ini bukan orang yang aku cari" ucap Arkana pelan dengan pandangan mata yang mulai kosong.
"Cih sekarang baru menyesal, bukanlah dari awal aku sudah memperingati mu jika dia berbeda dari wanita j*l4ng itu tapi kamu malah menyamakannya dengan mantan kamu yang tidak tau diri itu"
"Ini memang salah ku yang tak mengerti dari awal. andaikan dari awal aku tidak menyakitinya begitu dalam mungkin sekarang kami sudah hidup bahagia atau bahkan sudah punya bayi"
"Cih bayi pantat mu."
"Berhenti mengejek ku si4lan."
"Kau fikir aku mau bersama denganmu jawabannya tidak tapi kamu juga nggak pergi-pergi"
Di tempat lain di sebuah ruangan atau bisa di katakan ruangan rapat. ruangan yang sama seperti yang di datangi oleh Arkana tadi kini Raja Arthur, Pangeran Zelan dan Pangeran Zilan bersama Putri Ases dan Tunangannya sedang menatap gulungan surat yang di lilitkan di sebuah anak panah.
"Ayahanda surat apa itu?" Zelan bertanya saat rasa penasarannya tak tertahankan lagi di tambah dengan Raja Arthur yang memanggil mereka kesini namun sampai disini malah tidak bersuara.
"Ayahanda juga tidak tau itu surat apa karna Ayahanda juga belum membukanya" terang Raja Arthur.
"Darimana Ayahanda mendapatkan surat itu" tanya Aruna menatap surat itu dengan pandangan yang sulit untuk di artikan.
"Panah itu di targetkan kepada Ayahanda namun Ayahanda dapat mengelaknya" jawab Raja Arthur.
"Lebih baik Yang Mulia membukanya dengan begitu kita bisa mengetahui surat apa itu" usul Jendral Naren yang langsung di balas anggukan kepala oleh yang Lain.
Haaaa
Raja Arthur menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya pelan-pelan. tangan Raja Arthur terulur mengambil anak panah itu lalu melepaskan ikatan surat itu.
"Aku harap ini bukan berita yang mengkhawatirkan" doa Raja Arthur dalam hati.
Dengan ragu Raja Arthur mulai membuka simpul surat itu lalu membukanya secara pelan-pelan hingga terbuka sempurna terpampang jelas isi dari surat itu.
Perang besar akan terjadi satu Minggu lagi Adikku sayang
Deg
Jantung Raja Arthur seperti berhenti berdetak membaca pesan itu yang sangat ia tau siapa pelakunya. kedua tangannya bergetar dengan keringat dingin keluar dari tangan dan Keningnya sebesar biji jagung bahkan wajahnya menjadi pucat pasi.
Pangeran kembar dan Putri Aruna beserta Jendral Naren langsung mengernyit bingun salah melihat wajah pucat pasi Raja Arthur belum lagi tangannya yang gemetar.
"Apa isinya Ayahanda?" Zilan bertanya dengan datar krna dia sudah merasakan firasat buruk dari awal menatap gulungan surat itu.
Raja Arthur bahkan tak menjawab pertanyaan dari Pangeran Zilan tidak tahu apakah karna terlalu syok atau ada hal lain yang di pikirkannya.
"Ayahanda" sentak Zilan dengan suara meninggi membuat raja Arthur tersadar.
"Ada apa?" tanya Raja Arthur linglung.
"Apa isinya" ucap Zilan datar dan dingin.
"Sebuah surat perang" ucap Raja Arthur dengan nada rendah.
"APA......"
Raja Arthur meletakan kertas surat itu di atas meja sehingga semua orang langsung bisa melihat dan membacanya.
"Paman benar-benar tidak berubah ia masih terus berusaha untuk mengambil alih tahta" kata Zelan dengan suara lemah.
Di antara mereka semua hanya Zelan yang paling memiliki hati lemah lembut seperti Raja Arthur bahkan dia tidak akan marah jika orang menyakitnya yang penting bukan adiknya.
Zelan hanya ingin semua rakyat Negara M hidup rukun dan damai tidak ada pemberontakan sana sini.
Begitu pula Raja Arthur dia memang tegas dan bijaksana namun dia tidak pernah menginginkan peperangan apalagi perang saudara hanya karna sebuah tahta dan kekuasaan. andaikan kakaknya itu bisa di percaya dan berhati baik Raja Arthur tak keberatan untuk turun tahta dan membiarkan kakaknya yang naik tahta.
Tapi sifat kakaknya yang licik, egois dan serakah membuat Raja Arthur harus mau melawan kakaknya.
"Ayahanda apa yang ahrus kita lakukan menurut mata-mata yang aku kirim Paman bekerja sama dengan Klan merah untuk menyerang kita" terang Zelan.
"Apa yang harus kita lakukan bahkan kekuatan paman mu saja mungkin tidak bisa kita lawan apalagi jika mereka bergabung dengan klan merah." terang Raja Arthur.
"Aku akan menggerakkan pasukan rahasia ku walau tidak banyak tapi mereka semua tangguh ku harap mereka sanggup membuat kita berada di posisi bertahan" timpal Jendral Naren.
"Aku juga." sahut Zilan tiba-tiba membuat Raja Arthur dan yang lain ikut menoleh ke arahnya.
"Kamu apa Pangeran Zilan" tanya Raja Arthur.
"Saya akan mengeluarkan anggota yang aku Latih sendiri. selama 3 tahun terakhir aku membentuk kelompokku sendiri karna aku tau Paman pasti akan mencari sekutu setelah kekalahannya 5 tahun lalu" jawab Zilan.
Penuturan Zilan tentu membuat semua orang apalagi Raja Arthur kaget. jika Jendral Naren itu bisa di maklumi karna dia merupakan seorang jendral tapi Zilan..... benar-benar di luar jangkauan.
"Walaupun begitu kita mungkin akan tetap kalah"
"Aku akan membantu"