
"**SAYANG......!" Arkana membuatkan mata saat melihat Aruna dengan santainya memakan potongan mangga yang sangat Arkana dapat lihat jika itu mangga muda bukan mangga matang.
Aruna yang sedang asik memakan rujak di depannya langsung mengalihkan atensinya. Dengan santai Aruna menatap ke arah Arkana yang hanya bisa mehembuskan napas kasar akan ulah dari istrinya itu.
Arkana dengan langkah lebar berjalan cepat ke arah Aruna. Sampai di depan Aruna yang hanya menatapnya polos membuat Arkana ingin sekali mengubur hidup-hidup wanita itu. Arkana berkacak pinggang dengan mata yang melototi Aruna yang tanpa dosa justru memasukan satu potongan mangga lagi ke dalam mulutnya.
"Sudah makan..?" Tanya Arkana datar.
"Belum…" Jawab Aruna yang lagi lagi mengambil potongan mangga namun kali ini Arkana langsung mencopot mangga itu sebelum masuk ke dalam mulut istrinya.
"Loh kok di ambil yank…" protes Aruna yang mencebikkan bibirnya dengan kesal.
Wajah Aruna yang tadinya berseri-seri kini wajahnya langsung pudar berganti wajah masam dan cemberut.
Arkana yang melihat wajah cemberut sang istri hanya bisa memasang wajah datar. Jika di tanya dia ingin sekali menjitak kepala Aruna yang sekarang entah masih ada otaknya atau sudah tidak ada.
Mana ada orang normal yang makan rujak pagi hari di saat perut mereka benar-benar kosong alias belum ada isi apa-apa. Namun, Aruna dengan semangatnya memakan buah yang rasanya pasti asam itu.
"Tidak akan mempan sayang… Sekarang ikut aku ke ruang makan!" Ucap Arkana datar yang menarik lembut tangan sang istri.
"Tapi mangganya…"
"Nanti setelah makan lain selain mangga atau rujak lainnya." Potong Arkana cepat dengan suara datar yang menandakan tidak ingin di bantah.
Aruna dengan wajah cemberut mengikuti langkah lebar Arkana yang menuju meja makan. Sampai disana Arkana langsung menarikan kursi untuk tempat Aruna duduk.
Duduk dan makan sarapan kamu…!" Titah Arkana yang menyuruh Aruna untuk duduk dan memakan Roty sebagai sarapan.
"Eh Nyonya…."
Arkana yang melihat sang pelayan sepertinya kaget melihat Aruna langsung mengerutkan alis. Hingga matanya melebar saat yakin jika yang memberi mangga adalah pasti pelayan di depannya itu.
"Kamu yang memberi buah itu ke istriku….?" Ucap Arkana yang menatap tajam dan datar pelayan paruh baya di depannya.
Wanita paruh baya itu menoleh ke arah Arkana lalu mengikuti lirikan mata sang majikan yang melirik mangkuk yang berisi potongan mangga beserta sambelnya.
"Benar Tuan saya…."
"Kamu tahu buah itu tidak bagus untuk istriku apalagi di saat perutnya masih dalam keadaan kosong tidak memakan apapun."
"Maaf Tuan saya kira…."
"Untuk lain kali jangan berikan buah itu lagi pada istriku jika pagi hari…!" Potong Arkana penuh penekanan pada setiap katanya.
"Baik Tuan muda."
Arkana duduk di samping Aruna mulai mengambil Roti laku mengolesinya dengan selai coklat karna Arkana tahu jika istrinya itu sangat menyukai coklat.
Arkana masih dengan memasang wajah datar menyerahkan roti yang telah dia olesi selai di atas piring Aruna. Aruna yang melihat wajah datar dari Arkana hanya bisa menurut.
Aruna tidak berani menolak karna Arkana saat datar seperti itu terlihat menakutkan dan mengerikan membuat Aruna hanya diam dan memakan rotinya hingga tandas begitu pula susunya yang dia tegum sampai habis hanya dengan satu kali minuman.
Arkana hanya diam membiarkan Aruna di sampingnya. Dia benar-benar kesal tapi tidak bisa marah kepada Aruna.
Arkana terlalu mencintai Aruna hanya untuk meninggikan suaranya tidak mampu dan tidak sanggup. Bahkan hanya diam seperti ini saja tangannya sudah gatal ingin merengkuh membawa Aruna ke dalam pelukannya.
"Tuan…."
Arkana yang tengah menatap datar Aruna tersadar saat suara Johan masuk ke dalam pendengarannya.
"Kamu sudah datang…?"
"Sudah Tuan.." Jawab Johan yang menatap aneh Aruna yang berwajah cemberut.
"Mana dokternya….?" Tanya Arkana datar yang matanya tidak beralih pada siapapun. Karna tatapan mata Arkana hanya tertuju pada Aruna seorang.
"Gimana mau lihat orang matanya di istrinya Mulu. Walau dokternya sebesar gajah sekalipun akan tetap tidak terlihat jika dia tidak melirik ke arah sini." Gerutu Johan yang ingin sekali mengeluarkan apa yang ada di otaknya saat ini. Namun, Johan takut nanti gajinya di potong lagi.
"Bagus, ayo ikut saya..!" Ucap Arkana yang berdiri dari duduknya.
Srettt
Aaaaa
Aruna berteriak kaget saat Arkana tanpa aba-aba langsung menggendong dirinya membawanya naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamar.
Sampai di kamar Arkana dengan penuh kelembutan dan kehati-hatian membaringkan Aruna di atas ranjang.
"Periksa dia…!" Titah Arkana yang langsung menyuruh dokter untuk mengecek kondisi Aruna.
Aruna yang baru sadar jika di samping Johan ada orang yang berpakaian serba putih yang sudah bisa Aruna tebak jika itu adalah seorang Dokter.
Sontak Aruna langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Aruna merasa tidak sakit oleh karena itu, tidak mau di periksa.
"Aku nggak sakit yank..?"
"Diam saja." Balas Arkana datar.
Aruna yang mendengar nada datar Arkana langsung terdiam tidak berani lagi berprofesi.
Seorang dokter wanita dewasa mendekati Aruna mulai mengecek nadi tak lupa juga menyibak sedikit baju Aruna hingga memperlihatkan kulit perut Aruna.
Arkana yang melihat itu langsung membulatkan mata dan langsung menutup mata Johan dengan tangannya. Mana rela dia membiarkan pria lain melihat kulit bersih istrinya.
Dokter yang sudah yakin dengan prediksinya hanya bisa tersenyum tipis menatap Arkana dan Aruna secara bergantian.
"Bagaimana Dok..? Apa istri saya sakit atau hanya masuk angin saja? Pasalnya beberapa hari ini dia selalu mual-mual dan makan makanan aneh setiap hari." Ujar Arkana datar.
"Istri Tuan tidak sakit apapun atau masuk angin."
"Lalu…?"
"Selamat anda sebentar lagia kan menjadi orang tua. Istri anda saat ini sedang mengandung, kehamilannya mungkin sekitar 2 Minggu."
Deg
Arkana yang mendengar berita itu dari sang dokter langsung terdiam kaku begitu pula Aruna yang terdiam mematung. Hingga tak menyadari jika Johan dan Dokter sudah keluar dari kamar mereka.
Aruna yang tersadar duluan hanya bisa melirik Arkana yang masih memasang wajah datar dengan tatapan kosong. Melihat itu tentu membuat Aruna takut. Takut jika Arkana tidak menerima kehadiran bayi yang di kandungnya.
"Yank kamu…."
Cup….
Belum selesai ucapan Aruna bibirnya langsung di bungkam oleh Arkana membuat Aruna hanya bisa membulatkan mata.
"Terima kasih…. Terima kasih sayang…. Kamu memberikan kebahagiaan yang tiada tara untukku hiks… Terima kasih." Ungkap Arkana yang menangis haru dalam pelukan sang istri.
"Kamu tidak marah? Atau membenci bayi ini?" Ucap Aruna yang meraba perutnya yang masih rata.
"Dasar bodoh." Ucap Arkana yang menjitak pelan kening sang istri.
"Mana mungkin aku membenci darah daging aku sendiri. Terima kasih telah memberi kado kebahagiaan yang begitu berarti untukku. Terima kasih istriku." Ungkap Arkana yang penuh perasaan.
Sejak mengetahui istrinya hamil Arkana bertambah menyayangi Aruna. Apa yang di katakan wanita itu maka akan Arkana berikan tidak peduli jika yang dia inginkan adalah mobil yang harganya selangit, mangga muda yang pohonnya setinggi langit tetap Arkana berikan.
Hari-hari yang biasa Arkana lalui dengan hampa dan sepi kini semakin berwarna dengan adanya Aruna dalam hidupnya. Jika dulu ia betah di kantor kini dia akan cepat-cepat pulang ke mension untuk bertemu Aruna.
Sedangkan Aruna wanita hamil itu begitu bahagia dengan keadaan yang sekarang. Walau jauh dari orang tuanya nyatanya Arkana benar-benar menjadikannya ratu dalam hidup pria itu.
Hari-hari keduanya terus mereka lewati penuh kebahagiaan menanti kelahiran dari sang buah hati bukti dari cinta mereka.
Tamat**