Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Membenci sekaligus pria pilihan


"hahaha dulu dia mencintai sang jendral namun di rebut oleh mu sekali lagi dia jatuh cinta tapi cintanya lagi-lagi di tolak bahkan di perlakukan seperti barang yang bisa di lempar sana sini"


Deg


Arkana yang sedang duduk tenang langsung menegang saat mendengar penuturan Zilan. entah kenapa jantungnya berdebar kencang, dadanya merasa sesak dan air matanya jatuh tanpa di minta.


"Kenapa....? kenapa aku menangis?" batin Arkana yang bertanya-tanya.


"Bahkan kalian mencarikannya jodoh di saat dia masih terbujur kaku. kalian hanya terus mengikuti apa mau kalian tanpa memikirkan perasaannya dan siapa dia cintai..! kau kemari kau...." Kata Zilan menunjuk Aruna.


SRET


"Zilan.....!"


Hanya butuh satu kali tarikan Aruna langsung terlepas dari pelukan Jendral Naren. Zilan menarik Aruna sampai di depan Arkana yang kini juga sudah berdiri.


"Lihat dia...!" titah Zilan kepada Arkana.


Arkana pun mengikuti perintah Zilan. Arkana tidak tahu tapi entah Kenapa kali ini dia menurut.


Arkana menatap wajah gadis di depannya dengan intens setiap inci tak ia lewatkan hingga ia menatap mata itu, mata yang selalu membuatnya bergetar dari pertemuan awal namun Arkana tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi.


"Apa kamu mencintainya? apa jantung mu berdebar?" Zilan bertanya dengan nada datar dan dingin.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu tentunya membuat orang kaget tapi tidak dengan Arkana yang hanya menampilkan wajah datar dan sulit untuk di artikan membuat mereka hanya bisa menunggu jawaban dari Arkana secara langsung.


Sedangkan ya g di tunggu-tunggu jawabannya malah diam dengan wajah datar seperti tembok membuat Zilan jadi kesal dan gregetan sendiri.


"Haruskah aku jawab sedangkan sekarang ada masalah serius yang belum kita selesaikan" kata Arkana datar dan dingin menatap tajam ke arah Zilan.


"Aku ingin mendengar jawabannya sekarang secara langsung" kata Zilan datar dengan nada yang tak ingin di bantah.


"Zilan berhenti memojokkan orang seperti itu dia itu tamu" ucap Raja Arthur.


"Jawablah dengan jujur karna jawaban mu akan membuka kebenarannya" ucap Zilan memandang Arkana tanpa memperdulikan ucapan Sang Raja.


Melihat jika Zilan begitu ingin mendengar jawabannya membuat Arkana menghela napas lalu mulai mengeluarkannya. Arkana sekali lagi menatap wajah Aruna dengan intens.


"Wajah ini, aku begitu merindukannya, aku memimpikannya di setiap tidurku, senyumnya sebagai penyambut pagi dan malam ku namun tatapan mata ini..... aku merasa akan asing, entah apa yang terjadi namun jantungku tak berdetak cepat, namun aku pastikan aku mencintai wajah ini" ungkap Arkana.


Mendengar itu Zilan menyunggingkan senyum tipis dengan mata yang memerah alku mengambil tangan Arkana menariknya untuk pergi tapi di hentikan oleh Aruna.


"Apa yang Pangeran lakukan kenapa membawanya pergi" Aruna mencegah Zilan membawa Arkana pergi dari ruangan itu.


"Bukankah katamu kebenaran harus terungkap maka akan aku lakukan. aku akan mengungkap kebenaran itu" ucap Zilan lantang.


Deg


Raja Arthur yang sedang duduk langsung bangkit dari kursinya menatap tajam Zilan karna berfikir untuk mengungkap masalah itu.


"Apa yang kamu lakukan Pangeran Zilan? bagaimana bisa kamu membiarkan orang luar mengetahui......"


"Dia bukan orang luar....!" potong Zilan menatap tajam Raja Arthur.


"Dia adalah pria pilihanku. pria yang di cintai oleh dia. aku membenci sekaligus memilihnya untuk menjadi pendamping untuknya." ucap Lantang Zilan.


"Pangeran Zelan masih ingatkah anda saat aku meminta 1 undangan yang namanya kosong?" Zilan bertanya kepada saudara kembarnya Zelan.


Deg


"Jangan bilang kalau kamu....." Pangeran Zelan tidak lagi melanjutkan perkataannya saat melihat anggukan kepala dari Pangeran Zilan.


"Yah aku mengirimkannya untuk Pria di sampingku ini dengan tujuan membuat ya sengsara disini namun setelah aku melihat kandidat untuk menjadi suaminya semuanya ada para buaya darat hingga pilihan ku jatuh kepadanya" terang Zilan.


Sontak pengakuan Zilan membuat semua orang kaget salah satunya juga Arkana yang benar-benar sudah pusing dengan masalah ini.


"Tidak bisakah kita langsung pada intinya. kalian semua membuat ku muak. entah pembahasan apa yang kalian bicarakan namun itu tidak penting malah membuat kepala ku berdenyut sakit"


Arkana berucap lantang dengan nada datar dan dingin jangan lupa juga tatapan laser yang di tujukan pada semua orang. Arkana yang menyukai keramaian atau keadaan berisik membuatnya kesal Karna Zilan terus berdebat.


"Sudahlah. ayo kita pergi bersama" kata Raja Arthur tiba-tiba.


Mendengar itu mereka semua hanya terdiam tidak ada lagi yang membuka suara.oada Akhirnya mereka membiarkan Raja Arthur berjalan di depan mereka semua.


Raja Arthur menuntun jalan menuju dan melewati lorong-lorong hingga beberapa menit kemudian mereka memasuki lorong seperti bawah tanah karna jalannya hanya di terangi obor.


Arkana hanya diam mengikuti orang-orang di depannya dan jangan lupakan Zilan yang menarik pergelangan tangan Arkana dengan keras seakan-akan Arkana akan kabur.


Arkana memperhatikan lorong-lorong di sampingnya yang dalam satu kali lihat dia langsung tau jika ini adalah lorong bawah tanah. karna rasa penasaran yang membuncah membuat Arkana hanya bisa berjalan dengan wajah datar miliknya.


Hingga beberapa menit kemudian semua orang langsung berhenti di depan pintu warna hitam.


Arkana yang memang tidak bisa menunggu langsung bersuara dan menatap Raja Arthur dengan tajam karna seumur-umur tidak ada yang membuatnya menunggu.


"Kapan masuknya?" Arkana bertanya dengan nada datar dan dingin menatap kenop pintu dengan intens.


"Hey Mafia tengik apa kamu tidak takut kepala mu di penggal ini wilayah kami bukan wilayah mu" bisik Zilan 6ang ikut kesal akan sikap Arkana.


"Cih penggal kepala ku apa kalian mampu lagian akan lebih dulu aku bom dan ratakan dengan tanah ini istana kalau kalian membuat ku kesal" balas Arkana yang terlihat sungguh-sungguh.


Uhukk Uhuuk


Zilan yang mendengar jawaban Arkana entah kenapa ingin sekali memenggal kepala Arkana secara betulan.


Ceklek


Raja Arthur membuka pintu lebar-lebar lalu mereka semua masuk ke dalam ruangan itu yang ternyata berupa kamar namun begitu luas.


Raja Arthur terus berjalan hingga berhenti di depan sebuah ranjang warna merah di ikuti yang lain namun karna posisi Arkana paling belakang dan di halangi oleh yang lain membuatnya tidak tahu apa yang membuat mereka berhenti dan ada apa di depannya Arkana tidak tau.


Lagi pula Arkana lebih serius menatap dinding-dinding kamar itu yang begitu indah dengan lukisan abstrak entah siapa penciptanya pikir Arkana yang lagi-lagi menatap ruangan itu.


Sreeet


Tiba-tiba orang di depan Arkana langsung bergeser namun Arkana belum menyadari akan hal itu


"Lihatlah ke depan" titah Zilan dengan datar.


Deg