Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Raja Arthur De Bora


"Salam Ayahanda" Salam Zelan dan Zilan menundukan sedikit kepala mereka di hadapan Raja Arthur Ayahanda mereka berdua.


"Eh kalian sudah kembali?" tanya Raja Arthur dengan senyuman terbit di bibirnya.


"Ada apa sebenarnya Ayahanda mengapa istana di hiasi seindah ini. apa akan ada calon menantu kerajaan Yanga kan datang?" tanya Zelan sopan.


"Bukan Itu putra ku, Ayahanda dan Ibunda Ratu sengaja mempersiapkan ini untuk menyambut kepulangan kembali Putri Ases di Istana ini" kata Raja Arthur dengan senyum bahagianya.


"APA...." teriak Zelan dan Zilan dengan mata melotot.


"Princess akan pulang?" tanya Zelan dengan antusias.


"Tadi malam princess telfon katanya dia akan kembali hari ini oelh karna Itu Ayahanda dan Ibunda membuat penyambutan kecil tapi lihat mereka semua malah menghancurkan susunannya padahal Ayahanda hanya pergi sebentar tapi kembali semua malah seperti ini." kata Raja Arthur entah harus bagaimana lagi.


Zelan dan Zilan langsung melihat apa yang di tunjuk oleh Raja Arthur. sebenarnya apa yang di tunjuk Raja Arthur bukanlah kesalahan fatal.


Baik Zelan maupun Zilan mereka berdua tau jika Princess sangat menyukai bunga warna biru.


"Ayahanda istrahat saja biar Zelan dan Zilan yang mempersiapkan sisanya" kata Zelan menyuruh Raja Arthur untuk segera beristirahat karna Zelan yakin pria paruh baya itu pasti sudah sejak tadi terus mondar mandir.


"Enak saja. Ayahanda tau kalian menyuruh Ayahanda untuk istirahat agar nanti Princess sampai kalian akan dengan bangganya mengatakan kalian yang menyiapkan ini semua'kan" kata Raja Arthur menatap sinis kedua putranya.


Raja Arthur tidak membenci kedua putranya hanya saja dia selalu kesal dengan kedua putranya itu yang terus memonopoli putri kecilnya hingga ia sebagai Ayahnya jarang bisa bermain atau menghabiskan waktu berdua dengan putri kesayangannya.


Sedangkan Zelan dan Zilan yang mendengar sindiran dari sang Ayahanda hanya bisa saling melirik lalu tersenyum misterius.


"Dasar Pak Tua cemburuan" batin keduanya menatap gemes Raja Arthur.


Raja Arthur memang terkenal berwibawa, adil, bijaksana, tegas dan bisa juga kejam namun jika di hadapkan dengan Aruna maka Arthur akan berperilaku beda.


"Kami tidak berani Ayahanda" kata Zilan dan Zelan secara bersamaan.


"Cih dasar dua bocah. bilang tidak katanya? setelah princess sampai kalian akan dengan bangga memamerkan apa saja yang telah kalian siapkan dan kerja kerasku ini akan berakhir sia-sia jika kalian yang mengerjakannya." Kata Raja Arthur dalam hati.


"Sudah diam. lebih baik kalian angkat pot dan bunga-bunga yang lain itu hingga menyusahkan warna biru saja...!" titah sang Ayahanda.


"Siap laksanakan, Ayahanda" jawab keduanya kompak.


Zelan dan Zilan yang notabenenya adalah seorang pangeran tanpa malu langsung memungut dan mengerjakan pekerjaan pelayan.


Baik Zelan maupun Zilan kebahagiaan sang adik adalah yang utama walau Zilan jarang bicara atau berinteraksi dengan sang adik tapi kasih sayang Zilan tak kalah besar dari Zelan sang kembaran. hanya saja Zilan yang memang pendiam apalagi setelah peristiwa masa lalu membuat hubungan Kakak beradik itu renggang namun walau begitu Zilan selalu memantau kegiatan sang adik bila ada di luar sana.


Zilan hanya merasa malu dan bersalah karna keegoisannya dulu membuat seseorang yang cukup berarti untuk sang Adik sejak saat itu hubungan keduanya mulai renggang walau begitu Zilan masih terus menjaga sang adik dari jauh bahkan tanpa pengetahuan dari sang Ayah atau pun sang saudara kembar.


Di tempat lain terlihat sosok pria tampan dengan penampilan acak-acakan yang tertidur di kursi balkon sosok itu tak lain adalah Arkana.


Arkana yang sedang terlelap mulai terusik saat matahari mulai meninggi hingga sinarnya mengenainya.


"Sssh ini jam berapa" guman Arkana melihat sekelilingnya yang sudah terang benderang.


Arkana bangun dari tidurnya lalu mulai masuk ke dalam kamar dengan memijit kepalanya karna sedikit pusing dan berat.


Dengan langkah yang sedikit sempoyongan Arkana berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Arkana berjalan ke arah nakas dimana disana sudah ada baper bag yang isinya baju ganti untuknya. syukur semalam dia sempat meminta Johan sang Asistennya untuk membelikannya pakaian ganti.


Setelah memakai pakaian lengkap dan rapi Arkana langsung berjalan keluar dari kamarnya. Arkana berjalan menyusuri lorong hotel hingga sampai di depan kamar nomor 505 tiba-tiba Arkana berhenti di depan pintu itu.


Arkana diam dan menatap pintu itu dengan pandangan yang sulit di artikan. tangan Arkana terulur memegang handel pintu lalu membukanya secara pelan.


Ceklek


Arkana berjalan masuk ke dalam, pandangannya terarah ke seluruh ruangan hingga berhenti tonjolan di atas ranjang. Arkana berjalan mendekat ke arah tonjolan itu tangannya terulur untuk membuka selimut entah kenapa hatinya mulai gelisah kembali.


"Hoaaaam"


Tiba-tiba saja kedua tangan muncul dari tonjolan itu membuat uluran tangan Arkana di tarik kembali oleh sang empu.


"Eh Bos" Pekik orang yang di balik selimut yang ternyata tak lain dan tak bukan adalah Johan Asisten pribadi Arkana.


"Untuk apa Bos kesini?" Johan bertanya dengan dahi yang mengerut dalam.


"Membangunkan mu" jawab singkat Arkana yang langsung berjalan menuju sofa.


Sebenarnya Arkana juga tidak tahu harus menjawab apa dan untuk apa dia melangkahkan kakinya untuk memasuki kamar ini. Arkana hanya mengikuti nalurinya saja tadi untuk masuk di kamar ini.


"Cepatlah aku tidak suka menunggu" kata Arkana datar dan dingin.


Entah setan apa yang merasuki Arkana tiba-tiba saja moodnya buruk dan menjadi hal biasa Bos yang sedang bad mood maka bawahan yang akan menjadi sasaran empuknya begitulah isi pikiran Johan yang langsung loncat turun dan berlari masuk kamar mandi.


Baru 5 menit Johan sudah keluar dengan pakaian yang sudah rapi. jika ada yang bertanya apa dia mandi atau tidak maka jawabannya tentu saja tidak! Johan lebih baik bau daripada harus menerima amukan kemarahan dari Arkana yang sangat amat mengerikan.


"Mari Bos" kata Johan yang telah siap.


Arkana melirik Johan sekilas lalu berdiri dan berjalan di depan Johan tanpa mengeluarkan suara.


"Huuuuus syukur selamat. apalagi yang membuat mood monster ini memburuk kenapa dia memancarkan aura yang begitu menyesakkan." batin Johan menerka-nerka.


Sampai di lobby Johan segera membukakan pintu untuk sang Bos lalu setelah memastikan Bosnya sudah duduk tenang Johan baru masuk di jok depan kemudi.


"Ke markas" kata Arkana singkat, jelas, dan padat namun mampu membuat Johan menelan ludah.


glek


"Bos benar-benar bad mood" teriak Johan yang belum apa-apa sudah ketar ketir duluan.


Johan menghidupkan mobilnya lalu menjalankannya dengan kecepatan sedang meninggalkan lobby hotel. setelah jalanan mulai sepi Johan langsung menambah kecepatan mobilnya hingga meleset dengan cepat.


Beberapa menit kemudian Mobil Johan langsung berhenti di sebuah bangunan yang terlihat begitu menyeramkan berada di tengah-tengah hutan dengan warna hitam keseluruhan membuat mension itu semakin terlihat menakutkan untuk orang awam.


Arkana segera turun dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam markas dengan wajah datar dan hawa yang tidak menyenangkan membuat beberapa anggota yang di dijumpainya hanya menundukan kepala tanda hormat tanpa mengeluarkan suara karna jika Bos mereka sudah dalam keadaan begini maka jangan coba-coba buka suara jika tak di minta oleh Bos.


"Johan minta mereka untuk menunggu di ruang rahasia aku ingin bermain sebentar" ucap Arkana dengan sebuah smirk yang sangat menakutkan.