
Waktu terus berputar hari berlalu menjadi Minggu dan Minggu menjadi bulan tak terasa sudah 1 bulan berlalu.
Sudah 1 bulan Aruna berjuang keras mendekati dan meluluhkan tembok hati Arkana namun sampai detik ini Arkana tak sedikitpun berubah masih sama seperti dulu datar dingin dan acuh padanya.
Selama sebulan full Aruna yang dulunya seorang putri yang begitu manja dan taunya hanya makan kini sebulan full di habiskan dengan belajar memasak segala masakan kesukaan Arkana walau sampai sekarang Aruna belum pernah membawakan makanan untuk Arkana.
Tubuh yang dulunya berisi full kini sedikit kurus karna kesibukkan yang bisa di katakan beristirahat hanya beberapa jam.
Pulang dari kantor jam 9 malam bukannya pulang ke apartemen Aruna malah pergi ke tempat les privat khusus memasak selsai disana jam 11 malam sampai di apartemen bukannya langsung tidur tapi Aruna malah kembali mempraktekkan apa yang di pelajari tadi di tempat les dan selesai jam bisa jam 2 dini hari.
Walau begitu Aruna tak pernah mengeluh karna dia selalu menyakinkan diri sendiri jika ingin memiliki sesuatu maka harus usaha dengan keras.
"Hoam sudah pagi" guman Aruna melihat sinar matahari pagi lewat celah gorden.
Aruna lalu turun dari ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Beberapa menit kemudian Aruna keluar hanya mengenakan handuk yang langsung menuju Walk in close untuk mencari setelan.
Jika ada yang bertanya dimana Zelan dan Zilan maka jawabannya adalah mereka berdua telah kembali ke negara M karna tak bisa bergerak bebas di luar terutama Zelan yang sebagai putra mahkota harus selalu di sekitar Kerajaan.
Setelah berpakaian rapi Aruna langsung turun dan menuju dapur memasak nasi goreng sebagai menu sarapan yang biasa Aruna makan di pagi hari.
Setelah sarapan Aruna lantas beranjak berdiri lalu menyambar tasnya pergi untuk bekerja.
Sampai di perusahaan Aruna langsung masuk ke ruangannya lalu kembali keluar dan menuju pantry untuk membuatkan kopi Capuccino kesukaan Arkana yang menjadi rutinitasnya sebulan terakhir ini.
Setelah selesai membuat kopi Aruna langsung keluar dari pantry menuju ruang Arkana tanpa memperdulikan guncingan para karyawan.
Tok
Tok
Tok
"Masuk" sahut dari dalam.
"Selamat pagi Tuan Johan" sapa Aruna menundukan sedikit kepalanya ke arah Johan.
"Selamat pagi My King. pagi ini putri ini seperti biasa membawakan kopi untuk My King" kata Aruna dengan senyum manis di bibirnya.
Arkana hanya bisa berwajah datar dan menatap tajam Aruna yang menurutnya sama saja dengan wanita lain.
"Apa My King capek mau putri ini pijat" ucap Aruna lagi yang mengangkat tangannya untuk mencapai bahu Arkana tapi langsung di tepis Arkana dengan secara kasar.
Tak
"Apa kamu tidak bisa bersikap sopan Nona? sudah berapa kali saya katakan saya tidak tertarik dengan anda apalagi untuk menjalin hubungan kekasih. sifat anda seperti ini tidak ada bedanya dengan perempuan di luar sana sama-sama menjijikan"
Deg
"Saya hanya sedang berusaha menaklukan hati kamu Arkana" balas Aruna yang nampak santai.
"Tapi....."
"Saya permisi Tuan" potong Aruna masih dengan senyuman lalu berbalik pergi.
Setelah kepergian Aruna kini di dalam ruangan hanya tinggal Johan dan Arkana yang tampak tidak ada yang membuka suara.
"Bukankah kata-kata mu itu terlalu kejam Tuan" ucap Johan.
"Cih bukankah selama ini aku seperti ini dan kamu tau itu" ucap Arkana yang nampak santai.
"Tapi kata-kata mu itu sedikit kasar untuk gadis secantik Aruna itu" ucap Johan dengan nada menggoda.
"Kenapa? apa kamu menyukainya" tanya Arkana dengan seringaian keji.
"Tentu. siapa yang tidak tertarik dengan gadis manis seperti itu di tambah dengan bentuk tubuh yang begitu menggoda dan kulit yang seputih porselin" balas Johan dengan seringaian mesum.
"Ambillah. aku tidak butuh jika perlu akan aku kirim di kamar mu malam ini" ucap Arkana enteng.
"Benarkah?" tanya Johan dengan semangat 45.
"Apa pernah aku bercanda?" tanya balik Arkana membuat senyum Johan semakin lebar.
"Ku harap kamu tidak akan menyesal" ucap Johan yang berharap Arkana merubah keputusannya.
"Tidak akan bukankah sudah aku katakan aku tidak tertarik apalagi melihat sifatnya yang begitu murahan dan tanpa malu terus mendekatiku" ucap Arkana sinis.
Mendengar itu Johan pun langsung terdiam karna memang dia melihat sendiri Aruna yang terus mendekati Arkana walau Arkana sudah menolak puluhan kali tapi Aruna bahkan tanpa berhenti terus mengejar Arkana.
"Baiklah jika begitu aku tunggu malam ini seperti biasa di Hotel mu" ungkap Johan berdiri lalu keluar dari ruangan Arkana dengan senyum mekar.
Sedangkan di sisi lain ada Aruna yang kini sedang menangis dalam diam di kursi kerjanya.
"Apa aku serendah itu hingga mereka tega melakukan semua ini padaku? apa salahku hanya karna aku mengejar cinta Arkana? apa salahnya caraku yang mendekati Arkana? aku tidak mendekatinya dengan menjebaknya aku hanya ingin di lihat tapi dia bahkan tega mengoperkan aku kepada sahabatnya sendiri." ungkap Aruna dengan sendu.
Tanpa Johan dan Arkana sadar Aruna tidak benar-benar pergi dari ruangan Arkana. Aruna memang keluar tapi tak menutup rapat pintu dan berdiri di depan pintu hingga Aya yang di bicarakan oleh Johan dan Arkana di dengar Aruna dari awal sampai akhir.
Hati Aruna benar-benar sesak mendengar kenyataan Arkana yang bahkan dengan enteng menyerahkan dirinya kepada Asistennya sekaligus sahabatnya sendiri.
"Ternyata benar kata Ibunda hiks Cinta itu seperti coklat ada manis namun ada juga pahitnya" guman Aruna mengingat perkataan Ibundanya.
"Cinta itu memang indah namun ada pahitnya juga seperti coklat ada rasa manis namun juga ada pahitnya"
Ucapan Ibunda Aruna terngiang-ngiang di kepalanya membuat Aruna semakin menangis.