
"Putri Aruna adalah Putri pilihan yang di kehendaki oleh Yang Mulia Ratu pertama pendiri dari kerajaan ini. Putri Aruna akan naik tahta menjadi pewaris namun pada generasi ke tujuh telah di ramalkan jika kepemimpinan Seorang putri akan memiliki dua orang Pria yang berdiri di sisinya sebagai pendamping dan pelindung dari sang pemimpin" ucap Delyana tegas dan serius.
Jedarrr
Aruna dan Narenda menegang di tempat saat mendengar penuturan Delyana yang sangat jauh dari ekspetasi Aruna.
"Jangan becanda Delyana, aku tak suka akan hal itu" kata Aruna tanpa menyebut embel-embel Kak di awal nama Delyana.
"Tapi itu adalah kebenarannya bahkan bukan hanya ramalan biasa namun ada dengan bukti nyatanya berupa surat wasiat yang di tinggalkan oleh Yang Mulia pemimpin pertama melalui kakek buyutku" balas Delyana tegas dan yakin.
Deg
Aruna merasakan jantungnya seperti tertusuk dan merasa sesak matanya memerah menahan air mata menoleh ke arah Narenda yang hanya bisa duduk tertunduk.
Tak di dalam kotak itu ada sebuah surat wasiat dari Yang Mulia terdahulu. Yang Mulia bisa membukanya penggunakan darah anda di teteskan pada Delima biru di tengah-tengah pola itu" ucap Delyana.
Raja Arthur untuk sesaat terdiam sebelum mengambil kotak hitam kecil itu lalu melukai jarinya dan menetaskan darahnya di atas batu Delima biru.
Klik
Penutup kotak itu terbuka Raja Arthur segera melihat isinya yang di dalamnya ada gulungan yang di ikat dengan benang emas.
Raja Arthur mengambil gulungan itu lalu mulai membuka t
ikatan benang emas itu lalu membuka kertas itu membacanya dengan suara keras.
***Aku Ratu pertama pendiri dari kerajaan Blue menyatakan bahwa akan lahir keturunan ku, cicit Perempuanku yang akan mewarisi tahta yang akan mengambil alih seluruh kekuasaan di istana Blue memberantas semua kejahatan. Cicit Perempuan ku akan berjuang melawan kejahatan bersama dua orang pria yang berdiri di sampingnya untuk melindunginya oelh karna itu Aku Ratu pertama berwasiat bahwa kedua pria tersebut akan menjadi suami dari Cicit perempuan ku seperti aku yang memiliki dua pria di sisi ku.
^^^Tertanda^^^
^^^Ratu pertana***^^^
Semua orang di dalam ruangan itu langsung terdiam saat mendengar isi dari surat wasiat itu terutama Aruna dan Narenda kini keduanya hany bisa menunduk dalam keterdiaman.
"Ayahanda benar-benar tidak bisa memberi jalan keluar akan hal ini. seorang Raja memang memperoleh untuk memiliki beberapa istri atau sekira namun Untuk seorang Ratu, Wanita yang akan memiliki lebih dari 1 suami Ayahanda benar-benar tidak mengerti" ungkap Raja Arthur memijit pelipisnya pusing karna isi dari surat wasiat itu.
Mereka hanya bisa mendengar tanpa tau harus berbuat apa karna situasinya benar-benar rumit membuat semua orang seperti ingin pecah kepala mereka.
"Aru akan....."
"Yang mulia bisakah saya pribadi berbicara empat mata dengan Putri Aruna" ucap Narendra memotong ucapan Aruna.
"Bicaralah" kata Raja Arthur yang hanya bisa pasrah.
Mendengar persetujuan dari Sang Raja Narendra segera berdiri meraih tangan Aruna lalu membawa hanya keluar.
Narenda terus menarik tangan Aruna hingga mereka sampai di taman yang berada di belakang istana.
"Apa yang kamu lakukan Nare?" Aruna bertanya dengan kesal Karna ucapannya tadi di potong.
"Harusnya saya yang bertanya apa yang Putri laku....." kalimat Narenda langsung di potong oleh Aruna
"Berhenti memanggil ku putri Nare, aku adalah Tunangan mu bukan junjungan mu" potong Aruna cepat.
"Oke. apa yang kamu lakukan tadi he...? menolak wasiat itu?" Narenda bertanya dengan nada datar dan dingin.
Narenda tau jika tadi Aruna ingin menolak hal itu maka dari Itu Narenda memutuskan untuk membawa Aruna keluar sebentar untuk mendiskusikan hal ini.
"Lalu aku harus apa? aku tidak ingin menjalankan wasiat itu Nare" kata Aruna tegas.
"Tapi aku tidak bisa menduakan mu Nare, Aku mencintai mu tidak mungkin aku membagi cinta ku" teriak Aruna dengan mata yang berkaca-kaca.
Aruna dan Narenda tumbuh dari kecil hingga dewasa Baik Aruna atau pun Narenda keduanya mempunyai perasaan yang sama sebelum Aruna jatuh cinta ke Arkana.
Apalagi setelah Aruna kembali Raja Arthur Ayah Aruna langsung menjodohkan keduanya hingga 1 tahun terakhir ini mereka semakin dekat satu sama lain bahkan mereka sudah mengungkapkan perasaan masing-masing.
"Aku nggak mau membagi cintaku, aku nggak mau duain kamu Nare hiks hiks" kata Aruna dengan tangis yang pecah.
"Hey....lihat aku...."
Narenda mengangkat dagu Aruna hingg keduanya bisa bertatap mata.
"Aku tau kamu mencintaiku begitu pula aku yang mencintaimu tapi kita tidak bisa mengabaikan wasiat itu. kamu tau kan musuh kita sebenarnya belum muncul. aku tau kamu hebat tapi kita tidak tau mereka sehebat apa" kata Narenda memeluk Aruna.
"Apa kamu mau berbagi milik kamu dengan orang lain?" tanya Aruna di pelukan Narenda.
"Aku yakin kamu bisa berlaku adil dan aku lebih memilih berbagi daripada harus kehilangan mu" bisik Narenda di telinga Aruna.
Jika boleh jujur Narenda sangat tidak rela, di dunia ini siapa yang mau bahkan Sudi jika miliknya harus di bagi dengan orang lain namun Narenda lebih memilih berbagi daripada harus kehilangan karna Narenda tidak sanggup akal hal itu.
Narendra sudah menyukai bahkan mencintai Aruna saat ia sudah mulai mengerti hal yang namanya dewasa
"Baiklah jika begitu aku akan coba menerima semua ini" ungkap Aruna mendongak menatap wajah tampan Narenda.
NARENDA menunduk menatap penuh cinta wanita yang ada di pelukannya itu. Narendra menunduk mendekatkan wajahnya ke wajah Aruna hingga kedua benda kenyal itu saling bertemu.
Cup
Awalnya Narenda hanya menempelkan bibirnya di atas bibir Aruna namun melihat tidak ada perlawanan dari Aruna membuat Narenda berani mulai ******* lembut bibir Aruna.
Aruna mengalunkan tangannya di leher Narenda dan mulai membalas *******-******* kecil Narenda.
Tanpa mereka ketahui tidak jauh dari mereka ada sosok pria yang memperhatikan mereka. sosok itu tak lain adalah Zilan.
"Semoga kalian bisa melewati semua ini." guman Zilan yang penuh harapan.
" Dan untuk Anda Arkana Zeus Albarack tunggu kehancuran mu yang akan berkeping-keping" kata Zilan dengan seringaian licik.
Zilan yang tak ingin terus menyaksikan momen romantis kedua insan yang sedang jatuh cinta itu memilih kembali ke ruang tamu.
Beberapa menit kemudian Aruna dan Narenda menghentikan ciuman mereka dengan napas yang memburu dan pipi Aruna yang memerah seperti buah tomat.
"Kamu malu eh" goda Narenda yang mengecup pipi Aruna.
Cup
"Aku mencintai mu Aruna Ases De Bora" bisik Narenda.
"Aku juga mencintaimu Narendra AFLSON Sang jendral Blue" ungkap Aruna balik.
"Ayo kita masuk, semua kita hadapi bersama-sama." kata Naren lembut.
Narenda dan Aruna berjalan masuk lalu duduk di tempat masing-masing.
"Bagaimana?" tanya Raja Arthur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...