
"AAAAAAA"
"Ayahanda tolong" teriak Aruna panik langsung bersembunyi di bawah ketiak Raja Arthur.
"Ayahanda kenapa pedang itu bisa terbang dan mengikuti apa di dalamnya ada arwah gentayangan atau hantu" kata Aruna menatap ngeri pedang yang terbang di depannya.
"Ambillah Princess bagaimana pun kamu lari takdir mu akan terus mengikuti mu" kata Raja Arthur bijak.
"Lagi pula Kakak tidak keberatan jika kamu menduduki tahta karna kami semua yakin kamu akan menjadi pemimpin yang baik, adik, bijaksana, dan tegas" kata Zelan mengelus kepala Aruna.
Melihat dukungan orang-orang yang dia sayang Aruna memantapkan hati untuk menerima pedang itu dan menjadi pewaris tahta.
Wusssh
Pedang itu tiba-tiba mengeluarkan cahaya warna biru yang begitu menyala dan langsung membungkus seluruh tubuh Aruna membaut semua orang panik.
"Princess" pekik seluruh keluarga Aruna menatap cemas cahaya warna biru itu yang terus.
Beberapa menit kemudian cahaya warna biru itu mulai meredup hingga memperlihatkan Aruna yang berdiri tegak dengan mata tertutup.
"Princess are you oke?" tanya Zilan namun tidak ada jawaban dari Aruna.
Raja Arthur dan yang lain saling melirik lalu mengangguk mendekati Aruna yang masih menutup mata.
Wusssh
Deg
Mereka semua langsung terpaku saat kedua mata Aruna terbuka menampilkan bola mata berwarna biru yang begitu memikat. mereka semua berdiri diam mematung di tempat masing-masing mata mereka begitu terpana akan keindahan mata Aruna.
"Princess matamu" Zelan menunjuk ke arah mata Aruna.
"Aku tau Kak"
Sedangkan di tempat lain terlihat seorang Kakek tua yang tengah di kepung oleh sekelompok orang yang bertudung merah di dalam sebuah. hutan.
"Akhirnya aku menemukan Pak Tua" ucap sosok bertudung dengan nada ejekan.
"Hahahaha Tuan ku tidak akan tenang jika kamu dan seluruh keturunan mu belum musnah dari muka bumi ini" teriak sosok bertudung yang berdiri paling depan.
"Cih kehancuran kalian akan segera tiba dan di hari itu aku akan menertawakan kalian semua" balas Kakek tua itu tidak ingin kalah.
"Sekuat apapun keturunan terpilih tidak akan ada apa-apanya jika tidak mempunyai pelatihan khusus dan kamu adalah ancaman terbesar kami jadi kamu akan segera membunuh mu dan mengirim mu kembali berkumpul dengan keluarga-keluarga mu yang telah lama binasa" kata Sosok itu sombong.
Kakek tua itu langsung diam dengan kepalan tangan yang mengepal dengan erat.
"Delyana... Kakek harap kamu sudah menemukan Sang putri dan berdiri di sampingnya. Kakek mungkin akan pergi selamanya kamu dan Sang putri adalah harapan terakhir Kakek untuk memusnahkan manusia-manusia keji seperti mereka. Sang Putri dimana pun anda berada semoga bisa merasakan jasa hamba ini Yang Mulia." batin Kakek Tua itu.
Sedangkan kelompok bertudung merah tertawa terbahak-bahak melihat Kakek tua itu terdiam mereka telah beranggapan bahwa jika Kakek tua itu tengah ketakutan.
"Tidak perlu takut pak Tua aku akan membunuh mu secara cepat asal kamu serahkan kitab emas itu" kata sosok bertudung itu.
"Hahaha jangan harap walau aku harus mati akan aku bawah kitab itu dengan kematian ku" teriak Pak Tua mengenaskan tangannya hingga beberapa orang terpental di udara dan menghantam pohon-pohon dalam hutan.
"Dasar Pak tua kamu benar-benar mencari kematian mu sendiri" teriak sosok bertudung itu marah.
"Serang dia dan bawah di hadapan ku jangan bunuh" perintah sosok bertudung paling depan kepada anak buahnya.
Beberapa orang bertudung mereka segera meleset dan menyerang Kakek tua dengan brutal dan tanpa ampun.
Wusssh
Brak
Bugh
Kakek tua yang memang sudah tua kekuatannya pun tidak sehebat dulu hingga hanya beberapa menit Kakek tua itu sudah tidak berdaya.
"Lepas" Kakek tua itu memberontak saat di seret menghadap soal bertudung sebagai pimpinan mereka.
"Cepat serahkan kitab itu dengan begitu aku tidak akan memberi mu siksaan yang berat" bentak pimpinan pria bertudung itu.
"Sampai mati pun aku tak akan menyerahkan kitab itu pada manusia keji seperti kalian"