
Waktu terus berputar dan hari terus berlalu tak terasa 2 Minggu telah berlalu. selama 2 Minggu full Arkana mengikuti tes seleksi untuk menjadi selir dari Aruna. Arkana yang memang merupakan Bos Mafia tidak perlu di ragukan lagi kemampuan bertarungnya dan hari ini adalah hari terakhir dimana hanya sisa dia dan Arjun anak dari Mentri keuangan yang bertahan.
Arkana berusaha dengan keras hanya fokus untuk bisa menang bahkan urusan perusahaan dia serahkan kepada Johan begitu juga dengan Kelompoknya di dunia bawah.
Arkana benar-benar lepas tangan langsung selain mengenai hal-hal yang bersangkutan dengan Aruna.
"Hari ini adalah hari terakhir aku harap aku benar-benar dapat memenangkan semuanya termasuk hati kamu juga dapat aku genggam walau hanya setengah" guman Arkana yang menatap langit-langit kamarnya.
Sedangkan di tempat lain di sebuah ruangan yang bernuansa abu-abu terdapat seorang wanita paruh baya yang di temani oleh seorang pria paruh baya yang masih terlihat bugar.
"Hiks.... hiks..... kenapa nasib mu akan semalam ini sayang... kenapa semua ini harus terjadi kepada mu hiks hiks.... bangun nak jangan membuat ibu mu ini bertambah gila. kau salah satu dunia ibu lalu bagaimana dunia ibu di saat kamu seperti ini? hancur.... bukan hanya hati tapi juga dunia Ibu ikut hancur nak... ibu mohon nah bangunlah." ucap Wanita paruh baya itu penuh permohonan di sertai dengan tangisan yang begitu terdengar pilu.
Wanita itu menangis dengan derai air mata yang terus membanjiri pipi, bibirnya bergetar karna tangisan. tangan wanita paruh baya itu terulur mengelus Surai kecoklatan gadis cantik yang tengah terbaring di atas ranjang putih dengan berbagai selang yang terpasang di tubuhnya.
"Apa yang kamu tunggu dan impikan putri ku? apa mimpi mu lebih indah hingga kau tak ingin bangun? apa putri cantik ibu ini belum merasa cukup tidurnya? tapi ibu tidak sanggup lagi menunggu nak hiks...hiks ibu ingin melihat mata ini terbuka, bibir ini yang terus mengoceh, dan tangan dan kaki ini yang terus berlari dan menjahili orang lain. hati ibu tersiksa nak ibu mohon bangunlah" kata Wanita paruh baya itu lagi.
"Istri ku tenanglah semua akan baik-baik saja" kata pria paruh baya yang di samping wanita itu yang merupakan suaminya.
"TENANG KATA MU? BAIK-BAIK SAJA? BAGAIMANA AKU BISA TENANG DI SAAT KONDISI PUTRI KU SEPERTI INI. KAMU DENGAN SEENAK JIDAT MU ITU MENGATAKAN BAIK-BAIK SAJA APANYA YANG BAIK-BAIK SAJA HA.... KAMU TIDAK LIHAT PUTRI KU SUDAH TERBUJUR KAMU DI ATAS RANJANG ITU DALAM WAKTU BERTAHUN-TAHUN INI SEMUA KARNA KAMU. KARNA ULAH MU PUTRI KU MENJADI SEPERTI INI JIKA AKU TAU MENIKAH DENGAN MU AKAN MENJADI AKHIR SEPERTI INI AKU TIDAK AKAN MENIKAH DENGAN MU" teriak Wanita paruh baya itu di depan wajah suaminya.
"Kamu menyesal menikah dengan ku?" tanya pria paruh baya itu dengan suara tercekat di tenggorokan.
"YA..! AKU MENYESAL. AKU MENYESAL MENIKAH DENGAN KELUARGA YANG BANYAK INTRIK SEPERTI KALIAN LIHAT PUTRI KU, PUTRI TERBUJUR KAKU DISANA KARNA KESERAKAHAN KALIAN SEMUA" bentak wanita paruh baya itu.
Wanita paruh bayah itu yang tak bisa menahan sesak lagi segera berlari keluar dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.
Pria paruh baya itu yang melihat istrinya berlari hanya bisa mematung lalu menatap gadis di depannya yang terbujur kaku layaknya mayat.
"Sampai kapan?