
"Jangan menatapku seperti itu Aku tidak butuh belas kasihan kalian" ucap Arkana datar yang menatap tajam Johan dan Edward.
Johan dan Edwar sontak langsung membuang muka mereka berdua tahu Bos sekali sahabat mereka itu sangat membenci jika di kasihani.
"Jadi bagaimana rencana kita? mau menyerang malam ini atau tidak?" kata Zilan yang mengalihkan topik pembicaraan.
"Jadilah. aku tidak sabar untuk bermain" balas Arkana dengan menyeringai dingin.
Glek
"Jangan menatap ke arah kami si4l4n" teriak Johan dan Edward serentak.
Johan dan Edward tentu tau arti dari senyuman yang seperti itu karna kentara sekali jika Bos mereka itu ingin bermain darah.
"Sudahlah kita berangkat saja. siapkan pasukan memang kita ketemu di lokasi markas musuh" kata Arkana yang beranjak berdiri.
"Apa kita tidak menuju ke markas terlebih dahulu Bos?" Tanya Johan.
"Untuk apa? buang-buang waktu saja. lagi pula Apa gunanya pria sinting ini ada di sini jika tidak bisa membantu apa-apa" kata Arkana yang melirik Zilan dengan seringaian licik.
"Apa ma.....maksud dari perkataan mu itu? Jangan bilang kamu....." Zilan tidak lagi membuka suara saat Arkana mencekram bahunya.
"Berguna lah sedikit hitung-hitung balas kebaikan ku yang tidak menghajar mu tadi wahai kakak ipar yang baik" ucap Arkana yang tersenyum manis namun mereka semua tahu senyum Arkana bermakna seribu tanda bahaya.
"Sial. setan apa yang merasuki Mafia tengik ini kenapa sekarang dia terlihat begitu menyeramkan seperti ini? " Zilan Dalam hati.
Terlihat Zilan yang menatap Arkana sebentar sebelum menarik napas lalu mengeluarkannya secara pelan.
"Apa yang harus aku lakukan?" Pasrah Zilan walau harus jadi umpan sekalipun.
"Cukup mudah, kamu hanya perlu menjadi orang terdepan memimpin penyerangan malam ini" ungkap Arkana yang terdengar santai.
"Sudah ku duga" batin Zilan yang hanya bisa pasrah.
Sedangkan untuk kedua pria yang duduk tak jauh dari mereka hanya bisa menelan ludah. Johan dan Edward tidak ada yang berani dengan menjadi umpan apalagi kalau memimpin penyerangan Jika masih ada dengan Arkana karena Bos mereka itu tak akan membantu sedikitpun bila mereka tersudut.
"Gila ini sih pria sinting kenapa mau sih? Mau mati muda kali dia? Maju dalam paling depan sama aja dengan bunuh diri lah dia malah mau." kata Johan dalam hati yang bergidik ngeri.
"Dia benar-benar tidak waras , jika dia menyetujui ide gila sang bos" kata Edward yang menatap zilang dengan mata melotot.
"Baiklah Ayo kita berangkat Aku juga ingin bermain "kata Zilan.
Glekk
Johan dan Edward saling melirik dengan mata yang melotot hampir keluar dari tempatnya karena respon yang di berikan Zilan sangat jauh berbeda dengan apa yang mereka pikirkan.
"Apa kau ingin meratakan markas mereka" tanya Zilan dengan seringaian dingin di sudut bibirnya.
"Menurut mu?" Balas Arkana yang malah bertanya balik.
"Bagaimana jika kita hanya memporak-porandakan markas mereka. Seperti membakar gudang senjata mereka lalu membuang markas mereka, aku rasa itu bukan hal yang buruk "usul Zilan.
"Kelompok tanpa markas dan senjata di ibaratkan singa yang tanpa taring dan kuku tajam" balas Arkana sinis.
Malam yang sunyi di jam waktu istirahat semua orang namun tidak dengan ke-empat pria yang sedang berada dalam hutan lebih tepatnya sedang mengawasi sebuah mansion yang berada dalam hutan itu
"Edward sebar bom pada setiap sudut markas itu dan kamu Johan masuk dan cari gudang senjata mereka lalu pasang bom di sana di setiap sudut," perintah Arkana yang membagi tugas kepada Johan dan Edward.
"baik bos" balas Johan dan Edward secara serentak.
Johan dan Edward saling lirik satu sama lain lalu menganggukkan kepala samar tanda setuju lalu mulai keluar dari persembunyian-nya mereka mendekati gerbang yang hanya di jaga dua orang penjaga.
Terlihat jika Johan dan Edward saling memberi kode lalu melempar batu di semak-semak secara bersamaan dan berlawanan arah.
"Siapa itu?" Teriak sang penjaga namun tidak ada suara.
Johan dan Edward malah semakin melempar batu ke arah semak-semak hingga mengakibatkan sebuah suara yang lumayan keras.
"Hei kamu dengar itu, di arah sana ada suara" kata penjaga A
"Lebih baik kita cek sekarang saja" balas penjaga B.
"Kamu ke sana dan aku akan mengecek yang di bagian sana" kata penjaga A yang menunjuk dua arah berbeda.
Akhirnya kedua orang penjaga itu langsung menuju arah yang berlawanan tanpa menyadari jika Johan dan Edward sudah berhasil masuk ke dalam markas mereka.
"Kita berpencar saja. Kamu ke arah sana dan aku akan ke arah sana karena menurut peta gudang senjata ada di arah sana" ungkap Johan yang menuju ke arah selatan.
"Ya sudah kita berpencar di sini dan kembali bertemu juga di sini"nbalas Edward yang menyetujui ide dari Johan.
Johan dan Edward segera berpijar menjalankan misi masing-masing. Johan berjalan menuju arah selatan karena jika menurut peta, gudang senjata markas itu berada pada arah itu setelah berjalan mengendap-ngendap beberapa menit akhirnya Johan sampai dan melihat sebuah bangunan kecil yang di jaga dua orang penjaga yang berjaga di depan pintu bangunan itu.
"Sial. Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana caraku membuat kedua orang itu pergi dari sana" pikir Johan yang memutar otak jeniusnya memikirkan cara agar bisa mengusir musuh dari sana.
Tak punya pilihan lain Johan langsung mengeluarkan jarum perak andalan-nya yang sudah tadi disembunyikan dalam saku jaketnya.
"Tadinya aku tidak ingin Namun karena aku tak punya pilihan lain lagi terpaksa mengeluarkan jarum-jarum kesayangan ku ini" Guman Johan yang langsung melemparkan dua jarum ke arah kedua penjaga itu.
Tak
Bruk
Bruk
Hanya beberapa detik lalu kedua penjaga itu langsung ambruk terlentang di atas tanah dengan menutup mata tidak tahu apakah pingsan atau mati.
Johan yang ada di persembunyian-nya segera keluar dengan tersenyum cukup puas mendekati penjaga itu.
"CK ini juga kuncinya di mana?" Guman Johan kesal karena gudang itu dikunci.
Tak punya pilihan lain Johan mulai duduk lalu meraba raba kantong baju dan celana yang di kenakan penjaga itu hingga Johan menemukan kunci yang di carinya tanpa basa-basi Johan langsung berdiri cepat membuka gudang itu. Setelah terbuka Johan segera berbalik menyeret kedua penjaga itu masuk ke dalam gudang.
"Sial. Tubuh kalian kurus kerempeng ramping namun kalian sangat berat terlalu banyak dosa jadi gini. Nggak dosa nggak badan semuanya sama-sama berat" gerutu Johan yang menatap kesal pada kedua penjaga itu.