
"Ada apa dengan si Bos kenapa jam segini belum juga keluar. Biasanya jam segini Bos dah lama bangun kenapa sekarang belum ada tanda-tanda pergerakan." Gerutu Johan yang melihat jam yang melingkar di tangannya yang menunjukan pukul 09;00 pagi hari.
"Tuan Johan, sedang apa Tuan?"
Johan kaget saat ada suara yang memanggil namanya di belakang membuat pria itu langsung menoleh ke arah asal suara.
Johan bernapas lega saat melihat wanita paruh baya di depannya itu yang merupakan pembantu atau pelayan Arkana di mension itu.
"Bi Aty apa Tuan Arkana ada kendala?" Tanya Johan yang bertanya pada wanita paruh bata itu.
"Setau saya saat saya pulang kemarin tidak terjadi apa-apa." Ujar Bi Aty yang mengatakan sebenarnya.
Di mension ada 5 pelayan 2 tukang kebun dan dua satpam tapi para pelayan dan tukang kebun akan pulang setelah pekerjaan mereka selesai. Seperti para pelayan yang datang jam 9 dan akan pulang jam 9 malam.
Mendengar itu Johan langsung mengerutkan dahi. Jika tidak ada yang terjadi kenapa jam segini Bosnya itu juga belum bangun pikir Johan.
"Baiklah Bi kalau begitu biar saya yang samperin di kamarnya." Kata Johan yang berlalu pergi dari hadapan Bi Aty.
Bi Aty yang melihat kepergian Johan ingin menghentikannya tapi terlambat Johan sudah berada di lantai atas.
Sampai di kamar Johan langsung menggedor-gedor pintu kamar Arkana yang sekarang tentunya menjadi kamar Aruna juga.
"Berisik..." Guman Aruna yang semakin menarik selimutnya.
"Sial! Siapa yang berani menggedor-gedor pintu dengan keras? Benar-benar cari mati!" Umpat Arkana yang menatap tajam pintu kamarnya seperti menatap musuh bebuyutan saja.
"Tidur lagi" Bisik Arkana yang langsung turun dari ranjang menarik handuk untuk di gunakan melilit pinggangnya menutup area pribadinya.
Ceklek
Johan langsung menelan ludah saat pintu terbuka pemandangan pertama yang di lihat adalah dada telanjang Arkana. Di tambah wajah masam dan datar Arkana membuat Johan langsung paham apa yang terjadi.
"Apa sekarang kamu tidak mau menggunakan tanganmu lagi ha...? Berani sekali kamu menggedor-gedor pintu? Pergi jika sampai istriku terbangun akan aku potong tangan tak berguna mu itu!" Ucap Arkana yang penuh penekanan setiap katanya.
Johan yang mendengar perkataan Arkana tanpa protes atau bertanya dua kali. Pria 26 tahun itu langsung berbalik dan berlalu menjauh dari kamar Arkana.
Johan tidak peduli di kantor ada meeting penting. Semua itu bisa dia handle tapi kemarahan seorang Arkana sama saja dengan membuat malaikat kematian murka.
"Tuan..."
"Saya ke kantor sendiri Bi, Jangan ganggu Bos sampai dia bangun sendiri." Teriak Johan yang berlalu pergi.
"Aku harus segera pergi dari sini jika tidak aku tidak bisa menjamin nyawaku masih ada di badan aku nantinya." Guman Johan yang langsung menjalankan mobilnya segera pergi dari mension Arkana.
Sedangkan di sisi lain setelah mengusir Johan dari mensionnya. Arkana kembali menutup pintu berjalan mendekat ke arah ranjang. Di tatapnya wajah wanita yang menjadi istrinya itu. Tak pernah sekalipun Arkana bosan menatap wajah Aruna. Baik itu sedang tertidur atau bahkan di saat Aruna marah sekalipun Aruna mengingat jelas setiap ekspresi milik Aruna.
"Maafkan aku membuatmu kelelahan seperti ini." Bisik Arkana yang mengecup kening dari dari wanita yang di cintainya itu.
"Lebih baik aku membuatkan masakan untuk Aruna. Agar nanti dia bangun masakan telah matang dan siap makan." Monolog Arkana dengan tersenyum sendiri.
Dengan penuh semangat Arkana segera masuk dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Masuk ke dalam walk in close memakai pakaian lalu berjalan keluar dari kamar menuju dapur.
Sampai di dapur Arkana langsung menyuruh BI Aty untuk pergi. Dengan penuh semangat Arkana mencincang satu persatu bahan yang di gunakan untuk membuat sarapan alias makan siang untuk sang istri tercintanya.
Beberapa menit kemudian bau harum dari masakan Arkana mulai tercium. Arkana mulai memindahkan ke piring beberapa makanan yang telah matang.