Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Kecewa


"Selamat malam King"


Beberapa orang yang berbaju hitam langsung menundukan kepala mereka saat melihat Arkana masuk dalam ruangan yang penuh bernuansa Hitam itu.


"Ayo ikut aku"


Arkana membawa Aruna menuju kursi yang telah di siapkan untuknya bersama Johan sang tangan kanan.


Tempat yang di datangi oleh Arkana adalah salah satu tempat acara pelelangan di dunia bawah dan Aruna baru sadar akan itu saat melihat jika orang-orang di dalam ruangan ini penuh dengan senjata.


Tidak satu orang yang datang menyapa Arkana baik perempuan ataupun laki-laki bahkan setiap wanita yang mendekat mereka dengan terang-terangan menggoda Arkana namun Arkana nampak cuek dengan tangan yang melingkar di pinggang Aruna.


Begitu pula Aruna tidak satu atau dua orang pria yang datang padanya bahkan dengan terang-terangan menawarkan diri mereka untuk bermalam dengan dirinya dan hal itu membuat amarah dalam diri Aruna hampir meledak.


1 jam berlalu tapi terlihat Arkana masih sibuk dengan para ketua mafia membuat Aruna mengeluarkan napas kasar


Jika boleh jujur Aruna sekarang sedang menahan amarah di dalam hati melihat tatapan pria terhadapnya yang begitu merendahkannya apalagi saat di tanya dia siapa Arkana dengan enteng menjawab seperti biasa yang menandakan dia hanya teman 1 malam.


"Pergilah tunggu aku di kamar ini" kata Arkana datar menyerahkan kartu akses sebuah kamar lengkap dengan nomornya.


Aruna tidak bertanya lagi langsung mengambil kartu itu karna dia benar-benar sudah tidak nyaman berada di ruangan itu.


Sampai di kamar yang di katakan Arkana, Aruna langsung menuju balkom menatap bulan dengan pandangan sendu.


"Ternyata hanya aku yang terlalu berharap" ucap Aruna dengan senyum sendu.


30 menit kemudian


Karna merasa dingin dengan udara malam Aruna memutuskan untuk kembali masuk dalam kamar walau hatinya sekarang terasa tercabik-cabik.


Baru saja Aruna membaringkan diri di atas ranjang terdengar pintu di buka dari luar.


Ceklek


Sosok berkaki jenjang berjalan masuk ke dalam kamar itu lalu berjalan mendekat ke arah Aruna yang sudah menutup mata.


"Sangat di sayangkan gadis semanis dirimu harus berakhir patah hati dan lebih parahnya lagi kamu akan menjadi mangsaku" kata sosok itu mengelus pipi halus Aruna.


"Maka lakukanlah"


Kata Aruna yang tiba-tiba membuka mata membuat sosok di sampingnya itu langsung tersentak kaget dan refleks berdiri dan sedikit menjauh.


"Anda tidak tidur Nona?" tanya Sosok itu dengan wajah terkejut.


"Tentu saja tidak Tuan Johan" jawab Aruna yang nampak santaibangun dan turun dari ranjang.


Sosok itu memang tak lain dan tak bukan adalah Johan asisten Arkana.


Apa kalian pikir Arkana benar-benar mencintai Aruna maka jawabannya adalah tidak. bahkan dengan teganya Arkana sengaja mempermainkan Aruna dan menyerahkan dirinya pada Asistennya.


"Ayo lakukan" tantang Aruna menatap dalam Johan.


"Melakukan apa Nona" Johan bertanya dan memilih Berpura-pura tidak tahu apa-apa.


"Ada apa dengan mu? kenapa aku merasakan perasaan kasihan saat melihat mata indah itu memerah karna air mata" kata Johan dalam hati menatap dalam Aruna.


Sret


"Ayo kita lakukan, bukankah ini yang dia mau maka akan aku turuti" ucap Aruna yang menarik kerah baju Johan hingga kini berdua terjatuh di ranjang dengan tubuh Johan di atas tubuh Aruna.


"Aku harap setelah ini anda tidak menyesal Nona dan pergi menjauh dari kota ini" ungkap Johan antara kasihan dan nafsu bejatnya yang sudah mulai naik.


"Bukan hanya kota ini tapi negara ini juga akan aku tinggalkan dan mungkin..... mungkin aku tidak akan menginjakkan kaki lagi di negara ini" balas Aruna menatap mata Johan.


Dengan nafsu sesatnya Johan mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Aruna namun sebelum bibir itu mendarat di atas bibir Aruna tiba-tiba saja Johan merasakan tendangan kuat hingga membuatnya terbang dan menghantam dinding.


Wusssh


BUGH


Johan yang tidak siapa langsung menghantam tembok dengan keras hingga muntah darah.


"Siapa kamu" teriak Johan menatap tajam sosok bertudung di depannya.


"Bukan urusanmu" Jawab sosok bertudung membuat bulu kuduk Johan merinding.


"Bangun Princess Ases" desis sosok bertudung.


Deg


Jantung Aruna berdebar mendengar suara yang sangat ia kenali dan tidak berubah. kedua matanya langsung memerah menatap sosok di depannya yang begitu dia rindukan selama 9 tahun lamanya.


"Dewi pelindung..." guman Aruna yang masih di dengar oleh Johan dan sosok bertudung itu.


"Ya ini aku!" jawab sosok bertudung.


Sosok bertudung itu membuka tudung kepalanya memperlihatkan rambut panjang pirangnya yang indah dan wajahnya yang begitu alami tanpa hiasan Make up walau tak secantik Aruna.


"Siapa sosok ini? kenapa gadis ini menatapnya penuh akan kerinduan" guman Johan yang menyaksikan kejadian di depannya.


"Aku kecewa terhadapmu My princess, aku benar-benar kecewa" ucap sosok itu menatap kecewa ke arah Aruna.


Deg


Mendengar itu Aruna menundukan kepalanya dengan air mata yang telah tumpah dari pelupuk matanya.


"Angkat kepalamu dan katakan kenapa kamu melakukan itu Princess, Kenapa....!" teriak sosok itu menatap tajam Johan.


"Hiiiii tatapannya beh serem kayak si Bos" kata Johan dalam hati yang kini hanya bisa berdiri mematung seperti patung.


"Aku.....ak.....aku hanya mencari kesenangan" jawab Aruna gugup.


Hahahaha


"Kesenangan? kamu mencintainya Princess...!"


"Hapus cintamu untuk pria tak punya hati sepertinya lagi pula dia hanya manusia hina dan lemah sepertinya tidak sepadan dengan kamu"


"WOY APA MAKSUD ANDA MENGATAKAN BOS SAYA LEMAH HA.....?"


Johan yang tadinya berdiri dalam diam langsung emosi saat sosok di depannya itu mengatakan jika Bosnya lemah.


"Emang manusia lemah 'kan?" balas sosok bertudung.


"Ck jaga ucapan anda Nona, anda berbicara seperti itu seakan-akan anda......" kalimat Johan tidak bersambung lagi, suaranya tercekat di tenggorokan melihat hal mustahil di depannya.


"Bagaimana bisa itu......" guman Johan yang tidak percaya akan apa yang dia lihat.


"Ini bukan mustahil tapi memang nyata. kami punya kemampuan khusus yang di takdirkan oleh yang maha kuasa."


Kata sosok bertudung itu dengan memainkan sebuah api kecil di tangannya.


"Dimana Arkana?" Aruna bertanya dengan nada suara yang terdengar parau.


"Kamar 505 yang berada di paling ujung" jawab Johan menatap iba Aruna.


Sedangkan di sisi lain ada Arkana yang bergerak gelisah di dalam kamar. pikirannya terus melayang mengingat senyum Aruna yang begitu indah dan nampak tulus.


"Ada apa denganku? kenapa aku merasakan perasaan gelisah dan tak rela jika Johan melakukan itu kepada Aruna." guman Arkana menatap langit-langit kamarnya.


"Tidak.... itu tidak mungkin aku tidak mungkin jatuh cinta padanya aku hanya merasa kasihan.... ya pasti kasihan." Arkana menggelengkan kepala dengan keras saat tiba-tiba otaknya memikirkan dia jatuh cinta pada Aruna.


"Aku tidak akan jatuh pada lubang yang sama lagi, tidak akan. semua wanita sama saja mereka hanya haus akan Tahta, Harta, dan kekuasaan tidak ada yang tulus mencintaiku seperti ibu."


Arkana tiba-tiba mengepalkan tangannya saat mengingat dia di khianati dua orang yang sangat amat dia sayangi dan percayai namun Arkana menelan pahit akan Penghianatan keduanya di belakangnya.