Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Pria pintar masak


"Berhenti mengomel atau aku sunat kamu" dilan yang memamerkan pisau pemotong daging di depan wajah Arkana yang sudah berubah pucat dengan memegang sesuatu di bawah tanah yang bersembunyi di balik celana.


"Daripada kamu kamu mau ngomong Ada manfaat lebih baik kamu bantu aku memaksakan bubur untuk princess" timpal azilan yang mulai memotong-motong daging ayam kecil-kecil dulu.


"Tapi aku nggak bisa masak. Aku panggilkan kalian saja" kata Arkana yang beranjak berbalik namun di hentikan oleh Jilan.


"Kagak usah" kata Zilan ketus.


"Aruna itu suka pria yang pintar memasak jadi kalau kamu mau dapatkan hatinya ya kamu harus bisa masak dulu" terang Zilan.


Arkana yang mendengar penuturan nuzilan langsung meneguk ludah.


"Kenapa mukanya pucat gitu??" Tanya Zilan dengan nada ejekan namun tidak di tanggapi Arkana.


"Jika Aruna menyukai pria yang bisa memasak maka aku harus belajar dulu. Harusnya pria sinting ini memberitahukan ku dari awal bukan malah karena sudah sadar seperti sekarang baru bilang" gerutu Arkana dalam hati menatap kesal ke arah Zilan.


"Zilan kamu itu kakaknya atau pria saingan aku untuk mendapatkan hati Aruna?" Kesal Arkana.


Pakh


"Sembarangan! Kamu pikir aku sebejat apa? Aku tidak akan saya brengsek seperti asisten gila mu itu yang sangat akan gila dengan lubang " balas Zilan.


"Johan sudah berhenti" Arkana karena sebagai sahabat arkanata terima Jika ada yang menjelekkan Johan walaupun itu adalah kebenarannya.


"Terserah" balas Zilan aku tak acuh.


Setelah perdebatan itu kini kedua pria itu tak lagi membuka mulut hingga mereka diisi dengan keheningan.


"Arkana apa kamu benar-benar mencintai adikku?" Tanya Zilan tiba-tiba setelah terdiam cukup lama.


Arkana yang mendengar pertanyaan dari Zilan langsung tertegun menatap Zilan dengan rumit dan wajahnya yang tadinya begitu santai kini telah berubah menjadi wajah datar.


"Apa kamu belum mempercayai ku? apa kamu juga masih meragukan perasaan ku pada Adik mu?" tanya Arkana datar.


Zilan bukan tidak percaya atau meragukan perasaan Arkana pada Aruna hanya saja keadaannya sekarang benar-benar berbeda bagaimana pun Arkana belum mengenal kepribadian Aruna secara keseluruhan.


"Jika aku tidak mencintai Aruna aku tidak akan bertahan sejauh ini, rela menjadi selir padahal itu kebohongan, rela berperang dengan manusia yang memiliki kekuatan di luar nalar bahkan hampir mati jika aku tidak mencintai aku tidak perlu membantu Ayah mu untuk melawan orang-orang itu."


"Aku akui apa yang aku lakukan di masa lalu mungkin membuat kamu ragu akan perasaan ku namun aku akan menebus semuanya"


"Lalu bagaimana jika Aruna menolak mu?" tanya Zilan menatap serius ke arah Arkana.


"Aku tidak peduli jika dia menolak ku. jika dia menolak ku 100 kali maka aku akan berjuang 101 kali jika dia menolak ku 1000 kali maka aku akan berjuang 1001 kali" jawab Zilan tegas dan yakin.


Zilan yang mendengar jawaban dari Arkana hanya mengukir sebuah senyum tipis di bibirnya.


"Kamu yakin tidak akan menyerah?" tanya Zilan dengan sinis.


"Aku tidak akan menyerah"


"Lalu bagaimana jika Aruna menikah dengan pria lain"


"Aku akan tetap perebutnya jika perlu aku membunuh pria itu" jawab Arkana santai.


Pakh


"Kau pikir nyawa orang itu mainan malah main cabut saja" gerutu Zilan yang memukul kepala Arkana.


"Aku memang akan melakukannya namun sebelum itu aku akan membunuh mu dulu. kamu fikir aku tidak tau rencana apa yang ada di dalam pikiran mu itu" kata Arkana menatap sinis Zilan.


Zilan hanya menggaruk-garuk kepalanya saat Arkana menyebabkan tepat sasaran tentang apa yang ada di dalam pikirannya sekarang.


"Dia siapa?"


Deg