
Setelah beberapa saat kemudian bubur alam buatan zilan telah matang semua. Zilan memindahkan bubur buatannya di sebuah mangkuk lalu mengambil nampan dan segelas air minum.
"Kamu ingin bertemu princess kan?" Tanya Zilan yang menulis ke arah Arkana.
"Sudah tahu mengapa masih nanya sih?" Balas Arkana kesal.
"Sudah kamu ikut aku" kata Zilan
Namun Baru beberapa langkah Zilan kembali berbalik menatap Arkana.
"Ada apa lagi?" Tanya Arkana kepada Zilan yang masih dia mematung.
"Lebih baik kamu mempersiapkan diri terlebih dahulu, Aku tidak mau kamu serangan jantung atau mungkin langsung mati muda nantinya. Ujar Zilan panjang kali lebar.
Arkana yang mendengar itu ingin tertawa namun melihat wajah serius Zilan membuat Arkana mengernyit bingung namun baru saja akan membuka mulutnya untuk bertanya Zilan sudah berlalu menaiki tangga jadi mau tidak mau Arkana hanya bisa mengikuti langkah kaki dari Zilan pria sinting yang tinggal di mansionnya itu.
Ceklek
Aruna yang sedang berbaring menatap langit-langit kamar langsung menoleh ke arah pintu saat mendengar pintu dibuka dari luar.
"Wah aku kebetulan lapar" kata Aruna dengan semangat langsung bangun dari berbaring.
"Makanlah. Kakak ganteng mu ini telah memasakan kamu dengan begitu ikhlas dan penuh sayang tentunya" balas Zilan yang memberikan mangkuk bubur ayam kepada ayam.
"Makanan Kakak bisa di makan kan? nggak seperti sebelumnya yang ada rasa asin bahkan rasa manis?" Kata Aruna yang menatap bubur di tangannya dengan ragu lalu menatap Zilan yang penuh akan wajah bahagia.
"Dari tampilannya sih menarik dan terlihat cantik Namun siapa tahu buburnya asin atau malah manis seperti sebelum-sebelumnya" kata Aruna dalam hati.
Aruna jelas bagaimana rasa makanan Zilan yang dibuatnya dulu titik rasanya begitu asin bahkan rasa manis pun ada padahal yang dia masak adalah nasi goreng.
Sedangkan Zilan hanya bisa menutup mata dengan memasang wajah datar namun yang terjadi sesungguhnya adalah dia sangat-sangat malu apalagi ada sosok lain yang mendengar penuturan dari sang Adik barusan.
Sosok itu tak lain dan tak bukan adalah Arkana yang sedang menahan tawa melihat wajah masam milik Zilan karena rahasianya di bongkar oleh Aruna.
"Baru saja tadi aku dengan bangga mengatakan Aku pintar memasak namun sekarang bahkan harga diriku malah di jatuhkan. Lebih malangnya lagi orang yang menjatuhkan harga diriku adalah adik ku sendiri " kata Zilan dalam hati.
Zilan hanya bisa menghela nafas dengan menebalkan muka saja.
"Princess kamu melewatkan terlalu banyak hal jadi sekarang ada baiknya kamu makan agar mempunyai tenaga nanti" kata Zilan dengan senyum tertekan akan ulah sang adik.
Aruna yang memang lapar dengan ragu menyendok satu sendok bubur itu lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Bagaimana?" Tanya Zilan penuh harap Aruna tidak lagi menyamakan dengan masakan yang lalu.
"Hm. Kamu sudah pintar memasak rupanya, makanan kamu begitu enak" balas Aruna yang mulai makan lahap bubur buatan Zilan.
Zilan yang mendengar komentar sang adik langsung tersenyum bangga dengan membusungkan dada. Sedangkan Arkana yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka berdua hanya mendengus kesal saat melihat Zilan tersenyum penuh kemenangan ke arahnya.
"Dasar pria sinting awas saja kamu. Aku akan belajar memasak dan tentunya membuatkan bubur yang lebih enak daripada bubur buatan kamu itu "kata Arkana dalam hati yang menatap kesal ke arah Zilan
"Emm kamu temannya Zilan? "Tanya Aruna yang menoleh ke arah Arkana.
Sebenarnya sudah sedari tadi awal Aruna merasakan kehadirannya Namun karena terlalu lapar jadi dia mengesampingkan rasa penasarannya dengan mengisi perutnya terlebih dahulu setelah perutnya terisi baru arunan mengajukan pertanyaan kepada Arkana sedangkan Arkana kini berdiri kaku dengan menatap dingin ke arah Aruna yang menatapnya dengan pandangan asin membuat Arkana tertegun.
"kamu tidak mengenalku?" Tanya Arkana dengan suara datar dan dingin.
Bukannya menjawab pertanyaan dari Arkana Aruna malah melempar pertanyaan ke arah Zilan.
"Itu...."
"Tidak heran sih dari wajahnya saja sudah kentara Jika dia adalah pria pemarah dan tentunya pasti galak" potong Aruna yang malah menatap Arkana dari ujung kaki sampai ujung kepala seperti menilai Arkana.
"Apa kamu tidak mengingat ku?" Tanya Arkana sekali lagi. kali ini nada suaranya bukan lagi terdengar datar namun terdengar bergetar menahan sesuatu.
"Ku harap kamu mengingat ku baby" batin Arkana menatap dalam Aruna dengan perasaan yang berkecamuk dalam hati.
Sedangkan Aruna yang mendapat pertanyaan yang sama dari orang asing di depannya hanya bisa mengangkat alisnya satu menatap bingun ke arah Arkana.
"Dengar Tuan, Saya memang cantik semua orang pasti mengatakan saya cantik tapi maaf seribu Maaf saya harus membuat anda kecewa karena saya benar-benar tidak mengenal tuan" terus terang Aruna yang panjang kali lebar.
"Pfft"
Zilan yang mendengar jawaban dan kenarsisan dari sang adik Aruna hampir menyemburkan tawa. dia antara merasa kasihan kepada Arkana dan juga merasa lucu kepada Aruna di saat yang bersamaan.
"Maksudnya?"
"Maksud saya saya tidak mengingat Tuan jangankan mengingat mengenal saja saya tidak. Kan ini pertemuan awal kita Tuan itu pun karena saya tinggal di rumah Tuan "jelas Aruna.
Deg
Arkana yang tak siap mendengar akan hal itu langsung terhubung ke belakang hingga mennubruk dinding.
"Eh tuan" teriak Aruna yang ikut panik.
Zilan yang melihat itu segera bertindak dengan segera mendekati Arkana.
"Princess kami keluar dulu kamu istirahat saja" pesan Zilan yang menyeret Arkana keluar dari kamar Aruna.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Zilan yang menepuk bahu Arkana yang masih terdiam.
"Apa yang baik-baik saja? Aku butuh penjelasan, ikut aku!" Sentak Arkana yang langsung menyeret Zilan menuju ruang kerja miliknya
Bruuk
Sampai di dalam Arkana segera mendorong Zilan hingga tersungkur ke lantai dengan keras.
"Stop jangan memukulku kamu tidak ingin di benci oleh Aruna bukan" kata Zilan cepat yang mencegah Arkana memukulnya.
AAAA
Arkana berteriak kesal dengan memukul-mukul udara kosong dengan rasa kesal yang setengah mati. Tangannya mengepal dengan erat matanya memerah karena menahan amarah dan kekecewaan secara bersamaan. Bahkan nafas Arkana terdengar memburu.
"Jelaskan! Jangan membuat kesabaran ku habis Arkana jika itu habis ku pastikan akan menghajar mu di sini sampai mampus "kata Arkana yang suaranya terdengar sangat datar karena dalam keadaan yang menahan amarah.
"Huuuh"
Zilan berdiri lalu menatap Arkana dengan serius sebelum mulai berbicara Zilan mengeluarkan nafas secara pelan namun berat.
"Aku tahu kamu kecewa, Aku tahu kamu marah, aku tahu apa yang kamu rasakan saat Apa yang kamu lakukan apa yang kamu berikan, dan apa yang kamu korbankan Namun semua itu malah di lupakan. Ini bukan salah mu apalagi salah Aruna ini semua terjadi karena Aruna ingin melindungi diri dari orang-orang yang pernah menyakitinya dan kamu adalah salah satu dari orang yang menorehkan luka yang cukup dalam. Ada sebuah rahasia yang menjadi rahasia yang hanya para keluarga kami yang mengetahuinya yaitu...."