
2 Minggu kemudian
Sudah dua Minggu berlalu namun sosok cantik itu masih terbaring di atas tempat tidur dengan nyenyak tak pernah sedetik pun membuka mata indahnya.
Sosok itu masih nyaman dengan mimpi indahnya hingga tak kunjung bangun. sosok itu tak lain dan tak bukan adalah Aruna Ases De Bora sejak kemenangan mereka melawan kelompok Klan Merah Arkana langsung membawanya pergi dari Negara M.
Flashback
"ARUNA...."
Grep
Arkana bergerak cepat menangkap tubuh Aruna jika tidak maka dapat di pastikan tubuh. Aruna akan jatuh menghantam tanah.
"Zeus cepat kembali, biarkan aku kembali mengambil alih!" suara Arkana menggema dalam pikiran Zeus.
"Ck sabarlah. dasar Bucin" ejek Zeus yang menutup matanya.
"Baby" panggil Arkana menepuk pelan wajah Aruna namun nyatanya Aruna pingsan.
"Lebih baik bawah Princess kembali" ucap Zelan dan Zilan secara bersamaan.
Mendengar itu Arkana langsung menggendong Aruna bridal style mengikuti langkah di Pangeran Zilan yang memasuki istana.
Pangeran Zilan berjalan cepat memasuki istana melewati lorong-lorong hingga sampai di sebuah ruangan yang memiliki pintu berwarna biru.
Ceklek
Tanpa ba-bi-bu Pangeran silang langsung membuka pintu itu yang ternyata adalah ruangan kamar dari Aruna.
"Baringkan di atas ranjang....!"
Arkana yang memang dari tadi berada di belakang Pangeran Zilan langsung menuruti Zilan dengan membaringkan Aruna di atas ranjang biru itu.
"Kamu panggil Dokter istana..... hais aku lupa kamu bukan.... kamu jaga Aruna aku akan mencari Dokter istana dulu" kata Pangeran Zilan dengan panik.
Pangeran zilans segera beranjak berdiri berniat untuk keluar dari ruangan itu namun sebelum mencapai pintu tiba-tiba masuk dua orang, orang asing ke dalam kamar itu.
"Siapa kalian?" tanya Zilan menatap tajam kedua orang di depannya itu.
Arkana yang sedang menggenggam tangan Aruna langsung melepaskan genggamannya lalu berdiri siaga menjaga Aruna yang tak sadarkan diri.
"Kami bukan pihak musuh kami orang dari Tuan Putri Aruna" jawab salah satu orang asing yang berjenis kelamin pria.
Kedua sosok itu tak lain dan tak bukan adalah James dan Arabella. keduanya langsung mengikuti Arkana yang membawa Aruna tadi.
"Berikan ini kepada Tuan Putri" ucap Arabella yang menyodorkan sebuah porselin kecil ke depan Zilan.
Pangeran Zilan yang melihat itu sebenarnya ragu untuk menerima namun karena dia melihat kedua sosok di depannya adalah orang yang membantu arona dalam pertarungan tadi membuatnya sedikit percaya sehingga menerima pemberian wanita di depannya itu.
"Itu apa?"
Bukan Pangeran Zilan yang bertanya melainkan Arkana karena saat ini belum ada orang yang bisa mereka percayai.
Pangeran Zilan yang mendengar penuturan dari arabella ditambah sepertinya wanita di depannya itu tidak berbohong membuat Pangeran membuka porselin itu.
Pangeran Zilan mengernyitkan alis saat melihat obat yang ada di dalam porselin itu.
"Tablet!" beo Pangeran Zilan
"Ya itu berupa tablet tapi pangeran tenang saja tablet itu akan melebur saat bersentuhan dengan air atau air liur jadi Pangeran Zilan hanya perlu memasukan tablet itu ke dalam mulut sang Putri" terang Arabella.
Pangeran mengangguk mengerti lalu berbalik mendekati Aruna lalu membuka mulutnya namun sebelum obat itu masuk ke dalam mulut Aruna tiba-tiba ada orang yang menghentikan tindakan Zilan.
"Tunggu Zilan"
Zelan tiba-tiba masuk dalam kamar Aruna lalu menghentikan tangan Zilan yang ingin memasukan obat itu ke dalam mulut Aruna.
"Ada apa?" tanya Zilan datar menatap tajam Pangeran Zelan.
"Bagaimana bisa kamu mempercayai orang asing begitu cepat?" tanya Pangeran Zelan balik menatap tajam Pangeran Zilan.
"Apa yang di katakan Pangeran Zelan itu benar Pangeran Zilan bagaimana bisa kamu mempercayai mereka secepat itu" timpal Raja Arthur yang sudah berada dalam kamar Aruna di ikuti Aruna.
Mendengar ucapan Raja Arthur dan Pangeran Zelan entah kenapa membuat Pangeran Zilan kesal.
"Lalu apa yang kalian berikan? bahkan memanggil Dokter saja kalian tidak melakukannya" kata Pangeran Zilan dengan sinis.
"Aku akan memanggilkan Dokter istana" timpal Arina yang berbalik untuk memanggil Dokter namun di hentikan oleh Zilan.
"Tidak perlu" ucap Pangeran Zilan lantang menghentikan pergerakan Arina.
"Berikan obat itu padaku" kata Arkana tiba-tiba.
"Untuk apa?" Tanya Pangeran Zilan menatap tajam Arkana.
"Mereka tidak mempercayainya bukan? Jadi biarkan aku yang menjadi uji cobanya jika racun maka biarkan saja aku mati" jelas Arkana yang mengadakan tangannya meminta obat di tangan Pangeran Zilan.
"Baguslah jika kamu mau menjadi kelinci percobaan" ucap Pangeran Zilan dengan santai bahkan tak peduli jika tablet di tangannya itu adalah racun langsung di berikan kepada Arkana.
Arkana yang menerima tablet itu tanpa ragu langsung memasukan tablet itu di dalam mulutnya. beberapa menit kemudian Arkana yang tak merasakan apapun langsung mengangguk samar kepada Pangeran Zilan.
" Jangan becanda, kamu merasakan apa?" sentak Zilan yang menatap tajam Arkana.
"Aku tidak merasakan apapun bodoh selain rasa segar dan tubuh lebih rileks" balas Arkana yang mengepak kepala Pangeran Zilan .
Entah kenapa mereka lebih terlihat seperti saudara walau suka berdebat dan bertengkar. Pangeran Zilan hanya mendengus kesal lalu mengambil satu tablet lagi dan memasukannya ke dalam mulut Aruna.
"Besok pagi-pagi aku akan membawa Aruna pergi dari Negara ini"
Sontak ucapan Arkana membuat semua orang kaget namun belum cukup sampai disitu ucapan Zilan membuat mereka lagi lagi terpaku.
"Aku akan ikut dengan mu" timpal Pangeran Zilan.
"Flashback end