
"Kisahnya sangat Romantis dan penuh perjuangan. Pemeran utama pria bernama Kenzo yang merupakan seorang Mafia sedangkan Pemeran utama wanitanya adalah Alisya gadis yang di perlakukan tidak adil di keluarganya. Mereka bertemu di hutan saat Kenzo di serang oleh musuhnya dan Alisya ini menolongnya. Kamu tahu kisah mereka sangat mendominasi Alisya yang haus akan kasih sayang di dapatkan dari Kenzo pria yang memberi sejuta cinta terhadap Alisya. Bahkan Kenzo sangat meragukan Alisya.... Pokoknya kisah mereka sangat romantis." Ucap Aruna yang tersenyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana sempurnanya hidup Alisya yang begitu di cintai dan di artikan oleh Kenzo Mafia berdarah dingin yang tunduk pada pesona dan cinta Alisya si gadis malang yang di kucilkan dan tak di anggap oleh keluarganya sendiri.
Mendengar kisah itu membuat Arkana mendengus kesal karena istrinya tersenyum-senyum cuma masalah itu.
"Aku juga bisa membahagiakan kamu seperti itu sayang...... Jadi jangan memuji pria lain." Ucap Arkana dengan kesal.
"Beda... Kenzo tuh dari awal sudah cintamah Alisya nggak kayak kamu" Balas Aruna yang menatap sinis Arkana.
"Ya Tuhan aku salah lagi harusnya tadi aku diam saja." Kata Arkana dalam hati.
"Aku memang kejam sayang tapi pliss maafin aku. Kita mulai semuanya dari awal ya, aku janji akan selalu membuatmu nyaman bersamaku." Ungkap Arkana.
"Kamu tidak akan menjual aku lagi seperti waktu itu?" Ucap Aruna dengan mata yang berkaca-kaca.
Deg
Dada Arkana seprti di tusuk ribuan pisau saat mendengar penuturan dari wanita di depannya itu. Apa katanya tadi? Menjualnya? Arkana benar-benar di tampar kenyataan saat kejadian itu di ungkit oleh Aruna.
Apalagi melihat tatapan mata berkaca-kaca manik Aruna membuat Arkana benar-benar sulit walau hanya bernapas saja.
"Ya Tuhan apa yang aku perbuat? Kenapa aku bisa sekejam itu membuatnya dia trauma sebesar ini?" Rasanya Arkana ingin berteriak melampiaskan rasa sakit dan sesak yang di rasakan di dadanya akibat ulah diri sendiri di masa lalu.
"Maafkan aku... Aku memang bodoh. Maafkan aku... Aku janji akan tidak mengulangi hal itu lagi. Aku janji."
"Kamu janji?"
"Jaminannya nyawaku, kamu bisa membunuhku saat itu juga jika aku membuat kamu kecewa lagi. Kami boleh membunuhku saat itu juga aku tidak akan melawan."
Arkana dan Aruna saling memeluk mencurahkan segala isi di dada. Hingga entah siapa yang memulai kedua bibir itu telah bertemu saling ******* satu sama lain.
Ciuman Arkana semakin menuntut membuat Aruna kewalahan. Ciuman itu semakin merambat ke dagu, rahang dan berakhir di leher. Arkana membuat beberapa stempel di leher sang istri membuat Aruna bergerak gelisah di buatnya.
Sretttt
Kain penutup satu persatu terbang melayang entah keana hingga kini keduanya resmi tidak mengenakan apapun lagi.
"Tahan ini mungkin sedikit sakit tapi hanya sementara." Bisik Arkana yang sedang berusaha masuk dalam diri Aruna.
Jleb...
"Sakir...."
"Maaf..." Bisik Arkana yang mengecup kening Aruna.
Setelah memastikan jika Aruna nyaman Arkana mulai menggerakkan dirinya dengan secara pelan namun pasti.
Suara yang berawal dari ringisan kesakitan kini mulai terdengar menjadi rintihan kenikmatan membuat Arkana semakin bersemangat memacu dirinya. Gerakan dulunya pelan dan lambat kini mulai terlihat cepat dan semain cepat dengan peluh yang membasahi keduanya. Bahkan keringat kedua orang itu sudah tercampur tapi Arkana seakan tidak peduli terus memacu dirinya mengejar sesuatu yang sebentar lagi akan meledak.
Malam itu Arkana terus meminta dan meminta hingga tak terhitung berapa kali Arkana menggempur Aruna. Bahkan di saat Aruna tertidur pun Arkana bagaikan orang kehausan terus memacu dirinya dengan lembut hingga jam 4 dini hari baru Arkana benar-benar melepaskan Aruna untuk istrahat.
"Terima kasih dan selamat tidur istriku." Bisik Arkana yang segera menarik Aruna masuk dalam pelukannya. Arkana menutup mata dengan wajah yang berseri-seri.