Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Gelisah


"Aku tidak menyangka di saat pertama kalinya aku ingin mengejar cinta dengan serius tapi malah aku di tolak dengan begitu hina dan rendah." guman Aruna menatap langit-langit kamarnya.


"Arkana Zeus Albarack aku akan benar-benar melupakanmu hingga hati ini tertutup rapat untukmu bahkan jika perlu aku tak ingin menghapus ingatanku tentangmu" kata Aruna dengan kepala tangan yang sempurna dengan menatap tajam ke depan.


Sedangkan di tempat lain Arkana tidak bisa tidur hanya bisa bergerak gelisah di atas ranjang.


"Ada apa dengan ku sebenarnya kenapa aku merasakan perasaan gelisah seperti ini" teriak Arkana Frutasi.


Arkana ingin tidur karna besok ada meeting penting tapi matanya tidak bisa di ajak kompromi setiap menutup mata selalu terbayang tatapan terluka Aruna membuat Arkana merasa frutasi.


Arkana mencoba terlentang lalu menutup mata tapi lagi lagi terjadi hal yang sama yaitu tatapan mata Aruna selalu muncul di pikirannya.


"Entahlah kau dari pikiranku gadis s*Alan..." teriak Arkana bangun dari tidurnya lalu mengacak ranjang hingga ranjang itu kini tak berbentuk lagi.


"Ada apa dengan tatapan matanya kenapa aku harus merasakan perasaan gelisah. dia bukan siapa-siapa untuk ku dia hanya gadis gila yang terus mendekati aku walau aku sudah tolak, dia hanya gadis gila yang terus menempeli ku, dia adalah wanita yang sama saja dengan yang lain mendekatiku hanya karna harta, harta, dan harta." monolog Arkana.


"Tapi kenapa dada ku berdetak seperti ini? bahkan di saat aku masih bersamanya dia bahkan tidak mampu membuatku bergetar seperti ini sedang gadis itu aku merasakan perasaan asing yang tak ku mengerti" kata Arkana dalam hati menatap langit malam.


"Cih apa yang kau pikirkan Arkana? apa kau pikir kau jatuh cinta padanya? aku tidak akan jatuh cinta pada mahluk yang menjijikan itu dia memang tak memanjat ranjang ku tapi dari saja caranya aku sudah tau dia tak lebih baik dari p***cur di luar sana" umpat Arkana.


Arkana yang tidak bisa tidur memilih mengambil Wine lalu membawanya di balkon dan mulai meminumnya sedikit demi sedikit.


...****************...


Matahari dengan indahnya menyinari bumi dengan cahayanya memberikan rasa hangat di pagi hari.


Sinarnya yang hangat masuk dalam kamar hingga membangunkan sosok yang tadinya tertidur lelap.


"Hoam..... sudah pagi ternyata" guman gadis itu yang tak lain dan bukan adalah Aruna yang baru saja bangun dari tidurnya.


Aruna bangun lalu bersandar di kepala ranjang merentangkan kedua tangannya hingga terdengar suara seperti patah tulang. setelah tangan Aruna turun dari ranjang lalu berdiri tegak menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan hingga terdengar suara retakan seperti patah.


Ceklek


"Kamu sudah bangun Princess?"


Delyana masuk kamar Aruna dengan niat untuk membangunkan Aruna namun ternyata Aruna sudah bangun.


"Mandilah aku akan menyiapkan sarapan untuk kita." kata Delyana.


"Iya kak" jawab Aruna yang langsung berjalan menuju kamar mandi.


Delyana hanya tersenyum tipis melihat sifat penurut Aruna. Delyana berbalik kembali keluar dari kamar Aruna.


Beberapa menit kemudian Aruna keluar hanya menggunakan handuk di badannya dan handuk kecil di kepalanya.


Aruna berjalan santai menuju walk in close lalu memilih pakaian yang pas menurutnya. Aruna memakainya lalu segera berjalan ke meja rias mulai mengeringkan rambut panjangnya hingga beberapa saat kemudian pintunya kembali di bukan oleh Delyana.


"Princess ayo turun aku sudah memasakkan kita sarapan" ajak Delyana


"Sebentar lagi kak rambutku belum kering" balas Aruna yang lagi mengeringkan rambutnya pakai handuk.


Kenapa bukan hairdryer karna Aruna tidak menyukainya menurutnya itu bisa membuat rambutnya kering dan bercabang.


"Biar aku keringkan" kata Delyana yang langsung mengambil handuk di tangan Aruna lalu mulai menggosok-gosokkan handuk itu di rambut Aruna dengan secara lembut dan berulang kali.


Setelah sekitar 3 menit rambut Aruna sudah mulai kering. Delyana meletakkan handuk itu lalu mengambil sisir dan mulai menyisir rambut pandang Aruna.


"Nah sudah rapi. ayo kita turun makan." kata Delyana menarik lembut Aruna sedangkan Aruna hanya diam mengikuti langkah Delyana.


Sampai di meja makan tersaji 2 porsi nasi goreng untuk menu sarapan mereka berdua.


"Makanlah" ucap Delyana lembut meletakkan Dpiring nasi goreng yang terlihat banyak udang di atasnya ke depan Aruna.


"Kenapa punya mu udangnya hanya sedikit?" kata Aruna menatap piringnya lalu piring Delyana bahkan porsi nasinya saja lebih banyak dia.


"Tidak apa-apa aku tidak menyukai udang" jawab Delyana mulai memakan nasi gorengnya.


Sesungguhnya Delyana berkata bohong dia bukan tidak menyukai udang tapi udang adalah salah satu kesukaan Aruna yang masih di ingat jelas oleh Delyana dan di kulkas udang hanya sedikit jadi dia memberikannya hampir semua ke piring Aruna sedangkan di piringnya hanya sekitar 5 ekor saja.


"Bukankah Kakak juga suka makan udang?" kata Aruna memindahkan 2 ekor udang di atas piring Delyana.


"Sekarang tidak lagi" jawab Delyana serius kembali memindahkan udah ke piring Aruna.


Aruna sudah memanggil Delyana dengan panggilan kakak setelah mendengar nama asli Delyana yaitu sejak tadi malam.


Sedangkan di tempat lain di sebuah istana megah yang terletak di tengah-tengah kotak terlihat seorang pria paruh baya yang terus menginstruksi cara kerja para pelayan dan prajurit.


Kerajaan yang memiliki warna perpaduan antara warna biru dan putih. kerajaan yang terlihat cantik dan indah karna mengikuti perkembangan zaman hingga menjadi kerajaan ala modern.


"Eh eh apa yang kalian lakukan? cepat kalian pasang kalung bunga warna biru itu di pinggir pegangan tangga."


"Pelayan jangan pasang disana itu tidak akan terlihat, Letakkan saja di depan sana"


"Hey....! semudah ku bilang jangan campurkan warna apapun di tangga itu kecuali warna biru"


"Jadikan bunga warna kuning itu sebagai dekor di atas sana..."


"Astaga aku lupa Princess suka bunga Lily dan sekarang belum ada bunga itu" Guman pria paruh baya menepuk jidatnya.


"PENGAWAL...... PELAYAN......." teriak pria paruh baya itu memanggil pengawal dan pelayang.


"Yah Yang Mulia"


Beberapa orang pria yang berseragam seperti pengawal datang menghadap di ikuti beberapa orang wanita yang pasti seorang pelayan.


"Ambilkan bunga Lily di taman belakang istana pastikan yang paling indah dan cantik" titah pria paruh baya itu.


"Siap Yang Mulia"


Para pengawal dan beberapa orang pelayan segera berlari menuju taman belakang istana karna disana hampir semua bunga di tanam terutama bunga Lily dan Tulip karna itu bunga kesukaan jantung kerajaan Blue.


"Aduh bagaimana ini bisa-bisa persiapan tidak selesai dan Princess sudah datang" kata Pria paruh baya itu