
Waktu terus berputar hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan tak terasa sudah 6 bulan peristiwa dimana Aruna menghilang membuat seorang pria yang dulunya tidak percaya akan cinta dan ketulusan mulai merasakan kembali apa itu perasaan sayang.
Sosok dulunya yang tidak akan percaya lagi akan perasaan kini harus merasakannya di saat waktu yang terlambat.
Arkana Zeus Albarack sosok itu adalah dirinya yang begitu kejam dan membenci wanita kini semakin membenci kecuali sosok itu sosok yang sudah 6 bulan ini dia rindukan. sosok yang siang malam dia impikan, sosok yang dengan begitu mudah membuatnya merindu dengan gila, sosok yang membuatnya semakin mencintainya walau tidak berada di sisinya, sosok yang datang membawa warna namun juga sosok yang membuat harinya semakin hampa.
Aruna Ases itu adalah sosok yang begitu Arkana rindukan . sosok yang datang dengan terang-terangan datang mengejar cintanya namun Arkana malah menolaknya mentah-mentah.
"Aku hanya berharap kamu benar-benar tidak akan pernah mencintaiku jika itu terjadi aku bersumpah kamu harus menyebrangi tujuh lautan dan berjalan di atas bara api"
"MENYEBRANGI TUJUH LAUTAN DAN BERJALAN DI ATAS BARA API"
"MENYEBRANGI TUJUH LAUTAN DAN BERJALAN DI ATAS BARA API"
"MENYEBRANGI TUJUH LAUTAN DAN BERJALAN DI ATAS BARA API"
"AAAAAAAA" teriak Arkana langsung mengamuk dengan menghamburkan segala sesuatu yang berada di dalam itu.
PRANG.....
PYARR.......
BUGH........
BRAKK.....
"JOHAN......." teriak Arkana membahana hingga sampai keluar dari ruangan.
Ceklek
"I......iya Bos" jawab Johan dengan napas yang tersengal-sengal.
"Bagaimana?" tanya Arkana datar tanpa memperdulikan ruangannya yang berantakan seperti kapal pecah.
"Apa lagi maksud dari pertanyaan si Bos dah, kok makin hari Bos tambah aneh saja sih saya mana ngerti dengan satu kata itu Bos"
Ingin sekali Johan teriak melayangkan protesnya kepada Bos sekaligus sahabatnya itu yang menurutnya semakin hari semakin aneh dan gila.
"Johan....." teriak Arkana menatap taja Johan karna tidak menjawab pertanyaan dirinya.
"I...iya Bos" jawab Johan gugup.
"A....apa.....nya yang ba... bagaimana Bos" kata Johan terbata-bata dengan keringat dingin membanjiri punggung dan dahinya sebesar biji jagung.
"Apalagi kalau bukan tentang Aruna" bentak Arkana menatap Nyalang.
"Huh sabar Jo..... entah kenapa Bos malah semakin galak saja dan sialnya aku terus yang kena sial." gerutu Johan dalam hati menarik napas lalu mengeluarkannya secara pelan.
"Sampai saat ini belum ada kabar dari Nona Aruna Bos. Nona Aruna seakan-akan hilang bagai di telan bumi tanpa meninggalkan jejak apapun." terang Johan.
"Bagaimana tidak ada jejak Johan dia bukan hantu atau malaikat yang bisa menghilang begitu saja" sentak Arkana marah-marah.
"Dia memang bukan Hantu atau Malaikat tapi di sisi gadis itu ada seorang penyihir dan aku yakin ini pasti ada hubungannya dengan gadis penyihir itu tapi tubuhku selalu seperti terbakar saat aku akan mengatakan tentangnya kepada Bos" jawab Johan dalam hati.
"Bagaimana bisa cara kerja kalian seperti ini, ini sudah 6 bulan tapi belum ada hasil apa-apa" bentak Arkana kepada Johan yang hanya bisa diam menunduk dalam.
"Maaf Bos" ungkap Johan kepada Arkana.
Johan tidak tau harus seperti apalagi mencari keberadaan gadis itu tapi Johan bahkan sudah mengerahkan seluruh kemampuannya dan juga sudah mengutus anggota BD (Black Diamond) Nama kelompok mafia Arkana.
Johan sudah mengutus anggota BD untuk mencari ke beberapa negara tapi sampai saat ini belum ada hasil apa-apa.
"Cari sampai dapat bahkan jika harus ke seluruh dunia maka lakukan" titah Arkana semakin datar dan dingin bahkan wajahnya kini semakin menakutkan dengan tanpa ekspresi itu.
"Baik Bos" jawab Johan patuh karna hanya itu yang bisa dia lakukan.
"Aku tidak mengerti kenapa di saat Nona Aruna masih mengejar dan mengharapkan cinta mu kamu malah membuangnya bahkan dengan seenak jidat mu kamu melemparnya ke atas ranjang ku lalu sekarang, di saat dia sudah pergi kamu mencarinya seperti orang yang kesetanan. disini apa bisa aku simpulkan jika kamu bukan merasa bersalah melainkan mencintainya" kata Johan di depan wajah Arkana.
"Kamu....." baru saja Arkana mau melanjutkan perkataannya namun sudah di potong oleh Johan.
"Aku berbicara padamu sebagai sahabat Arkana bukan sebagai bawahan. kau tau karna status bawahan mu itu membuat ku selalu takut berhadapan dengan mu" gerutu Johan.
Arkana diam menatap Johan yang sedang menatapnya juga. Arkana terlihat menarik napas lalu mulai mengeluarkannya.
Arkana berjalan di sofa lalu duduk disana di ikuti oleh Johan di belakangnya lalu duduk pas di depannya saat ini.
"Apa perlu aku katakan lebih jelas?" tanya balik Arkana yang lebih tenang daripada tadi.
"Aku benar-benar mencintainya namun aku terlambat menyadari akan hal itu"