
"NO. Aku hanya mencintai Nare yaitu TUNANGAN KAK ARINA"
Deg
Tubuh Arkana terhuyung ke belakang saat mendengar pengakuan dari Aruna. selama ini Arkana begitu yakin terhadap perasaan Aruna yang tak akan berubah padanya. Walau dia lupa ingatan tapi Arkana yakin Aruna akan kembali mencintainya Namun mendengar pengakuan barusan membuat Arkana benar-benar di tampar kenyataan.
"Tidak mungkin..." Guman Arkana yang menggelengkan kepala menolak percaya akan pengakuan yang di ungkapkan Aruna barusan.
"Ini tidak mungkin"
"Apanya yang tidak mungkin? Dari kecil aku hanya mencintainya. Namun aku harus mengalah karna Kak Arina juga menyukainya" terus terang Aruna.
Tanpa Arkana sadari untuk beberapa detik tatapan Aruna menjadi sendu sebelum kembali menatap Arkana tenang seperti orang asing.
"Jadi kamu tidak percaya jika kamu mencintaiku?" tanya Arkana yangasih berusaha membuat Aruna mengingatnya.
Arkana yakin apa yang di tujukan Aruna 1 tahun yang lalu bukanlah sebuah kebohongan jelas Arkana bisa merasakan itu. tatapan Aruna waktu itu penuh cinta dan ketulusan tapi kenapa baru sekarang dia sadar akan hal itu.
"Aku tidak mengingat mu sama sekali. bagaimana bisa aku mencintai orang asing?" ucap Aruna dengan suara rendah.
"Namun aku berkata jujur selama ini aku tidak pernah mencintai orang lain selain Nare. Aku memang menyukai pria tampan tapi aku hanya menyukai mereka bukan mencintai mereka" cicit Aruna yang semakin menundukan kepalanya tak sanggup melihat raut wajah Arkana yang begitu menyedihkan.
Tes
Tanpa di minta air mata Arkana jatuh dari pelupuk matanya hingga membasahi pipinya. Di tatapnya Aruna yang kini menunduk dalam tanpa berani mengangkat kepalanya.
kaki Arkana lemas seperti tak punya tulang mengetahui kenyataan yang benar-benar menampar dirinya. kenyataan yang begitu memukulnya namun tak bisa menerima akan hal itu hingga membuatnya jatuh berlutut di depan Aruna.
BRUKK
"Kana" pekik Aruna kaget.
"biarkan aku begini sebentar saja" ucap Arkana dengan suara serak memeluk perut datar Aruna.
mendengar nada suara saja Aruna bisa menebak dengan tepat jika Arkana tengah menangis. tiba-tiba saja dada Aruna terasa sesak membuatnya menangis dalam diam.
"Kenapa aku harus menangis" ucap Aruna dalam hati.
Hiks hiks
Arkana yang dapat merasakan jika badan Aruna sedikit bergetar langsung melepas pelukannya. Mendongak melihat Aruna yang tengah menangis dalam diam. Namun air mata terus membanjiri pipi cabi gadis itu.
"Stttt kenapa menangis hm? apa aku menyakitimu?" tanya Arkana lembut.
tangan Arkana terulur menyibak rambut Aaruna. menghapus air mata dari wanita yang dicintainya itu.
"Jawab aku! apa aku menyakitimu?" tanya Arkana lagi yang terus menghapus air mata Aruna yang terus keluar tiada henti.
"A....aku hiks..... ti...tidak ta...tau hiks di....sini sa...sakit" kata Aruna yang memukul-mukul dadanya sendiri.
Dak
Dak
Sett
"Sudah cukup! jangan sakiti diri kamu lagi." ucap Arkana yang menahan tangan Aruna.
"Tapi ini... sakit hiks...."
Grep
"Maafkan aku."
Arkana memeluk Aruna dengan erat menepuk nepuk bahu sang gadis. Kedua insan itu menangis dalam keadaan masing-masing meluapkan rasa sesak di dada.
"Apa aku melewatkan banyak hal?" tanya Aruna di sela-sela tangisannya.
"Hm sedikit" jawab Arkana yang mengecup kepala Aruna.
"Apa bisa kamu menceritakan tentangku jika aku pernah bersamamu?"
"Kamu ingin mendengarnya?"
"Ya"
"Tak apa Aku siap"
"Ya sudah kita duduk di sofa saja" kata Arkana yang langsung menggendong koala Aruna menuju Sofa.
"Kamu siap?" tanya Arkana yang di balas Anggukan kepala oleh Aruna.
"Aku tidak tahu? Apa setelah menceritakan semuanya Aruna akan membenciku atau tidak? Namun aku akan memulainya semua dari awal. cinta tak harus menyembunyikan apapun bukan?" kata Arkana dalam hati yang menatap dalam Aruna.
Arkana sudah bulat akan menceritakan masa lalu dia dan Aruna tanpa peduli apa resiko dari kejujurannya itu. Namun Arkana tetap Arkana jika dia bilang A maka A, jika dia bilang B maka B tak ada yang bisa mengubah keputusannya.
Arkana sudah siap apabila Aruna membencinya yang paling utama adalah kejujuran pikir Arkana.
Huh
Huh
Terlihat beberapa kali Arkana menarik napas mempersiapkan diri tentang apa yang akan terjadi ke depannya.
"Aku dan kamu........."
Arkana mulai bercerita dari pertemuan awal mereka di kala itu. bagaimana Aruna mengejar cintanya dengan gigih. NamunArkana mengacuhkan semua itu. Entah berapa kali Arkana memakai dan menghina Aruna sebagai wanita murahan yang terus menempelnya seperti perangko.
Arkana menceritakan semuanya tanpa menutupi semuanya ralat tinggal satu lagi yang belum Arkana ungkap.
Air mata Aruna sudah membanjiri pipinya sedari tadi. Namun dengan serius mendengarkan cerita dari Arkana.
"Hingga akhirnya kita menjadi sepasang kekasih" kata Arkana dengan suara tercekat.
"Dan disitu pula aku mulai merasakan getaran itu. Namun dengan bodohnya aku menyangkal akan rasa itu" lanjut Arkana dalam hati.
Aruna yang mendengar pengakuan Arkana langsung tersenyum manis dengan mata yang berbinar-binar.
"Tatapan itu....? tatapan yang sama saat 1 tahun yang lalu" Guman Arkana.
"Lalu kenapa kita berpisah dan...... Aku berakhir tidak mengingatmu?" tanya Aruna menatap dalam Arkana.
Deg
Mendengar pertanyaan itu membuat Arkana menegang tangannya langsung berkeringat dingin. Namun dia tidak ingin menyembunyikan apapun lagi dari Aruna.
"Kita menjadi sepasan kekasih hanya 1 Minggu Aru, itupun karna sebuah Taruhan" ucap Arkana pelan namun bisa di dengar Aruna.
Terlihat Aruna yang menutup mata dengan air mata yang semakin deras di pipinya.
"Tidak hanya itu a....aku..... aku bahkan.... melempar KA...kamu di Ra....ranjang Johan" kata Arkana dengan suara yang benar-benar tercekat.
Dhuaarrrr
Dada Aruna benar-benar sesak mendengar penuturan dan kebenaran itu dari Arkana. hatinya benar-benar hancur sehancur-hancurnya hingga berkeping-keping. Aruna tak menyangka cintanya bahkan lebih mengenaskan di banding dengan cintanya pada Nare dulu.
"Aku tau aku salah. jika kamu membenciku silahkan, jika kamu ingin memukulku bahkan membunuhku silahkan tapi aku mohon jangan pergi. Aku bisa saja kehilangan semuanya tapi aku tidak bisa kehilangan kamu," mohon Arkana dengan duduk di bawah Aruna.
Maksudnya tuh Aruna duduk di sofa nah si Arkana duduk di lantai di depan Aruna.
"Apa kamu mencintai aku?" tanya Aruna yang berubah datar dan dingin.
"Demi Tuhan... aku benar-benar mencintaimu jika kamu meminta nyawaku akan aku berikan asalkan aku mati dalam pangkuanmu" kata Arkana sungguh-sungguh.
Mendengar itu Aruna hanya diam menatap ke arah lain. Jauh di lubuk hatinya Aruna sedikit terharu dengan pengakuan Arkana. Namun mendengar cerita Arkana tadi membuat Aruna menolak tidak percaya akan hal itu.
"Kamu tidak mempercayai ku?" tanya Arkana dengan menatap Aruna yang enggan menatapnya.
"Baiklah akan aku buktikan"
Kata Arkana yang menarik pisau di bawah meja lalu di arahkan di pergelangan tangannya.
PRANG
"APA KAMU GILA HA.....? JIKA KAMU MATI MASALAH SELESAI BEGITU? DASAR BOSOH" teriak Aruna yang mengamuk alku keluar dari ruangan Arkana.
Deg
"Aru...."