Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Aruna ketus


Aruna yang tengah tertidur di bangunkan oleh cahaya matahari yang masuk menyinari wajahnya. Kelopak mata itu perlahan-lahan mulai terbuka hingga sempurna.


"Aku dimana?" Guman Aruna yang melihat ruangan asing di matanya.


"Kamu di mension kita sayang." Suara berat itu tiba-tiba masuk ke dalam pendengaran Aruna membuat gadis itu menoleh ke arah asal suara.


"Mension?"


"Yah kita di mension kita, kamu lupa jika tadi malam kita langsung terbang?"


Mendengar itu ingatan Aruna kembali pada kejadian tadi malam. Selesai bahkan belum selesai Aruna dan Arkana langsung pergi dari pesta itu. Kedua orang itu terlalu sibuk dan malas mengurus orang yang sangat pandai menjilat.


Malam itu juga Arkana mengajak Aruna untuk terbang. Ternyata Arkana telah menyiapkan semuanya dengan menyuruh Johan untuk mengirimkan pesawat pribadi ke negara M.


"Sudah ingat?"


"Hm" Aruna hanya membalas dengan deheman saja membuang muka ke arah lain.


"Makanlah." Arkana meletakkan sepiring nasi goreng di atas meja nakas.


"Aku belum memaafkan kamu!" Kata Aruna ketus.


Arkana yang mendengar jawaban ketus dari Aruna hanya bisa menggigit bibir menahan senyum. Baginya Aruna sangat menggemaskan dengan wajah dan ekspresi seperti itu.


"Aku tahu, makanlah aku telah memasarkan kamu dengan penuh cinta."


"Cih.... Aku tidak makan cinta."


"Aku tahu kamu tidak makan cinta tapi makan nasi." Balas Arkana dengan menahan senyum.


Aruna yang merasa kalah telak langsung bangun dan menarik kasar piring nasi goreng itu lalu mulai makan.


"Bagaimana? Emak?" Tanya Arkana menatap Aruna penuh harap.


Aruna yang sedang mengunyah makanan langsung menelannya dan memasang wajah datar.


"Biasa saja keasinan." Jawab Aruna ketus.


Satu suap, dua suap, suap demi suap Aruna memakan nasi goreng buatan Arkana. Hingga beberapa menit nasi goreng di atas piring itu ludes tak tersisa.


"Katanya tidak enak, kok habis?" Goda Arkana yang menaik turunkan alisnya.


"Lapar." Jawab ketus Aruna, "Air!" Lanjut Aruna yang meminta air.


Arkana hanya bisa menggigit dalam-dalam pipinya menahan bibirnya untuk tidak melengkung.


"Silahkan Ratuku." Arkana menyodorkan segelas air putih kepada Aruna. Aruna langsung mengambilnya lalu meminumnya sampai tandas. Setelah habis Aruna kembali memberikannya pada Arkana.


Aruna menatap sinis Arkana sebelum kembali berbaring menarik selimut sampai leher lalu menutup mata kembali.


"Kamu ingin tidur lagi sayang?" Tanya Arkana yang melihat jika Aruna kembali menutup mata.


"Sudah tahu nanya lagi! Sudah sana pergi aku mau tidur, ngantuk!" Balas Aruna.


Arkana segera keluar membawa piring kotor bekas makan istrinya sedangkan Aruna gadis itu sudah menuju alam mimpinya. Selang beberapa menit kemudian Arkana kembali dalam kamar mereka. Matanya menatap intens Aruna yang tengah tertidur.


Arkana mendekat duduk di samping Aruna yang tertidur lelap. Tangannya terulur merapikan helaian rambut yang menghalangi wajah Aruna. Di tatapnya penuh cinta wajah gadis yang telah mencuri dan mengisi hatinya yang kosong.


"Aku tahu mungkin tak mudah memaafkan ku, tapi aku akan berusaha membuat kamu memaafkan ku karna aku yakin cinta itu masih ada untukku." Monolog Arkana.


Cup


Arkana mengecup lembut pelipis Aruna sebelum masuk ke dalam kamar mandi karna hari ini dia harus ke kantor.


30 menit kemudian semua telah selesai Arkana terlihat rapi dengan baju formalnya. Sebelum keluar Arkana berjalan mendekat ke arah Aruna yang masih tertidur.


"Aku berangkat kerja dulu, aku akan pulang cepat hari ini." Bisik Arkana yang lagi lagi mengecup pipis Aruna.


Klik


Aruna yang pura-pura tidur langsung membuka matanya. Matanya menatap dalam pintu yang tertutup sebelum beranjak turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah beberapa menit Aruna keluar dari kamar mandi langsung menuju walk in close mencari pakaian yang di kenakan.


Tak


Tak


Tak


Suara langkah kaki Aruna yang menuruni tangga. Mension itu terlihat sepi tidak ada siapapun tapi Aruna bodoh amat dengan hal itu. Aruna melangkah di ruang Tv lalu menyalakan TV mencari saluran yang bagus.


"Butuh cemilan Nya?"


Aruna yang sedang fokus menonton langsung terlonjak kaget saat suara itu mengkagetkan dirinya.


"Ibu siapa?" Tanya Aruna yang menatap heran wanita paruh baya di depannya itu.


"Saya Bi Aty pelayan di mension ini Nyonya." Jawab pelayan itu.


"Ooh."


"Mau buatkan cemilan Nyonya?" Tanya pelayan itu lagi.


"Tolong ya Bi." Ucap Aruna yang melempar senyum.


BI Aty hanya tersenyum ternyata istri dari Tuannya itu berbeda dengan wanita lain yang begitu Arogant dan sombong saat menjadi Nyonya kaya.


"Tunggu sebentar ya Nya."


BI Aty dengan langkah cepat segera menuju ke dapur untuk membuatkan cemilan buat Nyonya mudanya itu.


Sedangkan di tempat lain Arkana hanya bisa menghela nafas melihat tumpukan berkas yang berada di atas mejanya.


"Keluarlah!" Usir Arkana kepada Johan.