Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Markas


"Mau sampai kapan Bos sibuk dengan benda lipat itu, Markas kita di serang Bos"


Srekk.....


Arkana yang lagi fokus pun langsung berdiri dari kursi kebesarannya menatap tajam Pria di depan yang merupakan sekretaris sekaligus tangan kanannya di dunia bawah.


"Kita berangkat" kata Arkana.


Arkana berjalan dengan langkah lebar kelur dari perusahaan di ikuti oleh Johan di belakangnya.


Sampai di mobil Arkana tak menunggu Johan membukakan pintu untuknya namun dia langsung masuk dalam mobilnya.


Johan masuk di jok kemudi lalu segera menghidupkan dan menjalankan mobilnya menuju markas.


Sampai di markas mereka Black Diamond markas mereka telah bersimpahkan darah dengan tumpukan mayat baik anggota mereka atau anggota dari musuh mereka.


"MANA KETUA BLACK DIAMOND SURUH DIA KELUAR JANGAN JADI PECUNDANG YANG HANYA BERSEMBUNYI DI KETIAK PARA BAWAHANNYA INI" teriak pria yang sedang memenggal kepala anggota Black Diamond.


"Siapa yang kau sebut pecundang bung"


Tiba-tiba terdengar suara berat dan serak yang berasal dari belakang tubuh pria itu hingga pria itu spontan membalikkan badannya.


"Siapa kau?" tanya sosok pria itu menatap tajam Arkana.


"Cih bukankah kau baru saja Mengumpati ku dengan sebutan pecundang lalu kenapa sekarang kau bertanya siapa aku?" tanya Arkana balik tersenyum sinis ke arah pria di depannya itu.


"Ka....kau ketua Black Diamond?" kata pria itu tergagap.


"Sudah terlihat jelas kenapa masih bertanya?" kata Arkana datar dan dingin menatap tajam pria di depannya.


"Sial... bukan kah mereka bilang jika ketua Black Diamond adalah Kakek tua lalu ini apa? sial mereka berani-beraninya menipu ku rupanya" batin pria itu mengepalkan tangan menahan amarah karna merasa di tipu oleh kliennya.


Sedangkan Arkana mengedarkan pandangannya tangannya langsung mengepal saat melihat banyak anggotanya yang terluka dan mati di tempat membuat darah Arkana mendidih.


"Kalian yang mencari ku maka jangan salahkan aku jika membabat habis kalian semua" desis Arkana menatap Nyalang musuh di depannya.


"BUNUH MEREKA SEMUA" teriak Arkana keras yang membuat anggota Black Diamond kembali bangkit dan menyerang musuh.


Hiiyaaaaaaaa


Dor


Dor


Bugh


Brak


Trang


Sret


Kedua kubu akhirnya saling menyerang satu sama lain. Anggota Black Diamond menyerang musuh di depan mereka dengan brutal layaknya raja hutan yang sedang mengoyak habis tubuh mangsanya.


Beberapa menit kemudian kini di depan Kenzo di penuhi akan lautan darah dan tumpukan musuh yang sudah terkapar tak berdaya tanpa nyawa.


Anggota Arkana Black Diamond bersorak ramai karna memenangkan perang itu. sedangkan kubu lawan kini hanya tertinggal Ketua mereka saja yang masih bernapas.


"Ampuni saya Tu....tuan saya ter......"


Class


kalimat orang itu langsung terpotong saat katana Arkana menebas kepalanya hingga terputus dari tubuhnya.


Kenapa Katana? Arkana juga tidak tau dirinya yang suka pistol tiba-tiba menyukai katana hingga sudah 1 tahun ini Arkana akan bertarung menggunakan katana di banding pistol walau pistol itu selalu berada di sakunya.


"Kok di bunuh Bos itu kan dia belum bilang siapa dalang semua ini" kata Edward menatap heran Arkana.


"Tapi Bos..."


"Lagi pula mod ku sedang buruk gara-gara b*j*Ngan ini pekerjaan ku di kantor harus aku tunda" lanjut Arkana menatap sinis badan pria di depannya yang tanpa kepala.


"Johan" panggil Arkana.


"Iya Bos" jawab Johan cepat berdiri di depan Arkana.


"Bereskan semua ini. anggota kita kalian kubur dengan layak dan kirim kompensasi kepada keluarga mereka masing-masing sedangkan anggota musuh kalian kumpulkan dan bakar jasad mereka" titah Arkana.


Kejam? Sadis? tak berperasaan? Yah itulah Arkana sosok yang paling di takuti di dunia bawah. terkenal akan kekejamannya yang tiada Tara bahkan mampu membunuh ibu hamil jika berani mengusiknya.


Johan dan Edwar hanya saling melirik lalu menghela napas menatap malas tumpukan mayat tubuh bahkan anggota tubuh mereka sudah tidak utuh lagi harus Johan Dan Edward kumpulkan.


Sedangkan di sisi lain Aruna bersama Kakak-kakaknya dan Delyana baru saja sampai di istana yang langsung di sambut oleh Raja Arthur dan Ratu Sofia.


"Salam Ayahanda" salam Aruna dan si Kembar secara bersamaan.


"Salam kalian ku terima putra dan putri" balas Raja Arthur.


"Salam Ibunda" Lanjut Aruna dan si kembar kepada Ratu Sofia.


"Salam Yang Mulia" salam Delyana menundukan kepalanya ke arah Raja Arthur dan Ratu Sofia.


"Salam mu kami terima Sang pelindung" balas Raja Arthur.


"Istirahatlah kalian semua pasti lelah dari perjalanan jauh. kita akan berkumpul pada makan malam nanti" ucap Raja Arthur mengelus kepala Aruna dengan Sayang.


"Baik Ayahanda"


"Baik Yang Mulia"


Selesai berpamit mereka berempat menuju tempat atau kamar mereka masing-masing untuk beristirahat.


Di tempat lain Arkana kini melepaskan semua pakaian yang melekat pada tubuhnya lalu berdiri di bawah guyuran shower.


Beberapa menit kemudian Arkana berjalan keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang di lilitkan pada pinggangnya menutup area pribadi miliknya.


Arkana berjalan dengan santai menuju walk in close memilih pakaian untuk dia kenakan. setelah selesai memakai pakaian Arkana membuka sebuah lemari agak kecil ternyata isinya adalah semua merek dan model jam tangan.


Kedua mata Arkana terpaku pada jam tangan berwarna hitam yang berada di kotak kaca. jam tangan itu terlihat begitu menawan dan elegan.


Kedua tangan Arkana terulur meraih kotak kaca itu. tangannya bergetar saat menyentuh kotak kaca itu bahkan matanya kini telah memerah karna menahan suatu air mata.


Arkana berjalan menuju ranjang lalu duduk di sudut ranjang dengan pandangan yang tak lepas dari kotak di tangannya.


"Ternyata kamu disini" Guman Arkana menatap kotak kaca jam tangan itu penuh kerinduan.


"Sudah lama aku mencari mu, aku fikir aku telah membuang mu" guman Arkana lagi.


Arkana memeluk kotak kaca itu dengan sayang dan mata yang menumpahkan air mata. bukan air mata bahagia tapi air mata penuh penyesalan dan penuh kerinduan secara bersamaan.


Jam tangan yang berada di dalam kotak kaca itu adalah pemberian pertama dan terakhir Aruna di hari pertama mereka berkencan. dulu Arkana acuh akan benda itu tapi setelah Aruna pergi Arkana mencari benda itu seperti orang gila tapi tak pernah menemukannya.


Arkana tak menyangka jika benda yang dia cari selama ini ternyata berada di dalam kamarnya yang berada di markas.


"Mulai sekarang aku akan memakai pemberian mu baby dan aku tak akan pernah melepasnya jika bukan kamu yang melepasnya" kata Arkana.


Arkana membuka penutup kotak kaca itu dengan hati-hati lalu mengambil jamnya dan memakainya di pergelangan tangannya dengan penuh senyuman namun matanya menumpahkan air mata.


"Lihat ini sangat cocok di pergelangan tangan ku andaikan kamu disini dan bisa melihatnya kamu pasti akan sangat bahagia 'kan baby" kata Arkana dengan terkekeh lirih.


Malam harinya seperti yang di katakan Raja Arthur tadi sore jika mereka akan bertemu di meja makan. kini semua anggota kerajaan telah berkumpul di meja makan untuk makan malam.


"Mari kita makan" kata Raja Arthur lalu mulai makan di ikuti yang lain.