Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Kegelisahan Arkana


"Lalalalala"


Dengan langkah lebar penuh senandung kecil masuk dalam mension itu di ikuti Zilan di belakangnya.


Wajah Aruna begitu berseri-seri masuk ke dalam mension membuat seseorang yang sudah menunggu kedatangannya langsung berdiri dengan mengembangkan senyumnya namun senyum pria itu langsung pudar berubah masam saat Aruna melewatinya begitu saja bahkan melirik saja tidak.


Pria itu tak lain dan tak bukan adalah Arkana, Arkana yang bertekad akan mengejar cinta Aruna bahkan pulang jam 5 sore agar cepat bertemu dengan sang pujaannya itu namun harapan tinggal harapan karna itu harus kandas setelah sampai di mension tidak ada siapa-siapa selain beberapa pelayan yang bertugas pada sore hari.


Arkana menatap punggung Aruna yang semakin menjauh dengan wajah masam lalu di baliknya menatap Zilan yang berjalan lesu dan terlihat begitu lelah.


"Ada apa dengan Aruna, Zi?" tanya Arkana kepada Zilan.


Zilan yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung kesal namun baru membuka mata tiba-tiba pikiran jahat muncul hingga Zilan tersenyum licik.


"Bertemu cogan di taman" jawab Zilan santai berlalu pergi.


"Tunggu dulu" cegah Arkana. "Apa itu Cogan?" tanya Arkana yang tidak tau apa arti dari kata itu.


"Dasar kampungan, sudah kampungan Kuno lagi, Cogan itu artinya cowok ganteng" balas Zilan yang alngsung mengeluarkan tanduknya.


"I....itu artinya...."


"Iya Princess habis bertemu dengan pria tampan, Princess juga menyukai pria tampan itu"


"APA....."


"Berisik..!"


"Bagaimana bisa...."


"Ya bisa lah! kau fikir di dunia ini hanya kamu yang tampan. cih entah mata Princess yang katarak atau bagaimana bisa-bisanya dia jatuh cinta pada wajah pas-pasan seperti mu" kata Zilan yang ketus beralih pergi meninggalkan Arkana.


Arkana yang melihat Zilan meninggalkannya segera ikut naik menuju kamarnya. sampai di kamar Arkana bukannya tidur malah mondar mandir seperti setrika. terlihat beberapa kali Arkana menarik napas dalam-dalam namun semua sia-sia saja.


AAAAAAARGH


Arkana memukul-mukul udara kosong dia benar-benar kalang kabur sekarang apalagi di kepalanya selaku terngiang-ngiang ucapan Zilan yang mengatakan Aruna bertemu dengan pria tampan di taman dan Aruna juga menyukai pria itu.


"Bagaimana bisa Aruna begitu cepat melupakan ku dan berpaling pada pria lain?"


"Walau dia lupa ingatan tidakkah jantungnya berdebar kencang saat bersama ku?"


"Tidak.... ini tidak bisa di biarkan aku harus menyingkirkan siapa pun yang menjadi saingan ku."


Arkana hanya bisa mengomel sendiri dan tentunya Ujung-ujungnya kesal sendiri. Arkana mengacak-acak rambutnya hingga berantakan memikirkan Aruna jalan dengan pria lain langsung membuat amarah Arkana meledak-ledak.


"Aku pernah mencintai tapi aku tidak segila ini. Aruna andaikan waktu itu aku mempercayai hati ku mungkin sekarang kita sudah menjadi sepasang kekasih atau mungkin sudah memiliki bayi." guman Arkana yang menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.


"Semua ini memang berawal dari kesalahan ku, aku terlalu menatap rendah kamu hingga sekarang mungkin karma untuk ku. oleh karena itu, aku akan berjuang dengan keras agar bisa meraih kembali hati dan cinta yang mungkin sudah mati di hari Aruna" ucap Arkana yang penuh akan tekad yang kuat.


Sedangkan di tempat lain terlihat dua orang pria yang sedang berdebat. kedua pria itu tak lain dan tak bukan adalah Brayen dan Rigel mereka berdua lebih tepatnya Rigel yang mengajak Brayen untuk bertengkar.


"Yen kamu gila ha....? Dia seorang putri Raja negara M bahkan dia sudah punya kekasih dan lebih gilanya lagi dia lebih tua darimu" kata Rigel dengan kesal.


"Aku tak peduli!"


"Brayen.... sadar kamu akan bersaing dengan dengan Tuan Arkana pengusaha nomor 1 di negara ini"


"Dia memang akan menjadi saingan sekaligus yang akan mempersatukan kami"


HAHAHAHAHAHA


Rigel yang mendengar penuturan dari Brayen alngsung tertawa terbahak-bahak apalagi saat mendengar jika Tuan Arkana yang akan mempersatukan mereka, itu benar-benar membuat perutnya terasa geli.


"Apa kata mu? mempersatukan kamu dan dia.....? hahahah mana ada saingan cinta yang akan mempersatukan wanita yang dia amat cintai dengan orang lain" kata Rigen dengan tawa yang masih terdengar di sela-sela kalimatnya.


"Pegang ucapan ku, Tuan Arkana sendiri yang akan mengantarkan jodoh ku di atas altar untuk ku" Ucap Brayen dengan tegas dan yakin.


Rigen langsung terdiam dengan tubuh kaku yang menatap dalam Brayen yang duduk santai dengan wajah datar miliknya. Namun kebungkaman Rigen hanya sementara sebelum dia langsung tertawa terbahak-bahak di lantai.


Hahahaha


"Gila.... kamu sudah benar-benar gila Yen hahaha.... astaga.... kasihan sekali nasib mu kawan hahahah"


"Tertawalah sepuas mu namun, ingat kata-kata ku dengan baik. Tuan Arkana yang akan mengantarkan jodoh ku di Altar" kata Brayen serius dan tegas.


Deg


Selesai berkata seperti itu Brayen segera pergi meninggalkan Rigel yang kini berdiam mematung.


"Apa dia....sungguh-sungguh akan terjadi" Guman Rigel.


Sedangkan di dalam kamar, Brayen kini menatap rembulan malam yang begitu bersinar terang malam ini.


"Aku akan menunggumu Sweetie..'