
Aruna yang merasa bosan di mension memutuskan untuk keluar mencari udara segar dengan jalan-jalan.
"Aish aku baru ingat kan aku tidak mempunyai uang sama sekali. Gimana mau keluar coba? Uang sepersen pun tidak ada." Gerutu Aruna yang baru sadar jika dirinya tidak memiliki uang sama sekali.
"Lihat aku bahkan tidak mempunyai nomor ponselnya." Aruna hanya bisa mendengus kesal akibat dari kebodohannya yang tidak meminta nomor ponsel Arkana selaku suaminya sendiri.
Aruna segera menarik kunci mobil yang berada di atas meja yang sudah di yakini jika Arkana sengaja meletakkan benda itu.Dengan wajah datar Aruna keluar dari kamarnya menuju lantai satu. Aruna berencana untuk menyusul ke perusahaan Arkana.
Aruna segera masuk ke dalam mobil menjalankannya meninggalkan mension. Sepanjang jalan wajah Aruna selalu di tekuk dan berwajah masam entah karena apa.
Setelah berkendara beberapa menit akhirnya Aruna sampai di perusahaan Arkana,. Aruna turun dari mobil lalu segera masuk ke dalam perusahaan Albarack Company.
Ceklek
"Arkana....!" teriak Aruna saat membuka pintu.
Deg
Orang yang sedang bercengkrama dengan Arkana langsung menegang mendengar suara itu. Dengan kepala yang patah sosok itu menoleh ke arah pintu asal suara.
Mata sosok itu langsung membulat saat melihat wajah sosok yang di depan pintu itu yang sudah lama ia cari-cari keberadaannya.
"Sayang....." Arkana yang melihat kedatangan Aruna langsung berdiri berjalan mendekat ke arah Aruna.
Tanpa malu Arkana memeluk Aruna di depan beberapa koleganya. Sedangkan Aruna gadis itu bukannya membalas justru wajahnya semakin masam.
"Ada apa dengan wajahmu sayang? Kenapa terlihat begitu masam?" Tanya Arkana yang heran kenapa wajah dari istri tercintanya itu justru terlihat masam seperti itu.
"Aku butuh uang! Kamu bahkan tidak memberikan aku uang sepersen pun. Ponsel juga aku tidak punya." Kata Aruna dengan wajah cemberut.
Arkana yang mendengar keluhan Aruna hanya bisa meringis. Arkana benar-benar sudah menyiapkan dan meletakkan black card di dalam laci meja rias kamar mereka. Namun, kenapa gadis itu datang meminta uang padanya?
"Sayang aku sudah meletakkan beberapa black card untukmu." Kata Arkana dengan lembut.
"Tapi tidak ada! Aku tidak menemukan apapun." Balas Aruna seperti anak kecil yang sedang merajuk kepada ayahnya.
"Sekarang berikan!" Aruna dengan enteng mengadakan tangannya di depan Arkana meminta uang.
Arkana hanya bisa tersenyum melihat ulah dari wanita yang di cintai itu. Arkana segera merogoh saku celananya mengeluarkan dompet miliknya. Dengan enteng Arkana memberikan kartu hitam kepada Aruna membuat beberapa orang di dalam sana terheran-heran dengan identitas dari gadis kecil di depan mereka itu.
"Aku pergi dulu!" Kata Aruna dengan ceria berbalik namun di hentikan suara seseorang.
"Tunggu...!" teriak seseorang yang mencegah kepergian Aruna.
Aruna yang sudah berbalik terpaksa kembali berbalik menghadap Arkana. Sosok yang menghentikan Aruna berdiri mendekati Aruna yang hanya diam dengan memiringkan kepalanya menatap intens sosok wanita yang mendekatinya itu.
"Nona Calista tolong menjauh dari nona Aruna!" Ucap Johan yang menghentikan langkah kaki dari sosok wanita dewasa yang ingin mendekati Aruna.
"Tidak akan!Aku tidak akan membiarkan kamu menyakiti Nona ku." Kata Johan yang tetap kekeuh pada pendiriannya.
"Yang mau menyakitinya siapa sialan? Aku hanya mau berbicara dengannya.Aku sudah lama mencari keberadaanya." Kata Calista yang menatap Aruna dengan pandangan yang sulit di artian.
Arkana yang mendengar itu sontak langsung membawa Aruna ke dalam pelukannya. Menyembunyikan Aruna dari pandangan Calista.
"Tuan Arkana aku mohon tolong izinkan aku berbicara padanya. Aku..... Aku merindukannya." Ucap Calista yang menatap Aruna yang berada di dalam pelukan Arkana.
Melihat tatapan putus asa itu membuat Arkana luluh melepas pelukannya dari tubuh Aruna.
"Lepaskan!" Kata Arkana yang menyuruh Johan melepaskan Calista.
"Tapi Bos...."
"Aku tidak akan menyakitinya aku berjanji. Jika aku menyakitinya kalian bisa membunuhku hari ini juga." Potong Calista yang bicara begitu serius dan tegas pada setiap ucapannya.
Johan yang menahan Calista tertegun dan melepaskan Calista begitu saja. Wanita itu bahkan tanpa keraguan menjaminkan nyawanya dengan mudah hanya karna ingin berbicara dengan Aruna.
"Gadis kecil kamu tidak mengingatku?" Calista bertanya dengan mata yang berkaca-kaca akan tetapi bibirnya menyunggingkan senyum.
Aruna yang mendapat pertanyaan seperti itu jelas langsung mengerutkan alis. Dia memang tidak mengenal wanita di depannya. Namun, wajah wanita itu tidak asing di matanya.
Cukup....! Aruna malas untuk berpikir memutuskan untuk membuka suara.
"Siapa?" Tanya Aruna dengan suara datar dan dingin menatap penuh selidik kepada sosok wanita dewasa di depannya.
"Kamu tidak mengingatku? Tapi tak apa. Aku Calista wanita yang kamu selamatan 2 atau 3 tahun lalu di jalan Xy yang hampir di perkosa" Ucap Calista yang mengulurkan tangan ke depan Aruna. Tak lupa memberi senyum manis di bibirnya.
Aruna yang mendengar penjelasan dari Calista ingatannya langsung berputar pada kejadian sekitar 3 tahun lalu saat dirinya menolong seorang wanita yang hampir di perkosa oleh para preman.
"Itu kau?" Ucap Aruna setelah terdiam cukup lama.
"Yeah itu aku." Jawab Calista yang tersenyum manis.
"Kamu banyak berubah dari 3 tahun lalu." Ucap Aruna yang memperhatikan Calista dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Itu karna kamu..."
Grep
Calista yang tak tahan langsung memeluk membuat Arkana dan Johan membulatkan mata. Namun, kedua pria itu tidak bisa berbuat apa-apa aat melihat kode dari Aruna sendiri.
"Terima kasih telah menolongku waktu itu. Terima kasih telah membuatku sadar apa yang aku lakukan itu salah. Terma kasih telah menyadarkan aku dan membuatku menjadi lebih baik. Aku berubah demi kamu juga agar nanti saat bertemu denganku kamu tidak malu saat aku berdiri dan berjalan di sisimu." Ungkap Calista yang masih terus memeluk Aruna.