
"Kak Ze....!" pekik gadis itu langsung membuang katana di tangannya sembarang arah lalu berlari ke arah pria yang memanggil namanya.
"Jangan berlari princess" teriak Pria itu panik.
Grep
"Aru kangen sama Kak Zelan" kata gadis itu manja.
"Kakak juga kangen sama Princess" balas pria itu.
Kedua sosok pria itu adalah saudara kembar Zelan dan Zilan sedangkan kedua gadis itu adalah Aruna dan Delyana.
"Cih disini aku yang terluka dan sudah sekarat princess tapi kenapa kamu malah pergi ke arahnya" protes Zilan melihat Aruna memeluk Zelan di banding dirinya.
"Padahal aku sengaja mengajaknya bertarung jika aku terluka dia akan merawat ku" kata Zilan dalam hati menatap kesal Zelan.
"Cih mana mau Princess memeluk kamu, lihat tuh badan kamu penuh darah" balas Zelan tersenyum sinis ke arah Zilan.
"Ckk sial" umpat Zilan membuang muka.
"Sudahlah. Kak Zilan mending bersihkan luka Kakak sana di sungai" kata Aruna menunjuk ke arah depan.
"Hm baiklah" pasrah Zilan berjalan ke arah yang di tunjuk oleh Aruna.
Jika Zilan berjalan menuju sungai maka Aruna dan yang lainnya menuju sebuah gubuk di tengah-tengah hutan.
Gubuk? tengah hutan?
Aruna dan Delyana telah pindah dan tinggal di hutan selama 1 tahun. Aruna memilih tinggal di hutan daripada di istana karna di hutan dia akan berlatih dengan bebas dan lawannya sebagai latihan adalah hewan buas. dengan adanya hewan buas Aruna berpikir akan mempertajam kepekaan dan kecepatannya dan itu terbukti selama setahun berlatih di hutan kecepatan dan kepekaannya terhadap keadaan sekitar semakin pesat bahkan Indra pendengarannya begitu tajam yaitu langkah kaki di 1 kilo pun dia bisa mendengarnya.
Selain itu ada beberapa hal yang lebih leluasa di latih di dalam hutan daripada di istana Yanga kan semakin memancing musuh berdatangan.
Sedangkan Delyana sebagai pelindung dari Aruna dia akan ikut kemana pun Aruna pergi. Delyana juga punya alasan tertentu kenapa menyuruh Aruna untuk berlatih di hutan di banding di istana.
Beberapa menit kemudian terlihat Zilan ikut bergabung bersama mereka.
Aruna yang melihat udah pun langsung menatap penuh minat dan matanya di penuhi bintang.
Melihat itu semua orang langsung terkekeh kecil. sekeras apapun dan seberapa besar pun Aruna berubah bagi Zilan dan Zelan, Aruna tetaplah adik mereka yang kecil, adik mereka yang tetap manja dan selalu menggemaskan.
Mereka semua mulai makan dalam khidmat tanpa mengeluarkan suara yang mereka keluarkan selain suara dentingan sendok yang saling bersahut-sahutan.
Beberapa menit kemudian mereka semua sudah menyelesaikan acara makan mereka masing-masing.
Kini mereka duduk di depan gubuk yang selama ini di tinggali oleh Aruna dan Delyana.
"Kapan kamu akan kembali ke istana Princess" tanya Zelan.
"Aruna akan ikut kalian, lagi pula pelatihan Aru sudah selesai iya'kan Kak?" kata Aruna melirik Delyana.
"Ya sudah selesai" sahut Delyana singkat.
"kamu serius Princess?" tanya Zilan memastikan.
"Ya Aru serius Aru akan langsung pulang ke istana" ucap Aruna yakin.
...----------------...
Di tempat lain seorang pria begitu fokus pada leptop di depannya tanpa menyadari jika ada yang masuk ke dalam ruangannya.
Pria itu tak lain adalah Arkana Zeus Albarack yang sedang fokus mengerjakan pekerjaannya.
"Mau sampai kapan Bos sibuk dengan benda lipat itu, Markas kita di serang Bos"
Srekk.....
Arkana yang lagi fokus pun langsung berdiri dari kursi kebesarannya menatap tajam Pria di depan yang merupakan sekretaris sekaligus tangan kanannya di dunia bawah.
"Kita berangkat" kata Arkana