Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Hancur


Deg


Arkana yang berada di pojokan hanya bisa menutup mata dengan tangan yang menggenggam erat gelas di tangannya.


"Kini kamu telah di ikat oleh pria lain baby" batin Arkana menatap sendu Aruna yang tengah tersenyum bahagia di atas sana.


Arkana hanya bisa menutup mata dan menuliskan telinga saat melihat dan mendengar teriak-teriakan para orang-orang di sekitarnya mengucapkan selamat kepada Aruna sebagai Putri Mahkota dan Jendral Naren.


Dada Arkana terasa begitu sesak rasanya seperti di hujan beribu-ribu belati menyaksikan pertunangan orang yang dia cintai sendiri di depan mata. Rasanya dunia Arkana hancur berkeping-keping namun ia tidak bisa berbuat apa-apa bahkan ia tak sehancur ini saat mantan kekasihnya dulu meninggalkannya namun sekarang dia benar-benar hancur.


Tanpa Arkana sadari air matanya tanpa sadar keluar dari kelopak matanya yang tertutup napasnya memburu dan tubuhnya bergetar bukan karna amarah namun karna menahan sesak di dadanya.


"Bos baik-baik saja?" Johan yang melihat keadaan Bosnya segera menepuk pundak Arkana membuat pria itu membuka mata dan menoleh ke arah Johan.


Untuk sesaat Johan tertegun saat melihat mata Arkana memerah dan di pipinya sedikit basah dan Johan tau jika itu adalah bekas air mata.


"Kamu duduk disini tunggu sampai acara selesai aku akan kembali ke ruangan istrahat" ucap Kenzo menepuk pundak Johan.


Selesai mengatakan itu Arkana langsung beranjak berdiri lalu pergi dari acara tidak ada yang mencegahnya karna dia adalah salah satu tamu undangan spesial yang di undang langsung oleh salah satu pangeran.


Arkana berjalan melewati lorong-lorong istana Blue dengan pandangan mata yang kosong hingga sampai di kamar yang telah di siapkan untuknya di istana blue.


Kenapa Arkana tinggal di istana karna dia dan Johan datang bersama Sang Putri jadi Sang Raja memberi mereka kamar istrahat di dalam istana.


Sampai di kamar Arkana langsung menuju jendela berdiri mematung menatap bulan yang bersinar terang di langit.


Tak bisa menahan rasa sesak Arkana menuju meja yang lalu menuangkan sebuah Wine yang telah siapkan. satu, dua bahkan sampai seterusnya Arkana terus menuangkan wine itu di gelas lalu meminumnya dengan satu kali tegukkan.


"Kamu benar. kamu ibaratkan sama seperti bulan, indah dan bersinar dak aku.... aku ibaratkan bintang yang bersinar di antara ribuan bintang yang mengelilingi kamu" kata Arkana yang sudah setengah sadar.


Sedangkan di tempat lain Johan baru balik ke kamar setelah acara selesai sampai di kamar bukannya langsung naik ke atas ranjang lalu tidur tapi Johan malah pergi ke jendela menatap bulan di atas sana.


Ha.....


Terdengar Johan mengeluarkan napas secara kasar dengan meremas rambutnya kasar.


"Rasa ini......? rasa ini tak seharusnya ada tapi kenapa aku merasakan sesak? harusnya rasa ini tidak aku rasakan padanya yang jelas8 wanita yang di inginkan oleh Sahabat ku sendiri tapi aku tidak bisa mengelak aku benar-benar jatuh cinta sama gadis itu" ucap Johan dengan pelan.


Johan tak pernah jatuh cinta tapi untuk pertama kalinya dia jatuh cinta pada sosok itu. sosok yang begitu tiada lelah mengejar cinta dari sahabat sekaligus Bosnya, sosok yang terus menyebarkan senyum manis nan tulus hingga di malam itu dia melihat dengan langsung tatapan mata yang begitu menyedihkan, kekecewaan, keputusasaan, dan kesakitan yang luar biasa mampu memporak-porandakan hati Johan.


Sosok itu tak lain dan tak bukan adalah Aruna atau identitas Asli Aruna Ases De Bora sosok cantik yang begitu memikat.


Tapi Johan tak ingin egois dengan merebut kebahagiaan dari sahabatnya sendiri. melihat betapa usaha Arkana hampir 2 tahun mencari Aruna dengan gila Johan dapat menebak jika Cinta Arkana kepada Aruna lebih besar daripada dengan mantan kekasihnya yang dulu.


Apalagi setelah melihat Arkana tadi yang begitu menyedihkan dengan menjatuhkan air matanya membuat Johan paham jika Arkana benar-benar hancur.


"Aku akan membuat kalian bersatu Bos, aku janji" ungkap Johan yakin