Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Kekasih


Aruna yang sedang melamun memikirkan langkah apa yang harus dia ambil ke depannya di sadarkan dengan Ponselnya yang di atas meja bergetar.


Drett


Drett


Drett


Aruna yang malas bergerak hanya melirik lalu membiarkan ponselnya terus bergetar namun ponselnya itu tidak berhenti bergetar membuat Aruna mau tidak mau harus berdiri menghampiri ponselnya.


"Hallo?"


"Maaf tadi saya sedang ada di toilet"


"Ada apa?"


"Baguslah itu akan lebih baik para wanita tua tidak perlu bekerja berat cukup bekerja di dalam gudang itu."


Tok


Tok


Tok


Aruna yang sedang fokus berbicara di telfon langsung mematikan sepihak dan memperbaiki penampilannya.


"Masuk" teriak Aruna yang fokus dengan berkas di tangannya.


Ceklek


Tak


Tak


Tak


"Aroma ini" guman Aruna yang langsung melirik orang yang berdiri di sampingnya.


Sret


"Tuan" pekik Aruna yang refleks berdiri hingga jarak keduanya begitu dekat.


Deg deg deg


"Jantungku......" jerit Aruna dalam hati menatap pahatan sempurna di depannya.


"Kamu benar-benar menyukaiku?" tanya Sosok itu dengan suara berat yang tak lain dan tak bukan adalah Arkana.


"Jawablah" desis Arkana yang mengukung tubuh Aruna di antara dirinya dengan meja.


"Iya aku menyukaimu bahkan mencintaimu" ungkap Aruna menatap dalam mata jernih Arkana.


"Hm" Aruna hanya berdehem tidak jelas lalu menganggukkan kepala berulang kali.


"Aku juga menyukaimu" bisik Arkan di telinga Aruna.


Aruna yang mendengar bisikan Arkana langsung membulatkan mata lalu pipinya menjadi merah semerah buah tomat sedangkan Arkana tersenyum dingin melihat Aruna yang mudah tersipu.


"Tapi kenapa kamu tadi...." ucapan Aruna terhenti karna jari telunjuk Arkana menyentuh bibirnya.


"Aku minta maaf kamu tau kan aku tidak ingin urusan pribadi aku di ketahui orang" potong Arkana.


"Aku lupa jika Arkana mempunyai sifat yang menutup diri dari orang lain bahkan sahabatnya sendiri" kata Aruna yang mengerti akan keadaan Arkana.


"Kamu mau'kan menjadi kekasihku?" ungkap Arkana menatap lembut bola mata Aruna.


Untuk sesaat Aruna tertegun mendengar penuturan Arkana yang jauh dari ekspektasinya. seakan lupa dengan apa yang barusan di dengarnya Aruna dengan wajah penuh senyuman langsung menganggukan kepala.


"Aku mau. mau banget malah" jawab Aruna dengan bahagia.


"Baiklah lanjutkan kerjanya aku keluar dulu baby" kata Arkana meniup pelan kuping Aruna membuat Aruna semakin merona.


Setelah Arkana keluar baru Aruna tersadar lalu meraba dan menepuk pipinya berulang kali.


"Aku... aku jadi kekasihnya?" guman Aruna dengan senyuman manis.


"AAAAAAA IBUNDA AKU PUNYA KEKASIH" teriak Aruna melompat-lompat seperti anak kecil.


Tanpa Aruna sadari keputusannya ini yang akan membuatnya kecewa dan mengubah jalan takdirnya di masa depan.


Sedangkan di tempat lain terlihat sosok bertudung menatap jengah Leptop di depannya yang menampilkan kelakuan seorang gadis yang tengah melompat-lompat seperti kelinci. gadis yang melompat-lompat itu tak lain dan tak bukan adalah Aruna.


"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan Princess kenapa otak jenius milikmu malah menjadi bodoh karna cinta" guman sosok bertudung geleng-geleng kepala.


"Tapi tak apa aku akan selalu melindungi mu seperti janjiku waktu itu. aku akan segera kembali ke sisi mu menjadi pelindungmu yang terkuat My princess" kata Sosok bertudung.


Sosok bertudung itu langsung menutup Leptop lalu berbalik menghadap sebuah sungai kecil di depan sana.


"Tak terasa sudah 9 tahun aku pergi meninggalkan mu tanpa kabar. tak terasa 9 tahun pula aku hidup di hutan ini." guman Sosok itu menatap sekelilingnya.


"Kau merindukannya ***?"


Tiba-tiba saja masuk seorang Kakek tua lengkap dengan tongkatnya di dalam ruangan yang sama dengan sosok bertudung.


"Apa perlu aku jawab Kek? tanpa di jawab pun Kakek tau aku sangat merindukannya hanya saja......" Sosok bertudung tidak lagi melanjutkan kalimatnya sosok itu hanya memandang sendu ke depan sana.


"Pergilah ***.... kekuatan kamu sekarang sudah cukup untuk melindungi sang putri pilihan. jangan pikirkan Kakek karna Kakek sebentar lagi akan berpulang." kata Kakek tua itu menatap dalam sosok bertudung.


"Apa maksud kakek?" tanya sosok bertudung itu kaget akan ucapan sang Kakek tua.


"Setiap manusia dan seluruh mahluk hidup akan berpulang pada yang menciptakan mereka *** itu adalah jalan takdir yang di atur oleh Tuhan." jawab Kakek tua itu bijak.