Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
MCSM


"Baby bangun...." Bisik Arkana pada Aruna yang masih tertidur lelap.


"Aku sudah masak makanan enak lho ini. Ayo... Bangun sayang..." Bisik Arkana yang menepuk pelan pipi Aruna.


Aruna yang masih asyik tertidur mulai terganggu hingga kelopak matanya dengan pelan mulai terbuka sempurna.


"ADa apa?" Tanya Aruna dengan suara serak orang baru tidur.


"Makan dulu sayang nanti kamu lapar..." Ucap Arkana yang membantu Aruna untuk bangun.


Tak sampai disitu Arkana dengan penuh kelembutan merapikan dan menyisipkan helain rambut Aruna di belakang telinga. Agar saat dia makan rambutnya tidak menghalanginya.


"Masih mengantuk hemmm...?" Tanya Arkana lembut saat melihat mata Aruna yang masih sangat berat.


"Hm yah." Jawab lesu Aruna.


"Makan dulu setelah itu kamu boleh tidur kembali." Ucap Arkana dengan penuh perhatian.


"Aku suap ya aaa....."


Dengan masih menutup mata Aruna membuka mulutnya makan dengan keadaan yang matanya tertutup. Setelah selesai makan dan minum Aruna langsung berbaring kembali di atas ranjang.


Arkana yang melihat itu hanya tersenyum tipis. Arkana tidak marah karna semua juga ulahnya sendiri. Arkana tahu jika istrinya itu kelelahan karna perbuatannya. Dengan langkah ringan Arkana berjalan masuk dalam kamar mandi dengan keluar membawa wadan kecil yang berisikan air.


Dengan penuh rasa cinta dan penuh perhatian Arkana mulai menglap tubuh Aruna.


Sedangkan di kantor Johan telah di sibukkan dengan banyaknya pekerjaan yang harus dia selesaikan. Dari pembangunan pronyek, meeting, dan rapat lainnya Johan semua yang handle mengingat Bosnya lagi ***-*** membuat Johan tak punya nyali untuk mengusik sang bos.


Huhhhhhh


"Akhirnya setelah sekian lama...." Johan menghembuskan napas lega saat sampai di ruangannya.


Duduk diam dan mendengarkan penjelasan yang berbeda-beda dari setiap divisi membuat kepala Johan rasanya panas. Apalagi saat ada beberapa laporan yang tidak sesuai dengan data di komputer atau data aslinya membuat kepala Johan asanya mau meledak.


"Ck... Ck..... Ck.... Gitu saja sudah mengeluh."


Johan yang mendengar suara orang dalam ruangannya langsung duduk tegap dengan mata yang terbuka sempurna sejak tadi yang tertutup rapat.


"Kamu..... Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Johan yang menatap tajam sosok Calista yang duduk tenang di atas sofa dalam ruangannya.


YUPS.....


Sosok lain yang ada di ruangan itu tak lain dan tak bukan adalah Calista membuat Johan heran bagaimana bisa Calista masuk dalam ruang kerja miliknya.


Jika orang lain mungkin akan ketakutan. Namun, berbeda dengan engan Calista yang sepertinya biasa saja dengan intimidasi dari Johan.


"Sejak tadi." Jawab santai dari Calista yang justru dengan enteng menyandarkan dirinya di kepala sofa.


"Jadi kamu....'


"Yups aku melihat dan mendengar apa yang kamu katakan tadi." Potong Calista dengan santai tidak menakutkan apapun.


"Untuk apa kamu kemari?" Johan bertanya dengan menatap dalam Calista.


"Hentikan tatapan jelekmu itu. Jangan berpikir aneh-aneh aku tidak mungkin datang kemari karna aku menyukaimu. Aku datang kemari karna aku ingin bertemu dengan gadis kecil. Dimana dia? Di ruangan Tuan Arkana bukan? Ayo... Temani aku." Ucap Calista yang berdiri menenteng tasnya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Johan datar.


"Menemui Gadis kecil di ruangan Tuan Arkana." Jawab Calista yang sudah beranjak pergi.


"Dasar bodoh! Nona Aruna tidak ada di perusahaan mereka ada di mension," Ucap Johan sinis.


"Lho kok gitu?"


"Mereka habis malam pengantin." Jawab Johan ketus yang memperhatikan wajah Calista yang nampak biasa tidak seperti wajah wanita lainnya yang akan memerah jika sudah berbicara hal kebutuhan batin.


"Oh lagi buat debayi ternyata... Baguslah biar aku mempunyai keponakan yang cantik." Balas Calista yang biasa saja duduk di sofa kembali.


Johan yang melihat itu tentu saja heran. Kenapa Calista tidak tersipu malu saat membahas akan hal itu.


"Kamu tidak malu? ATAU MEMERAH BEGITU?" Teriak Johan yang menatap heran pada Calista.


"Untuk apa? Bukankah hal itu hal wajar bagi di bahas orang dewasa." Terang Calista engan santai.


Hahhh


Johan benar-benar menjatuhkan rahangnya saat mendengar penuturan dari Calista yang benar-benar tidak berefek padanya sedikitpun.


"Berikan Nomor ponsel Tuan Arkana!" Pinta Calista yang menyodorkan tangannya di depan Johan.


"Untuk apa?"


"Mau aku ajak selingkuh kan lumayan jadi simpanannya."


Deg